
Ting nong ..
Suara bel yang terdengar menandakan ada tamu yang datang. Ara yang baru saja sampai di ujung tangga berniat pergi ke ruang makan untuk menaruh piring bekas sarapan yang tadi sempat di antar oleh pelayan rumahnya menghentikan langkah dan menatap ke arah pintu depan.
Ting nong ..
Suara bel kembali berbunyi, namun tidak ada seorangpun dari ketiga pelayan di rumahnya yang bergegas membukakan pintu. Ara bergegas menaruh piring bekas sandwich nya ke meja makan dan segera pergi ke depan guna membukakan pintu.
Pintu pun di buka dengan lebar dan muncul sosok pria di balik pintu. Ara melenguh menghembuskan napas lelah. Kenapa ia harus di pertemukan lagi dengan pria itu?
"Aku datang ke sini bukan karenamu, tapi karena calon istriku," ucap Derga seakan tahu apa yang ada di dalam pikiran Ara saat ini.
"I know. Tapi sepertinya calon istrimu sedang tidak ada di rumah. Dia sedang pergi. Jadi pergilah dan datang lain kali saja." usir Ara ketus.
Derga menahan pintu yang hendak di tutup oleh Ara.
"Aku akan menunggunya di sini sampai calon istriku pulang."
"Hah?" Ara terkejut di buatnya.
"Kenapa? Keberatan? Ini rumah orang tuamu, bukan rumah milikmu pribadi. Dan sebentar lagi aku akan menjadi menantu pemilik rumah ini. Jadi tidak ada salahnya aku latihan berlama-lama di sini."
__ADS_1
Ara benar-benar tidak habis pikir dengan cara berpikir pria itu.
"Tidak bisa. Momy, daddy, dan kak Ana sedang tidak ada di rumah. Aku sarankan lebih baik kau pergi dan datang setelah kak Ana kembali. Akun tidak ingin ada kesalahpahaman di sini."
"Why? Kau takut kejadian malam itu terulang lagi?"
Pertanyaan itu membuat degup jantung Ara serasa terhenti. Kenapa juga dia harus membahas kejadian yang ingin sekali ia lupakan.
"Kau tenang saja. Aku sudah bilang jika hanya sebuah kesalahan. Dan kesalahan tidak akan lagi di ulang."
Derga menerobos masuk dan melewati Ara begitu saja. Pria itu bahkan duduk tanpa di minta.
"Dasar manusia tidak sopan," umpat Ara.
Gadis itu hendak pergi dari sana. Namun, panggilan Derga membuat langkah Ara terhenti sebelum benar-benar pergi.
"Kinara!"
Iris mata Ara melebar mendengar pria itu memanggil nama panjangnya.
Ara menoleh ke arah pria itu.
__ADS_1
"Kau pasti bingung kan kenapa aku bisa mengetahui namamu?" tanya pria itu.
"Mungkin kak Ana pernah mengatakan jika dia punya adik dengan nama yang hampir sama dengannya," tebak Ara.
Derga menyunggingkan sebelah sudut bibirnya lalu bangkit berdiri menghampiri Ara. Pria itu berdirit tepat di hadapan gadis itu.
"Calon istriku pernah mengatakan jika dia punya adik perempuan. Tapi dia tidak pernah menyebutkan siapa namanya."
"Lalu kau darimana tahu namaku?"
"Itu tidak penting."
Derga kembali duduk di tempat tadi. Sementara kalimatnya barusan menciptakan rasa penasaran besar bagi Ara.
"Duduklah, temani aku di sini selama calon istriku belum pulang."
Permintaan Derga barusan mengingatkan Ara lagi pada malam itu.
"Aku mohon jangan pergi, temani aku di sini."
Sepenggal kalimat sebelum kemudian kejadian mengerikan itu terjadi. Ia menatap pria itu yang melemparkan senyum padanya.
__ADS_1
_Bersambung_