PESONA CALON ADIK IPAR

PESONA CALON ADIK IPAR
Memergoki


__ADS_3

Ara masih tidak bisa berkata-kata setelah Derga melepaskan pelukannya. Jujur ia memang masih takut akan sentuhan pria itu, namun kali ini rasanya berbeda.


Telapak tangan Ara kini dingin lantaran berusaha menahan ketakutan itu. Dan wajahnya sedikit memucat. Rupanya ia memang harus bisa melawan ketakutan itu.


"Hei, kau kenapa?" Derga khawatir melihat wajah Ara berubah pucat usai di peluk dirinya.


Ara menggeleng tanpa memberi jawaban.


Derga lupa jika gadis itu masih trauma dan takut dengan dirinya.


"Ara, jangan takut. Aku tidak akan menyakiti dirimu lagi. Please, buang rasa takutmu terhadap dirimu."


Ara berusaha mengendalikan dirinya jika pria yang saat ini ada di depannya tidak seperti pria yang ia temui pada malam itu.


Derga meraih buah tangan gadis itu, ia terkejut saat merasakan dinginnya telapak tangan Ara layaknya es batu. Ara memejamkan kedua matanya. Ia menepis bayangan itu saat lagi-lagi Derga menyentuh dirinya.


Derga menggenggam erat-erat tangan Ara guna memberi kehangatan. Ia tahu jika gadis itu kini tengah berjuang melawan ketakutannya.


Tidak berapa lama, telapak tangan Ara mulai hangat. Gadis itu perlahan membuka mata dan menoleh ke arah Derga. Pria itu menyambutnya dengan senyum kecil.


"Sudah membaik?" tanya pria itu dan di angguki oleh Ara.


Derga terdengar menghembuskan napas lega. Ia senang Ara berhasil melawan ketakutannya. Ia berharap setelah ini Ara akan terbiasa dengan kehadirannya tanpa rasa takut.


"Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan lagi denganmu, Kinara. Apa aku boleh mengatakannya sekarang? Jika kau sedang tidak ingin mendengar apapun, maka aku akan diam menunggu sampai kau merasa lebih baik."


Ara menghela napas dalam-dalam.


"Iya, katakan saja. Aku sudah merasa lebih baik. Terima kasih sudah membantuku untuk melawan ketakutanku."


Derga mengulas tersenyum senang. "Iya, sama-sama."

__ADS_1


Ara sadar jika tangannya masih di genggam oleh pria itu. Ia merasa tidak enak, lalu ia menarik tangannya dari tangan pria itu.


"Maaf," ucap Derga kemudian.


"Iya, tidak apa-apa."


Kini ada kecanggungan di antara mereka. Terutama Ara. Ia merasa segan lantaran pria di hadapannya saat ini merupakan calon suami dari kakaknya sendiri.


"Jadi apa yang ingin kau katakan?" tanya Ara tak ingin berlama-lama lagi.


"Iya, jadi kedatangan aku ke sini selain untuk meminta maaf usai mengingat kejadian di malam itu-"


"Langsung saja, jangan buat aku ikut mengingatnya lagi," pungkas Ara.


Derga mengangguk. "Iya, maaf. Aku ingin memberitahu jika besok malam Evril akan menjalankan rencana untuk menghancurkan dunia bisnis club itu. Dan aku harap kau menepati janjimu untuk ikut serta membantumu menghancurkan bisnis itu."


Ara mengangguk merasa tidak keberatan.


Derga menghembuskan napas lega.


"Lalu dengan cara apa aku membawamu keluar dari rumah ini? Apa kau memiliki ponsel yang bisa aku hubungi?"


Ara menggeleng. "Aku tidak memegang ponsel lagi. sejak hari itu. Kau bisa datang kesini langsung. Tapi mobilmu jangan masuk ke halaman rumah."


"Maksudmu?" Derga tidak paham.


Ara pun memberikan cara yang aman agar Derga bisa menjemput tanpa ketahuan momy, daddy, terutama Kirana.


Sementara di atas balkon seorang wanita tengah berdiri dengan perasaan kalut memikirkan apa yang tadi ia dengan dari pelayan rumah. Di saat kepalanya sibuk berperang dan berusaha menepis pikiran buruk tentang adik dan calon suaminya, ia justru di suguhkan dengan pandangan dua orang yang tengah duduk di bangku taman.


"Ara sama siapa, ya?" pikirnya.

__ADS_1


Pandangan mata Ana tertuju pada mobil yang terparkir di halaman rumah. Iris mata wanita itu melebar seketika. Kedua tangannya menutupi mulutnya yang menganga.


"Oh my god .. Ara sama Derga?"


Merasa tidak Terima, Ana bergegas pergi dari balkon kamarnya. Berniat untuk menghampiri kedua orang tersebut.


Sementara di bangku taman tersebur. Derga menganggukan kepalanya setuju dengan cara Ara barusan.


"Besok malam jam tujuh, ya."


"Ok," jawab Ara.


Kini tidak ada lagi perbincangan di antara keduanya. Sampai tiba-tiba Ara merasa sakit perut.


"Aww .." Gadis itu memekik seraya memegangi bagian perutnya.


"Kenapa?" tanya Derga khawatir.


"Perutku sakit. Kalau begitu aku mau masuk ke dalam saja, ya," pamit Ara.


"Iya. Aku juga mau pulang saja. Besok jangan lupa stay."


"Iya."


Ara berjalan dengan langkah tergesa memasuki rumah sembari memegangi perutnya. Saat ia hendak menaiki anak tangga, ia berpapasan dengan Kirana. Wanita itu menatap dirinya dengan tatapan yang tidak biasa. Lantaran perutnya terasa semakin melilit, ia melipir pergi begitu saja karena sudah tidak tahan ingin ke kamar mandi.


Kirana tidak begitu memperhatikan tangan Ara yang memegangi perut menahan sakit. Ia merasa jika Ara mencoba tengah bermain-main dengannya.


"Sebenarnya apa yang kau sembunyikan dariku, Kinara?"


Ana mengepalkan kedua tangannya menahan gejolak emosi yang menyatu dengan darahnya. Sebelum kemudian ia pergi untuk menghampiri Derga.

__ADS_1


_Bersambung_


__ADS_2