
Mobil milik tuan Brighta sudah memasuki pelataran rumah dan di sambut oleh keluarga, kerabat, dan tetangga yang hadir turut berbela sungkawa. Banyak sekali karangan bunga di halaman rumah. Rekan bisnis Kirana dan seluruh orang-orang yang mengenal almarhum turut berduka cita atas kepegiannya.
Mobil Derga pun ikut memasuki pelataran rumah tersebut. Ara turun dari mobil daddy nya dengan tubuh yang tampak lemas. Ia masih tidak menyangka jika Kirana akan meninggalkannya secepat ini.
Sementara momy Anika dan Daddy Brighta sudah masuk ke rumah. Ara malah menghentikan langkah dan mematung sejenak. Sebelum kemudian ia menoleh ke belakang mendapati Derga yang berdiri di sana sejauh lima meter darinya.
"Kenapa kau masih di sini?" tanya Ara suara sedikit parau.
Derga menghembuskan napas pelan, lalu berjalan mendekat. Berhenti tepat di hadapan gadis itu.
"Aku akan tetap di sini. Bersamamu."
Ara mengalihkan pandangannya ke arah lain. Lagi-lagi Derga harus membahas hal tentang mereka.
"Apa kau tidak dengar, jika daddy tidak akan pernah menikahkan ku denganmu. Kenapa kau tetap saja keras kepala?"
Derga mengangkat sebelah sudut bibirnya.
"Aku tidak perduli. Aku akan tetap melakukan itu."
"Aku tidak mau."
"Kenapa?"
"Aku tidak ingin hidup di atas perasaan bersalah. Selamanya."
"Hanya itu?"
__ADS_1
"Iya."
Derga mengulas senyum tipis dan menatap Ara sangat lekat.
"Aku pikir karena kau tidak memiliki perasaan untukku."
Kening Ara seketika berkerut. "Apa maksudmu?"
"Jika itu alasan kenapa kau tidak ingin menikah denganku. Maka aku akan berpikir sebenarnya kau juga memiliki perasaan yang sama denganku."
"Jangan berpikir yang aneh-aneh. Aku sama sekali tidak menyukaimu. Aku menderita itu semua karenamu. Dan semua ini terjadi atas kesalahan dirimu."
Derga bergeming. Senyumnya perlahan memudar seiring tuduhan itu.
"Baiklah. Tidak masalah. Tidak apa-apa jika kau juga ikut menyalahkan aku. Tapi aku akan tetap menikahimu."
"Apa yang membuatmu keras kepala ingin menikahiku? Apa hanya karena kau sudah melihat tubuhku, lalu kau tertarik untuk melakukannya lagi?"
"Aku sama sekali tidak berpikir seperti itu."
"Apa karena kau kasihan usai mendengar cerita jika aku pernah terpuruk dan menderita selama enam bulan?"
Derga menggeleng.
"Lalu apa? Apa karena semata kau ingin menebus perasaan bersalahmu?"
Derga menggeleng kan kepalanya lagi.
__ADS_1
"Awalnya memang begitu. Aku berpikir ingin menikahiku karena aku ingin bertanggung jawab atas kesalahanku. Tapi sekarang tidak hanya itu, aku ingin menikahimu karena aku sadar. Jika aku mencintaimu."
Ara seketika bergeming. Entah kenapa mendengar itu sekujur tubuhnya berubah beku seolah telah terkutuk menjadi batu. Napasnya serasa tertahan.
Ara membalikan tubuhnya berniat untuk pergi dari sana. Namun ia kalah cepat dengan tangan Derga yang kini meraih pergelangan tangannya lalu membawanya ke dalam pelukan.
Ara tercengang dengan apa yang di lakukan oleh pria itu usai mengatakan hal tadi. Ia ingin memberontak namun tubuhnya enggan menolak pelukan pria itu.
"Aku mencintainu, Kinara. Menikahlah denganku," ucap Derga sekali lagi tepat di telinga gadis itu.
Perasaan Ara semakin berdebar tidak karuan. Degup jantungnya berpacu di atas normal. Mulutnya serasa di kunci.
Derga melepaskan pelukannya. Menatap kedua manik Ara secara bergantian. Kedua tangannya memegang kedua bahu gadis itu.
Cup!
Ara merasakan sesuatu yang lembab menyentuh bibirnya ketika pria itu mendaratkan sebuah kecupan lembut. Ia merasa dunia seketika berhenti berputar.
"Aku mencintaimu." ucap Derga untuk yang kesekian kalinya.
Ara menatap wajah Derga cukup lama.
"Mmmppphhh ..." Ingatan ciuman ganas malam itu kini kembali berputar di kepalanya.
Ara sontak mendorong tubuh Derga dengan keras agar menjauh darinya sehingga pria itu terjatuh. Kemudian ia segera pergi dari sana memasuki rumah dengan berlari kecil.
Derga kemudian bangkit dan menatap kepergian Ara. Ia melihat masih ada ketakutan di wajah gadis itu terhadapnya. Ia berpikir untuk membawa Ara konsultasi ke psikolog agar dia benar-benar sembuh.
__ADS_1
_Bersambung_