
Ara dan Derga kembali ke ruang makan. Lagi-lagi semua pasang mata tertuju pada mereka terutama Kirana. Wanita itu mulai merasa jika ada sesuatu di antara mereka.
"Kenapa lama sekali?" tanya Kirana.
Tidak hanya Kirana, momy Anika pun penasaran kenapa Derga bisa membujuk Ara untuk kembali ke ruang makan.
"Jangan bertanya banyak hal dulu, Kirana. Lebih baik sekarang kita lanjutkan saja makannya. Ini kan acara makan malam spesial dengan Derga, jadi jika ingin membahas sesuatu sebaiknya nanti saja setelah makan selesai," sahut tuan Brighta setidaknya menyelematkan Derga dari pertanyaan Ana barusan.
Kirana menghembuskan napas terdengar sedikit kasar. Lagi-lagi daddy nya memberikan ruang untuk Derga dengan Ara. Padahal seharusnya yang daddy lakukan itu adalah sebuah teguran sebab Derga merupakan calon suaminya, bukannya malah memberi pembelaan.
Derga jadi merasa segan lantaran secara tidak sengaja sudah merusak momen makan malam bersama keluarga calon istrinya. Meski demikian, ia merasa lega karena memiliki waktu untuk membicarakan masalah rencana menghancurkan dunia malam itu dengan Ara.
Sedari tadi Momy Anika, tuan Brighta maupun Kirana belum memulai makan. Hidangan pun kini sudah hampir dingin. Dan sekarang barulah mereka memulainya tanpa ada sepatah katapun yang keluar dari mulutnya. Suasana makan makan berubah menjadi hening dan sedikit tegang.
Kirana terus memantau adik dan calon suaminya. Merasa di perhatikan, Ara berusaha untuk tidak melirik ke arah seseorang yang duduk di sebrang. Supaya Kirana tidak mencurigai ada sesuatu tentang dirinya dan Derga. Begitupun sebaliknya, Derga berusaha bersikap biasa saja agar tidak menimbulkan sebuah kecurigaan.
***
Keesokan harinya.
Semalam Derga tidur di apartemen. Dan pagi ini ia tidak berangkat ke kantor lantaran sudah meminta Ussy sekretarisnya untuk meng-handle semua pekerjaan di kantor.
Jam sepuluh pagi baru ia memutuskan untuk pulang ke rumah. Ia terkejut mendapati momy nya tengah mengobrol dengan wanita yang tidak ingin ia lihat lagi kehadirannya.
Momy nya menyambut kepulangannya dengan wajah sumringah.
"Derga, sini!" panggil wanita paruh baya itu.
Derga memutar bola matanya malas karena ada seseorang yang bisa ia pastikan hari ini memberi momy nya uang berupa sogokan.
__ADS_1
Nyonya Xavier menghampiri putranya yang berdiri di ambang pintu.
"Ayo sini, ada tamu spesial untukmu."
"Mom, aku kan sudah lamaran dengan Kirana. Momy lupa? Jadi momy tidak perlu menerima tamu wanita untukku!"
"Derga, apa salahnya sih bersilaturahmi? Jangan buat momy malu. Temani Jolly ngobrol sebentar saja. Paling tidak sampai makan malam nanti."
Derga melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya.
"Ini masih jam sepuluh pagi, mom. Aku mau ke kamar aku mau istirahat saja, ya."
"Ayolah, Derga. Sebentar saja, ya."
Pria itu menghembuskan napas berat, mau tidak mau ia harus menuruti permintaan momy nya untuk kali ini. Ia pun duduk di sofa single sementara Jolly duduk di sofa panjang.
Nyonya Xavier senang akhirnya Derga mau menuruti permintaannya setelah sekian lama selalu saja menolak. Ia berharap ini adalah awal dari kedekatan keduanya.
"Mom .. Momy .. Momy mau kemana?" panggil Derga setengah berteriak, namun sepertinya wanita itu dengan sengaja meninggalkan dirinya berdua di sana.
Setelah nyonya Xavier pergi, Jolly pindah posisi duduknya di kepala sofa single yang di duduki oleh Derga.
"Hai, sayang. Apa kabar?" tanya wanita itu dengan tubuh sedikit di bungkukan berupaya menggoda Derga dengan cara memperlihatkan buah dadanya yang menggantung besar.
Derga sama sekali tidak tertarik dengan itu. Justru ia jadi teringat akan kejadian malam itu dengan Ara. Padahal sebelumnya ia tidak ingat apapun mengenai apa yang terjadi di malam itu.
"Jangan lakukan itu, please. Jangan lakukan itu, aaaaaaa ..."
Suara teriakan Ara malam itu kini tiba-tiba saja terdengar di telinganya. Dan bayangan malam itu kini seakan berputar di kepalanya.
__ADS_1
Pada saat itu Ara memekik saat ia merremmas buah dadanya dengan sangat kasar. Tidak hanya itu, ia juga mencium dan menjillati bagian bawah telinga dan leher gadis itu. Tidak hanya sampai di sana, ia merobek pakaian Ara hingga memperlihatkan buah dada gadis itu dan teringat dengan jelas sekarang. Bahkan ia kini sadar jika waktu itu ia sampai menenggelamkan wajahnya di belahhan dada Ara dan menggigit kecil boba milik gadis itu dengan serangan yang bertubi-tubi.
"Aaaaaaaaaa ..."
"Astag .." Derga mengusap wajahnya sedikit kasar saat ia melihat bayangan kejadian di malam itu. Pantas saja Ara sampai se trauma ini.
Jolly tampak kebingungan melihat pria pujaannya terlihat aneh seperti ini.
"Baby, are you okay?" tanya Jolly memastikan.
Derga bangkit berdiri dan pergi dari sana tanpa menghiraukan Jolly yang berusaha mengejar dirinya.
"Baby, kau mau kemana lagi, sayang?"
"Derga sayaaang .. Kau mau kemana?"
Derga pergi bersama mobilnya usai mengingat bayangan malam itu.
Suara teriakan Jolly membuat nyonya Xavier kini menghampiri wanita itu.
"Jolly, ada apa? Apa yang terjadi? Derga mana?" tanya wanita itu berbondong-bondong.
"Derga pergi. Tadi dia aneh, aku tidak tahu dia kenapa."
"Aneh? Aneh kenapa?"
"Aku tidak tahu. Derga langsung pergi begitu saja. Padahal aku belum sempat mengobrol dengannya."
Nyonya Xavier tampak kesal lantaran Derga pergi secara tiba-tiba. Tapi ia juga penasaran putranya itu aneh kenapa?
__ADS_1
_Bersambung_
Jangan lupa dukungannya teman-teman. Like, komen, hadiah poin/koin, vote, tekan love untuk menambahkan ke tak favorit agar mendapat notif ketika bab baru di update. Tonton iklan yang tersedia di kolom hadiah dan jangan lupa klik ikuti akun auhtor❣️