
"Seharusnya kau tidak bersikap seperti itu."
Kalimat seseorang membuat seorang gadis yang tengah duduk menunduk dengan kedua tangan menutupi wajah di bangku taman samping rumah itu mendongak. Pria yang sedang ia hindari itu kini berdiri di hadapannya.
Ara bangkit berdiri dan berusaha menahan diri agar tidak menggampar pria itu. Ia mengepalkan kedua tangannya erat-erat.
"Dari banyaknya pria di muka bumi ini, kenapa harus kau yang melamar kakakku. Kenapa?" seru Ara dengan amarah yang sudah tidak tertahankan.
"Aku tidak akan membiarkan Kirana bersama dengan pria yang tidak memiliki rasa tanggung jawab sepertimu!" Imbuh gadis itu.
Derga menyunggingkan senyum dan terlihat sangat santai seolah tidak pernah melakukan kesalahan.
"Lalu kau mau aku melamarmu, hm?"
Pertanyaan pria itu membuat Ara terdiam seketika. Bukan itu yang ia maksud, ia hanya ingin setidaknya pria itu meminta maaf atas kesalahan yang dia perbuat. Bukannya malah berniat membayarnya yang terkesan merendahkan.
__ADS_1
"Jika kau menginginkan hal itu sebagai bentuk rasa tanggung jawabku, maka aku akan mengganti agendaku. Aku akan katakan pada mereka semua jika kedatanganku bukan untuk melamar Kirana, melainkan dirimu. Bagaimana?"
Ara menggeleng. Itu tidak boleh terjadi. Bisa-bisa ia akan di benci oleh kakaknya sendiri seumur hidup.
Sementara Derga sendiri tidak sungguh-sungguh akan melakukan itu. Ia tidak mungkin melakukan hal itu. Sebab ia hanya mencintai Kirana seorang. Bahkan saat ia di jodohkan dengan wanita lain sekalipun, ia tetap menginginkan Kirana.
"Tolong jangan lakukan itu."
"Bukankah itu yang kau mau? Aku harus bertanggung jawab atas perbuatan yang tidak ku sadari. Sekarang kita masuk ke dalam, dan aku akan melangsungkan acaranya. Ayo."
"Tidak, tidak, tidak. Jangan gila. Kau datang untuk melamar Kirana, maka kau hanya boleh melamar dirinya. Bukan aku ataupun orang lain. Tolong jangan sakiti Kirana. Aku tidak ingin dia membenciku seumur hidupnya."
"Ayolah. Jangan seperti itu. Kau sendiri yang menginginkan tanggung jawab dariku. Maka aku akan bertanggung jawab. Ayo, kita masuk ke dalam."
Lagi-lagi Ara menepis tangan pria itu saat hendak meraih pergelangan tangannya.
__ADS_1
"Jangan coba-coba menyentuhku! Sekarang kembalilah pada tujuan awalmu melamar Kirana. Kau sendiri kan yang bilang jika suatu hari kita bertemu lagi, maka bersikaplah seolah kita tidak pernah kenal. Maka tinggalkan aku di sini." Ara menelungkupkan kedua tangannya di dada memohon pada pria itu.
Pria itu terdengar menghela napas berat.
"Baiklah jika itu yang kau inginkan. Aku akan kembali untuk melanjutkan acaranya."
Derga membalikan badan dan beranjak pergi dari sana. Sementara Ara kembali duduk di bangku tersebut. Ia berusaha mengusir bayang-bayang kejadian enam bulan lalu bersama pria yang sebentar lagi akan menjadi suami dari kakaknya sendiri.
Dari kejauhan, Derga menghentikan langkahnya dan memandang ke arah Ara. Cukup lama ia memandangi Ara, sebelum kemudian ia masuk ke rumah guna melanjutkan acara lamarannya.
"Aku tidak tahu bagaimana perasaan Kirana jika tahu calon suaminya itu orang yang pernah berhubungan dengan adiknya sendiri. Dia pasti akan sangat hancur. Pria yang setiap hari dia banggakan padaku, pada momy dan daddy mengkhianatinya dengan adiknya sendiri."
Ara merremmas rambut di masing-masing sisi kepalanya yang terasa sangat sakit. Ia juga tidak sanggup menyaksikan kakaknya di lamar oleh pria yang pernah berhubungan dengannya pada malam itu.
_Bersambung_
__ADS_1