PESONA CALON ADIK IPAR

PESONA CALON ADIK IPAR
Kenangan Masa Kecil


__ADS_3

Momy Anika membawa Ara ke sebuah taman kanak-kanak dimana dulu ia menyekolahkan putri bungsunya di sana. Kebetulan tempat itu masih aktif sampai ini dan tentunya sudah jauh berbeda dari jaman Ara masih sekolah di sana.


Meski demikian, ada satu yang tidak berubah. Yaitu pohon beringin yang dulu masih tumbuh kecil kini sudah besar. Ara mendekat ke arah pohon yang ada di dekat pagar pembatas tersebut dan berdiri di sana. Ia masih ingat dulu pernah menuliskan namanya di sana.


Ara mencari nama dirinya di pohon tersebut. Berharap jika nama itu masih terukir meski sudah belasan tahun lalu.


Alih-alih menemukan nama dirinya, ia justru menemukan nama lain di sana.


"Derga?" ucapnya pelan begitu menemukan sebuah nama lain yang terukir di sana.


Pikiran Ara seketika tertuju pada pria yang ia ketahui bernama Derga. Di pohon tersebut memang ada beberapa nama yang terukir, sengaja untuk menciptakan kenangan. Namun, nama yang pertama kali ia temui adalah Derga.

__ADS_1


"Apa dia pernah sekolah di sini juga?" pikirnya kemudian.


Ara merasa tidak memiliki teman yang bernama Derga. Lagipula Derga yang ia ketahui sebagai calon kakak iparnya isinya juga lebih tua darinya. Berkisar tiga sampai empat tahun perbedaannya. Sebab jarak usianya dengan Kirana juga hanya beda tipis. Sekitar dua tahun saja.


"Ah sepertinya tidak mungkin dia sekolah di sini juga. Mungkin ini Derga yang lain yang kebetulan sudah lulus sebelum aku masuk teman kanak-kanak."


Ara kembali fokus mencari namanya di antara nama lain yang terukir. Seketika sudut bibirnya terangkat membentuk sebuah senyum yang selama ini momy Anika rindukan. Wanita paruh baya itu berdiri dari kejauhan. Tetapi ia bisa melihat senyum di wajah Ara dengan sangat jelas.


Gadis itu menemukan namanya. Terukir tidak begitu rapi sebab dulu ia baru saja bisa belajar menuliskan nama dirinya.


Tiba-tiba saja ia merindukan masa dimana momy dan daddy nya kala itu sayang dan perhatian sekali padanya. Sebelum kemudian Kirana jatuh sakit dan ia merasa jika perhatian mereka lebih fokus pada kakaknya saja. Dan ia di tuntut untuk mandiri di usianya yang masih membutuhkan kasih sayang penuh dari orang tua. Ia lebih banyak menghabiskan waktu dengan baby sitter sampai usianya sepuluh tahun. Baby sitter itu meninggal karena serangan jantung. Setelah itu ia tidak lagi di asuh oleh baby sitter dan sudah bisa mandiri.

__ADS_1


Sampai Kirana sembuh total akan penyakitnya yang mengharuskan berobat jalan setiap bulan. Ara masih merasa jika momy dan daddy nya lebih sayang dan perhatian terhadap kakaknya di banding dirinya. Bahkan sampai saat ini.


Tapi beberapa hari ini ia sudah kembali merasakan setitik kasih sayang itu kembali. Namun ada satu hal yang sangat ia khawatirkan.


Ara melihat ke arah dimana momy nya berdiri memperhatikan dirinya. Momy Anika tampak melemparkan senyum manis padanya. Ia takut jika apa yang terjadi di antara dirinya dengan Derga terbongkar, akankah mereka masih menganggap dirinya sebagai seorang putri mereka?


Ara berjalan ke arah momy Anika dan berdiri tepat di hadapan wanita paruh baya itu.


"Sudah ketemu namanya, sayang?" tanya momy Anika kemudian.


Ara bergeming. Ia menatap wanita di hadapannya cukup lekat. Ia tidak ingin kehilangan kasih sayang itu untuk kedua kali dan kesekian kali.

__ADS_1


Momy Anika tercengang begitu putri bungsunya tiba-tiba menghambur ke dalam pelukannya. Memeluknya begitu erat. Momy Anika pun membalas pelukan putrinya.


_Bersambung_


__ADS_2