
Ara berlari kecil menuju gerbang dan melihat gerbang tidak di gembok. Tentu saja itu menjadi kesempatan yang bagus untuknya.
Gadis itu menoleh ke arah kiri, lalu ke kanan. Ia melihat seorang pria melambaikan tangan padanya. Ia tersenyum lalu menghampiri pria tersebut.
"Aman?" tanya pria itu.
"Aman," jawab Ara.
Pria itu terdengar menghela napas lega setelah sebelumnya ia sedikit tegang lantaran khawatir rencananya gagal. Ia merogoh ponsel dan mendial nomer seseorang di sana.
"Misi sudah selesai."
Hanya tiga kata yang pria itu ucapkan di telepon. Sebelum kemudian ia memasukan ponselnya kembali ke dalam hoddie dengan warna yang sama dengan hoddie Ara.
"Kita bisa pergi sekarang?" tanya Ara memastikan dan mendapat anggukan dari pria tersebut.
"Iya. Ayo."
Ara masuk ke dalam mobil bersama pria itu. Sedetik kemudian mobil pun sudah melesat dari sana.
__ADS_1
Sementara sales panci yang masih berdebat dengan rumah rumah kini menghentikan perdebatannya usai menerima telepon.
"Kalau begitu aku permisi, ya. Bye .."
Sales panci tersebut tiba-tiba saja pergi dengan lambaian tangan usai menerima telepon dari seseorang. Hal itu membuat semua orang yang sudah emosi kini terheran-heran. Momy Anika dan Kirana saling menatap satu sama lain. Mereka merasa ada yang aneh dari kejadian ini.
"Mom, kenapa bisa ada orang seperti itu ke rumah kita?" tanya Kirana kemudian.
Momy Anika mengedikkan bahunya sebagai tanda jika ia pun tidak tahu.
"Momy juga tidak tahu, sayang."
"Pak, kenapa kau membiarkan orang seperti itu lolos masuk ke rumah ini?"
Pak satpam tampak gugup dan ketakutan.
"Ma-maaf, nyonya. Tadi dia bilang jika dia orang yang di perintahkan nyonya untuk mengantar barang yang dia bawa," ucap satpam tersebut merasa bersalah lantaran tidak becus mengamankan rumah selama tuan Brighta tidak ada.
Momy Anika merasa ada yang tidak beres di sini. Kirana juga. Apalagi tiba-tiba pria sales panci itu memilih untuk pergi begitu saja usai menerima telepon dari seseorang. Padahal sebelumnya dia berusaha keras menawarkan panci yang ia bawa. Aneh sekali.
__ADS_1
Kirana membisikkan sesuatu pada momy nya. "Mom, momy merasa ada yang aneh tidak dari kejadian ini? Entah kenapa aku merasa jika ada sesuatu."
Momy Anika mengangguk. "Iya, sayang. Momy juga merasa aneh sekali. Tapi apa tujuan pria sales panci itu datang ke sini?"
Saat keduanya sibuk memikirkan ada sesuatu apa di balik kejadian tersebut. Seorang pelayan yang bertugas memasak di sini memberi tahu jika makan malam sudah siap.
"Nyonya, nona, makan malam sudah siap."
Momy Anika dan Kirana menoleh. "Iya, bi. Terima kasih," ucap momy Anika.
"Kalau begitu tolong panggilkan Ara, minta dia untuk makan malam bersama kita."
Kirana diam mendapat perintah momy nya. Hingga saat ini ia tidak ingin bicara dengan sang adik. Mengingat Derga, ia jadi ingat pembicaraannya dengan seseorang di telpon tadi mengenai bunga kejutan.
"Ah iya, tadi seseorang memberi tahu jika Derga akan memberiku bunga. Mungkin sebagai bentuk permintaan maafnya. Tapi kenapa sampai sekarang bunga itu belum sampai, ya?" batin Kirana.
Melihat putrinya yang hanya diam membuat momy Anika tersadar jika Kirana mungkin masih sangat kecewa dengan Ara. Tapi di situasi ini, momy Anika tidak berada di pihak manapun. Ia tidak membenarkan Ana dan juga tidak menyalahkan Ara. Ia akan berusaha menjadi penengah di sini supaya bisa di bilang sebagai ibu yang adil tanpa pilih kasih. Namun sampai sekarang, ia belum juga bisa bertemu dengan putri bungsunya lantaran Ara belum juga mau keluar dari kamar.
_Bersambung_
__ADS_1
Mohon maaf atas keterlambatan update. Di karenakan author sedang kurang enak badan jadi harus slow update dulu. Do'akan semoga author cepat pulih dan bisa crazy up seperti hari-hari biasanya. Semoga kalian tetap setia menunggu kelanjutan cerita ini. Tetap sehat untuk kalian semoga❣️