
Begitu mobil sudah berhenti di pelataran rumah, Nyonya Xavier bergegas turun dari mobil dan masuk ke dalam rumah dengan langkah tergesa.
"Mom." panggil Derga menghentikan langkah wanita paruh baya itu.
Derga berjalan beberapa langkah menghampiri nyonya Xavier dan berdiri di hadapan momy nya tersebut.
"Sebentar lagi aku akan menikah dengan Kirana. Jadi stop menjodohkan-jodohkan aku dengan Jolly. Mom jangan pernah terima uang atau apapun lagi darinya."
Nonya Xavier menatap putranya dengan tatapan tajam.
"Sampai kapanpun, momy hanya ingin kau menikah dengan Jolly. Dia lebih baik dari pada wanita itu, Derga! Dan Jolly lebih pantas menjadi menantu momy."
"Mom, please. Jangan memaksakan kehendak. Aku tidak menyukai Jolly dan aku hanya mencintai Kirana seorang. Jadi hanya Kirana yang akan aku nikahi. Sekarang terserah mom mau setuju atau tidak, aku akan tetap melanjutkan pernikahan aku dengan Kirana."
Derga melipir pergi menaiki anak tangga untuk sampai di kamarnya.
"Derga ..!! Dergaaa ..!!" Panggilan nyonya Xavier tidak Derga perdulikan, ia tetap melanjutkan langkahnya tanpa menoleh sedikitpun.
__ADS_1
"Dasar anak tidak tahu diri. Dia tidak pernah mau nurut apa kata momy nya. Padahal aku hanya ingin dia menikah dengan wanita yang lebih pantas di jadikan istri ketimbang wanita itu yang tidak ada apa-apanya."
Nyonya Xavier mendengus kesal.
"Biarkan Derga bersama dengan wanita pilihannya. Jangan paksa dia untuk mengikuti apa yang kau mau."
Nyonya Xavier menoleh dan mendapati suaminya tengah berdiri di hadapannya sekarang.
"Aku hanya berusaha memberi yang terbaik untuk putra kita."
Nyonya Xavier terdiam. Dulu ia pun pernah menjadi kekasih dari seorang pria yang sempat di jodohkan oleh orang tuanya dengan wanita pilihannya. Dan ia tidak terima dan berusaha meyakinkan orang tua pria itu agar ia bisa di terima di keluarga Xavier. Dan terbukti, ia adalah pemenangnya.
Tuan Xavier melipir pergi menuju kamar, meninggalkan istrinya yang masih terdiam di bawah anak tangga.
Sementara di tempat kediaman keluarga Brighta. Seorang gadis tengah duduk dengan menatap pantulan dirinya di cermin. Wajahnya datar tanpa ekspresi.
Tidak ada seorang pun yang tahu jika dirinya menjalani hari-hari dengan senyum palsu. Terlebih usai kejadian malam itu. Ia merasa dunia begitu kejam padanya. Pria yang ia ketahui bernama Derga itu sudah merenggut kebahagiaan dirinya yang masih tersisa. Merenggut harga dirinya, merenggut dunianya.
__ADS_1
Setiap pagi ia selalu bangun dengan perasaan yang masih sama. Terkadang ia bangun dengan perasaan takut mengingat pagi itu ia dalam keadaan polos tanpa sehelai benang. Ia selalu menyibakan selimut guna memastikan jika dirinya masih menggunakan pakaian. Tidak ada seorang pun yang tahu jika dirinya sangat hancur.
"Aaarrrgghhh..." Ara menyapu bersih make up dan barang lainnya yang terdapat di meja rias hingga kini berserakan di lantai.
Ia memegangi kedua sisi kepalanya yang terasa sangat sakit.
"Kenapa aku harus bertemu lagi dengannya? Kenapa aku harus bertemu lagi dengan pria yang telah merenggut duniaku? Kenapa?"
Ara memukuli kepalanya, berharap bayangan itu bisa hilang dari ingatannya.
"Apa maksud bertemu lagi dengan pria yang telah merenggut duniamu?"
Deg.
Seketika jantung Ara terasa berhenti saat tiba-tiba mendengar suara seseorang. Ara mendongakan wajahnya dan menoleh ke arah pintu kamar. Kirana tengah berdiri di sana dengan tatapan yang menyimpan tanda tanya besar.
_Bersambung_
__ADS_1