
Beberapa hari berikutnya. Sore ini Derga pergi ke sebuah kafe Loroga untuk menemui Evril-asisten pribadinya untuk membicarakan masalah yang sebelumnya mereka bahas beberapa hari lalu.
"Jadi ada perkembangan apa, Vril?"
"Iya, jadi begini, tuan. Saya sudah mendapatkan dua orang wanita yang bersedia untuk memberikan kesaksian mengenai tempat bisnis malam itu. Selain itu saya sudah memasukan satu orang wanitayang siap kita pekerjakan di sana dan juga satu orang pria yang akan berpura-pura menjadi pengunjung di sana. Kita akan menjebak balik pemilik club itu untuk memberi bukti lebih lanjut. Agar kita bisa dengan mudahnya menghancurkan bisnis tersebut," jelas Evril.
Derga mengangguk setuju. "Ide bagus. Aku juga akan meminta teman gadis itu untuk menjadi saksi lain atas bisnis tersebut. Namanya Rachel. Untuk urusan yang ini biar nanti aku saja yang handle. Kau cukup fokus pada apa yang saya perintahkan saja."
"Baik, tuan."
"Ada lagi yang mau di sampaikan?"
"Ada, tuan. Jadi kemarin nyonya Xavier meminta saya untuk memberi informasi apapun tentang tuan padanya. Nyonya Xavier juga meminta agar saya terus membujuk tuan supaya mau dekat dengan nona Jolly."
"Itu tidak penting, Vril. Aku membayarmu dengan uangku. Jadi kau hanya perlu bekerja untukku. Bukan untuk orang lain termasuk momy ku sendiri. Tapi jika kau tertarik dengan apa yang momy ku perintahkan, silahkan bekerja untuknya dan kau tidak perlu bekerja lagi untukku. Pilihan ada pada tanganmu sendiri."
__ADS_1
"Maaf, tuan. Tuan tenang saja, saya hanya akan tetap bekerja untukmu. Dan saya tidak akan pernah memberi sedikitpun informasi tentangmu pada nyonya Xavier."
"Bagus."
Evril menganggukan kepalanya. "Ah iya, ada lagi yang harus saya kerjakan, tuan?"
"Untuk saat ini tidak ada. Nanti aku akan menghubungimu jika ada tugas lain yang harus kau kerjakan. Jangan pernah menonaktifkan ponselmu. Sebelum baterainya berkurang sampai dua puluh persen kau harus segera men charger nya."
"Baik, tuan."
***
Nyonya Xavier berpapasan dengan putranya susah tampak rapi sekali malam ini.
"Derga, kau mau kemana?" tanya wanita itu menghentikan langkah Derga.
__ADS_1
"Aku mau makan malam di rumah Kirana, mom. Keluarga Brighta yang mengajak aku untuk makan malam di sana."
Nyonya Xavier terdiam sejenak. Seketika ia mendapat ide untuk menyatukan putranya dengan wanita yang idamkan menjadi menantunya. Sepertinya makan malam bersama merupakan ide yang bagus untuk mendekatkan keduanya. Lain kali ia akan mengundang Jolly untuk makan malam di rumah.
"Oh, ya sudah sana."
Jawaban momy nya membuat Derga sedikit terheran sekaligus senang. Biasanya ia akan debat terlebih dahulu jika itu tentang Kirana. Tapi kali ini momy nya memberi izin secara cuma-cuma tanpa larangan maupun syarat.
"Aku pergi ya, mom. Nanti aku mau tidur di apartemen saja. Jadi tidak usah menungguku pulang."
"Iya, hati-hati."
Derga bergegas pergi sebelum momy nya berubah pikiran dan membahas tentang perjodohannya dengan Jolly. Sekalipun Jolly orang baik, tapi tetap saja ia tidak mau. Apalagi jika Jolly wanita yang jauh dari kata baik. Ia tidak akan pernah mau. Ia hanya ingin bersama dengan wanita pilihannya.
Nyonya Xavier melipir ke kamar setelah putranya pergi. Rupanya ia harus mulai merencanakan makan malam bersama dengan wanita itu mulai dari sekarang. Mengingat Jolly ini seorang model dan pastinya jadwalnya sangat padat.
__ADS_1
_Bersambung_