PESONA CALON ADIK IPAR

PESONA CALON ADIK IPAR
Sebuah Ketakutan


__ADS_3

"Sudah ketemu namanya, sayang?" tanya momy Anika kemudian.


Ara bergeming. Ia menatap wanita di hadapannya cukup lekat. Ia tidak ingin kehilangan kasih sayang itu untuk kedua kali dan kesekian kali.


Momy Anika tercengang begitu putri bungsunya tiba-tiba menghambur ke dalam pelukannya. Memeluknya begitu erat. Momy Anika pun membalas pelukan putrinya.


Momy Anika melepaskan pelukannya saat ia mendengar Ara terisak dalam pelukannya. Dan benar saja, air mata sudah membasahi pipi gadis itu.


"Ara, sayang. Kenapa kau menangis?" Momy Anika menangkup kedua pipi Ara dengan perasaan cemas.


Ara tidak menjawab, namun air matanya mengalir semakin deras.


"Ara, jangan buat momy khawatir, sayang. Ada apa, nak? Apa ada yang Ara ingin ceritakan pada momy?"


Ara masih tidak mau bicara, ia membiarkan air matanya saja yang bicara jika ia memang sedang tidak baik-baik saja.


Momy Anika pun membawa Ara ke bangku besi putih yang terletak di dekat pohon beringin tersebut. Mereka duduk di sana.

__ADS_1


"Ada apa, sayang? Cerita sama momy. Jika kau terus memendam apa yang kau rasakan sendiri, tentu saja itu akan membuatmu merasa tertekan. Jangan menyimpan masalah sendiri sampai membusuk di dalam dirimu."


Inginnya juga begitu, tapi jika ia menceritakan masalah nya. Maka itu sama saja dengan menjerumuskan dirinya pada ketakutannya. Yaitu di benci. Terlebih pria yang menodai dirinya merupakan calon suami dari kakaknya sendiri. Calon menantu harapan memiliki momongan dalam waktu cepat ini.


"Baiklah jika Ara tetap tidak ingin bercerita sama momy. Tapi daddy pernah menyarankan pada mommy, sebaiknya Ara konsultasi ke psikolog. Bagaimana, Ara mau?"


Ara menyeka air mata di pipinya. Ia memang merasa jika kesehatan mentalnya memburuk. Tapi ia tidak butuh konsultasi ke psikolog. Ia membiarkan dirinya yang memulihkan trauma tersebut meski butuh waktu yang tidak sebentar.


Gadis itu meraih buah tangan momy nya dan menatap dalam kedua manik mata momy Anika.


Momy Anika mengulas senyum dan sedikit terheran dengan pertanyaan putrinya.


"Tentu saja, sayang. Momy menyayangi Kinara, putri bungsu momy yang cantik ini."


"Apa momy tulus menyayangi putri momy yang satu ini?"


"Ara, kenapa Ara bertanya seolah meragukan kasih sayang momy, nak?"

__ADS_1


"Aku hanya butuh jawaban iya atau tidak, mom. Apa momy tulus menyayangi putri momy yang satu ini?"


"Momy tulus, sayang. Memangnya selama ini momy tidak tulus?"


Ara menggeleng. Ia menarik napas dalam-dalam sebelum kemudian melanjutkan kalimatnya.


"Bagaimana jika putri momy yang satu ini melakukan kesalahan yang melukai hati momy, daddy, Kirana. Apa momy masih bisa menyayangi putri mom ini dengan tulus? Atau bahkan momy sudah tidak ingin lagi menganggap aku sebagai putri momy?"


Momy Anika bergeming mendengar pertanyaan Ara barusan. Ia benar-benar tidak mengerti kenapa Ara bisa bertanya hal itu. Memangnya apa yang sudah dia lakukan sehingga khawatir akan hal sejauh itu.


"Sayang, kenapa kau bisa bertanya hal sejauh itu, nak?"


"Momy jawab saja. Apa yang akan momy lakukan jika aku demikian? Apa momy akan tetap menyayangi aku atau bahkan momy akan membenci aku?"


Sepasang mata mereka saling melemparkan tatapan serius. Momy Anika merasa jika memang terjadi sesuatu pada putri bungsunya ini. Ia jadi teringat akan ucapan Kirana yang pernah memberitahu dirinya jika Ara pernah mengatakan kehilangan dunianya.


_Bersambung_

__ADS_1


__ADS_2