
Momy Anika di buat bingung kenapa malam-malam bisa ada tamu yang mengaku sebagai sales panci di rumahnya. Ia sudah berusaha untuk mengusir sales tersebut secara halus. Namun sales tersebut justru tidak ingin pergi dari sana.
Pria bertubuh kurus dengan gaya bicara mirip seorang wanita itu kini justru memaksa ingin pergi ke dapur rumah tersebut. Guna membuktikan jika panci yang ia tawarkan sangatlah bagus dan stoknya terbatas. Serta harga yang cukup terjangkau.
Momy Anika dan ketiga pelayan di rumahnya kewalahan meladeni sales panci tersebut. Ia sudah berusaha untuk tegas, namun pria itu sama sekali tidak takut dengannya.
"Saya mohon jangan lancang di rumah orang. Saya tidak akan membeli panci anda, dan saya harap anda pergi dari sini!" usir momy Anika lagi seraya menunjuk ke arah luar.
Kebetulan malam ini suaminya sedang tidak ada di rumah. Lantaran tadi sore mendapat telepon jika ada pekerjaan mendadak di luar kota yang harus segera di selesaikan.
"Tapi, nyonya. Saya akan tetap membuktikan jika panci ini sangat bagus. Kualitas mewah tapi harga murah. Ini murce sekali, nyonya. Nyonya akan menyesal tentunya jika tidak membeli panci ini. Percaya, deh."
"Ok, stop. Iya, saya tahu ini panci yang bagus. Tapi saya harap jangan membuat kekacauan di rumah saya. Ini sudah malam, jadi tolong jangan mengganggu ketenangan kami. Sekarang, silahkan pergi dari sini."
__ADS_1
"Saya tidak akan pergi sebelum nyonya melihat bertapa berkualitas nya panci ini sampai nyonya tertarik untuk membelinya."
Momy Anika sudah tidak tahan lagi berdebat dengan manusia jadi-jadian ini. Kenapa juga satpam di rumahnya sampai memasukan manusia seperti ini ke rumahnya. Mana sales nya keras kepala dan tidak tahu diri.
"Ada apa, mom?" tanya Kirana yang baru saja datang ke dapur usai mendengar ada suara keributan di lantai bawah.
Momy Anika menghela napas karena akhirnya putrinya datang. Ia berharap jika Kirana bisa mengusir sales panci itu.
Belum sempat momy Anika menjelaskan yang terjadi, sales panci itu sudah lebih dulu menyerobot berbicara.
Kirana menoleh ke arah momy nya, momy nya menggeleng dan memberi sebuah kode jika pria itu benar-benar sudah tidak waras.
Sementara di kamar lantai atas, seorang gadis tengah bersiap-siap untuk pergi. Ia menggunakan hoddie berwarna hitam dan menutup kepalanya menggunakan ciput hoddie tersebut. Jarum jam sudah hampir menunjukan jam tujuh dan ia harus segera turun dan keluar dari rumah.
__ADS_1
Ia keluar dari kamar, menutup bahkan mengunci pintunya. Berjalan mengendap-endap ke arah tangga. Baru akan melangkah, ia melihat Kirana tengah berlari ke arah luar. Ia buru-buru mundur agar Kirana tidak sampai melihatnya. Tidak berapa lama, Kirana kembali ke arah dapur bersama satpam.
Ini adalah waktu yang bagus untuk ia pergi. Ia menuruni anak tangga dengan langkah cepat serta hati-hati. Begitu sudah sampai di ujung tangga, ia bergegas keluar karena kebetulan pintunya terbuka.
Ara berlari kecil menuju gerbang dan melihat gerbang tidak di gembok. Tentu saja itu menjadi kesempatan yang bagus untuknya.
Gadis itu menoleh ke arah kiri, lalu ke kanan. Ia melihat seorang pria melambaikan tangan padanya. Ia tersenyum lalu menghampiri pria tersebut.
"Aman?" tanya pria itu.
"Aman," jawab Ara.
Pria itu terdengar menghela napas lega setelah sebelumnya ia sedikit tegang lantaran khawatir rencananya gagal.
__ADS_1
_Bersambung_