
Ara pun duduk di sofa ruang tamu tersebut. Namun posisi duduk mereka saling berjauhan. Ara memberanikan diri menatap pria itu dengan tatapan penuh selidik.
"Kenapa kau menatapku seperti itu?" tanya Derga merasa ada yang aneh dari gadis itu.
"Siapa wanita yang di jodohkan denganmu?"
Kini Derga yang di buat terkejut dengan pertanyaan Ara.
"Apa maksudmu bertanya seperti itu?" Derga berusaha mengelak.
"Kau hanya perlu jawab siapa wanita itu. Aku tidak ingin kau mempermainkan Kirana setelah kau mendapatkan duniaku."
Derga seketika bergeming. Ternyata Ara bukan gadis sembarang.
"Dari mana kau mengetahui hal itu?" tanya Derga setelah lama terdiam.
"Itu tidak penting," balas Ara.
__ADS_1
"Katakan sekarang dari mana kau mengetahui hal itu?"
"Aku juga tahu jika wanita yang di jodohkan denganmu sering kali memberi uang pada ibumu agar kau mau menikahi dengannya."
Derga tidak menyangka jika Ara bisa tahu masalah terbesar dalam hidupnya saat ini. Padahal ia tidak pernah memberi tahu pada siapapun mengenai masalah ini.
"Cepat katakan padaku, darimana kau bisa tahu semua ini?"
"Kau sendiri yang mengatakannya. Dan kau mengira jika aku lah wanita itu pada malam itu. Oleh karena itu kau dengan tega nya menyakiti gadis yang bahkan tidak tahu apapun tentang permasalahan orang yang tidak di kenalnya."
Derga terdiam. Ia menatap Ara yang saat ini sudah memupuk cairan putih bening di pelupuk matanya. Kini, perasaan sesal itu muncul dalam benaknya. Dan gadis itu sungguh menjadi korban di malam itu. Korban bisnis club dan juga korban luapan permasalahannya.
Derga menggeser posisi duduknya. Ia yang semula duduk di sofa single dekat pintu kini duduk di sofa panjang bagian ujung dekat sofa single yang di duduki oleh Ara.
Seketika ia mengulurkan tangan ke hadapan Ara. Dan membuat Ara yang menunduk kini mendongakan kepala melihat tiba-tiba ada tangan di depannya.
Ara melihat wajah Derga dan tangan pria itu secara bergantian. Ia tidak paham apa maksud Derga seperti itu.
__ADS_1
"Maaf .." ucap pria itu kemudian.
Satu kata yang paling ingin Ara dengar dari mulut pria itu sebagai bentuk rasa tanggung jawab atas kesalahan di malam itu kini akhirnya keluar dari mulut Derga.
Namun, Ara tidak dengan begitu mudahnya menjabat tangan itu. Ia masih diam, mendengar lanjutan kalimat Derga.
"Aku minta maaf, Kinara."
Terdengar lirih, lembut dan tulus.
"Aku baru tahu jika apa yang kau alami ternyata ada hubungannya dengan permasalahan pribadiku. Aku tidak tahu dan aku tidak sadar jika malam itu aku mengatakan hal demikian padamu. Aku tidak tahu jika kau korban dari luapan permasalahan keluargaku."
Ara menatap kedua manik mata Derga yang menatapnya penuh akan rasa penyesalan.
"Aku sangat mencintai Kirana, kakakmu. Dan begitu momy terus memojokan aku dengan cara menjodohkan aku dengan wanita pilihannya, aku pergi ke club itu. Aku berpikir dengan cara meminum banyak alkohol aku bisa keluar dari permasalahan yang sedang aku alami. Tapi nyatanya, aku baru tahu jika aku membuat permasalahan lain dalam permasalahan tersebut."
Derga berusaha memberi penjelasan pada Ara. Tangannya masih terulur meski belum mau Ara jabat.
__ADS_1
_Bersambung_