
"Halo .."
Terdengar suara dari sebrang sana. Ara pun berusaha mengganti suaranya agar tidak sampai di kenali oleh Ana.
"Halo, selamat pagi. Apa saya berbicara dengan nona Kirana?" Ara sengaja membuat suaranya seperti gadis ceria, selain itu ia juga memprivat nomer agar tidak di kenali.
"Iya, aku Kirana. Maaf, kau siapa, ya?"
"Saya Steffy, pelayan toko bunga. Kebetulan tadi pagi-pagi sekali ada seseorang yang menghubungi toko kami untuk mengirimkan bunga ke alamat nona dengan meninggalkan nomer nona. Apa nona yang memesannya?"
Di sebrang sana Kirana tampak diam dan mungkin merasa jika dirinya tidak pernah memesan bunga apapun.
"Ah maaf, tapi aku tidak memesannya. Tapi kau bisa menelepon ulang seseorang yang memesan bunga itu." Kirana memberi saran.
"Masalahnya seseorang itu memprivat nomer teleponnya. Tadi saya ingat nama seseorang penelepon itu Erga."
"Derga?"
"Ah iya, kau benar nona. Saya rasa dia berniat untuk memberikan surprise untuk nona. Hanya saja dia lupa belum membayar total tagihannya. Apa nona bisa memberikan nomer tuan Derga pada kami?"
Ara berharap Kirana bersedia memberikan nomer Derga padanya.
"Iya, silahkan di catat."
Iris mata Ara seketika membulat tidak percaya jika Kirana mau memberikan nomernya.
"Baik, nona. Tunggu sebentar."
Ara dengan cepat mencari pulpen dan kertas di laci. Namun, ia hanya menemukan pulpen nya saja. Kemudian ia berpikir untuk menuliskan nomer telepon di tangannya saja.
"Bisa nona sebutkan sekarang?"
__ADS_1
"Iya. Nol delapan dua dua."
Ara mencatat di telapak tangannya. Menghimpit ponsel di telinga menggunakan bahu.
"Lima empat lima tujuh."
"Iya."
"Dua empat enam .."
Tut tut tut ..
Sambungan telepon mendadak terputus.
"Ah ya ampun, padahal satu nomer lagi."
Beruntung hanya satu nomer yang tidak sempat di sebutkan. Jadi ia bisa mencobanya dari angka nol hingga sembilan untuk mencari nomer pria itu.
Ara terus melanjutkan percobaan hingga ke angka tujuh. Setelah sebelumnya masuk ke nomer seorang kakek-kakek bahkan nomer bocah esempe.
Panggilan pertama tidak di jawab. Panggilan kedua juga. Namun, di panggilan ketiga telepon pun terhubung.
"Tolong mengganggu ku jika tidak penting."
Kedua mata Ara membulat sempurna begitu mengenali suara dari seberang telepon.
"Tunggu!" Ara meminta agar seseorang di telepon tersebut untuk tidak mematikan sambungan teleponnya.
"Aku Ara, kau Derga kan?"
Pertanyaan gadis itu membuat seorang pria di sebrang sana yang tengah menyetir mengerutkan keningnya.
__ADS_1
"Kinara?"
"Iya, aku Ara." Gadis itu tampak senang setelah percobaan beberapa kali akhirnya bisa terhubung ke nomer yang ia tuju.
"Kau dapat nomerku dari mana? Kau bilang tidak punya ponsel?"
Ara pun menjelaskan secara detail namun ia peringkat bagaimana ia bisa mendapatkan nomer pria itu. Ia juga memberi tahu jika ini bukan nomer dirinya, melainkan nomer pelayanan di rumah.
Di sebrang sana Derga mengakui jika Ara ternyata merupakan gadis yang cukup pintar dan memiliki banyak akal. Dia sampai melakukan hal yang segitunya untuk bisa berbicara dengan dirinya melalui telepon.
"Sepertinya aku sulit untuk keluar dari kamar nanti malam. Aku takut bertemu Kirana ataupun momy. Aku takut jika mereka akan menginterogasiku dengan sederet pertanyaan. Apa kau memiliki ide?"
Derga terdiam untuk beberapa saat untuk mencari ide agar Ara bisa tetap keluar bersamanya nanti malam tanpa ketahuan oleh orang tuanya maupu Kirana.
"Aku ada ide, dan semoga ini berhasil."
"Apa?" tanya Ara dengan tidak sabar.
Derga pun mengatakan ide tersebut. Ara tentu saja dengan ide pria itu.
"Ah iya, kalau begitu aku tutup teleponnya. Kasihan bibi menunggu di luar kamar terlalu lama. Takut nanti ada Kirana ataupun momy yang curiga."
"Iya. Sampai bertemu nanti malam."
"Iya, see you too. Bye."
"Bye .."
Sambungan telepon pun berakhir. Sebelah sudut bibir pria itu terangkat membentuk sebuah senyum dan menggelengkan kepalanya kecil mengingat cerita gadis itu untuk mendapatkan nomer teleponnya.
_Bersambung_
__ADS_1