
Dengan langkah mengendap-endap, beberapa polisi masuk ke dalam club sembari memegagi senjata api di tangan masing-masing. Salah satu pengunjung ada yang menyadari kedatangan mereka.
"Ada polisi!" teriaknya sembari menunjuk ke arah datangnya polisi tersebut.
Seluruh pengunjung di sana sontak menghentikan aktivitas mereka dan menoleh ke arah belakang.
"Jangan bergerak!" ujar salah satu dari mereka seraya mengangkat senjata apinya.
Tanpa menghentikan dentuman musik, semua orang yang ada di sana langsung diam dan mengangkat tangan. Dua di antara mereka saling melempar kode untuk mencari wanita pemilik bisnis gelap tersebut. Sementara yang lain mengamankan pengunjung dan pelayan yang bekerja di tempat tersebut.
Satu persatu ruangan di periksa, namun mereka tidak menemukan sosok yang sedang di cari. Mereka sampai di sebuah kamar yang terkunci. Kamar yang terdapat di video yang kirimkan oleh Evril.
Salah satu dari mereka memberi kode untuk mendobrak kamar tersebut saja.
Buuggg ..
Katty dan Beno bangkit berdiri ketika mendengar suara pintu hendak di dobrak oleh seseorang. Mereka mengira jika yang mendobrak adalah Evril. Katty sudah tidak sabar ingin segera keluar dari kamar tersebut. Mengingat Beno yang mengatakan jika dia tergoda dengannya, membuatnya merasa gerah berlama-lama ada di sana.
Brakk ..
Pintu pun terbuka dengan sangat lebar.
Dari ruangan lain, seorang wanita yang tengah duduk manis dengan senyum yang mengembang dengan begitu sempurna di kejutkan oleh suara dobrakan pintu tersebut. Senyumnya perlahan memudar.
"Suara apa itu?" gumamnya.
Lantaran penasaran, ia bangun dan berniat untuk mengecek sumber suara.
Katty dan Beno keluar dari kamar tersebut. Mereka sedikit terkejut lantaran yang mendobrak kamar bukanlah Evril, melainkan dua orang polisi.
"Kami sudah tahu jika kalian orang-orang yang berada di bawah perintah tuan Evril. Apa kalian bisa menunjukan dimana ruangan pemilik tempat ini?"
Katty mengangguk. "Iya, pak. Saya tahu."
Kemudian kedua polisi itu mengikuti langkah Katty. Kebetulan Katty sudah tahu ruang rahasia tempat mami Olin berada.
Kebetulan, mami Olin pun hendak pergi menuju sumber suara tadi. Namun, kedua matanya terbelalak melihat pelayan yang tadi ia kunci di dalam kamar kini berjalan ke arahnya bersama dua orang polisi. Dan ia ke arah pria yang tadi sempat mabuk parah kini ikut bersama mereka.
"Sial! Rupanya ada orang yang berniat menjebakku." umpat nya.
Mami Olin bergegas pergi menuju pintu belakang sebelum orang-orang itu melihat dirinya.
__ADS_1
"Itu orangnya," tunjuk Beno melihat kepergian mami Olin.
"Kejar!"
Kedua polisi tersebut bergegas mengejar mami Olin. Mereka tidak boleh kehilangan jejak wanita itu.
"Sial, mereka mengejarku." Mami Olin mempercepat langkahnya dan mulai membuka pintu belakang.
"Berhenti!" teriak salah satu polisi.
Mami Olin menoleh dengan kedua mata yang terbuka lebar. Ia tidak boleh sampai tertangkap, ia harus bisa meloloskan diri dari kejaran polisi tersebut.
"Tangkap dia!" Perintah pemimpin dari salah satu polisi tersebut.
"Tidak, aku tidak mau di penjara."
Mami Olin menggeleng dan berusaha membuka kunci pintu belakang tersebut. Setelah berhasil, ia bergegas pergi dari sana.
"Dia lolos," ujar polisi yang hendak menangkap mami Olin.
Polisi yang memberi komando lekas memberi tahu polisi yang lain untuk mencegah di luar agar wanita itu tidak bisa lolos dari kejaran mereka.
"Stand by di depan, dia baru saja meloloskan diri dari sini." Menggunakan alat seperti telepon pemimpin polisi tersebut memberi tahu.
Sementara di dalam mobil. Derga mendapat telepon dari Evril.
"Halo, tuan. Barusan Katty memberi tahu jika wanita itu berhasil meloloskan diri dari pintu belakang."
"Lalu sekarang bagaimana, Vril?"
"Polisi tengah melakukan pengejaran."
"Kalau begitu aku akan ikut mengejarnya juga."
"Iya, tuan. Saya juga."
"Ya sudah, kalau begitu beri tahu informasi lagi jika kau berhasil menangkapnya."
"Baik, tuan."
Sambungan telepon pun berakhir.
__ADS_1
"Kenapa?" tanya Ara ikut panik.
"Wanita itu berhasil meloloskan diri dan sekarang sedang dalam pengejaran polisi."
"Ah kalau begitu kita ikut bantu, bagaimana?"
"Biar aku saja. Kau tunggu saja di sini. Jangan kemana-mana. Okay?"
"Tapi aku mau bantu."
"Jangan membantah. Jika aku perintahkan kau untuk tetap di sini, maka tetap di sini. Situasi sedang tidak aman, kau harus tetap berada di dalam mobil. Jangan lupa untuk mengunci pintunya juga. Bahaya tengah mengancam."
Ara pun akhirnya mengangguk patuh.
Derga membuka pintu mobilnya. Berniat untuk ikut melakukan pengejaran. Namun, begitu pintu mobil ia buka, seseorang menabrak pintu tersebut hingga terjatuh.
Bugghh ..
"Aaa .." Rintih seseorang.
Derga dan Ara cukup di buat terkejut. Dan begitu seseorang itu mendongakan kepalanya, Derga segera turun dari mobil dan menangkap seseorang itu.
"Mau kemana lagi kau?"
Derga membangunkan seseorang itu dan mengunci tangannya ke belakang.
"Lepaksan!" teriaknya.
"Aku tidak akan melepaskanmu."
Derga mempererat tangan orang itu ke belakang hingga orang itu memekik kesakitan.
"Aargghh .. Lepaskan! Kau siapa, hah?"
Belum sempat Derga menjawab, kedua mata orang itu tertuju pada gadis yang duduk di dalam mobil.
"Ara?" ucapnya lirih dan cukup di buat kaget melihat gadis yang ia kira kini tengah bersenang-senang dengan klien bisnis nya ternyata kini ada di depan matanya.
Ya, seseorang terdebut adalah mami Olin. Derga berhasil menangkap wanita itu.
Mami Olin tampak emosi. Kedua matanya menyala merah menahan amarah.
__ADS_1
"Sial, ternyata aku masuk ke dalam perangkapnya," umpat mami Olin.
_Bersambung_