PESONA CALON ADIK IPAR

PESONA CALON ADIK IPAR
Mencari Kinara


__ADS_3

Derga menekan klakson mobilnya berulang kali hingga satpam rumah tempat kediaman Brighta kini lari terbirit-birit untuk membukakan pintu gerbang. Mobil pun masuk ke pelataran rumah begitu pintu gerbang sudah di bukakan.


Pria itu turun dari mobilnya dan melangkah menuju pintu depan rumah. Menekan bel dan berharap seseorang muncul.


Pintu pun terbuka usai bel di tekan berulang kali. Namun, yang muncul bukan seseorang yang ia tuju.


"Aku ingin bertemu dengan Kinara, apa dia ada di rumah?" tanya Derga kemudian.


"Maaf, tuan. Nona Kinara atau Kirana?" tanya pelayan rumah tersebut lantaran yang ia tahu pria yang saat ini berdiri di hadapannya merupakan calon suami dari putri majikannya yang bernama Kirana.


"Kinara." Derga memperjelas lagi jika ia ingin bertemu dengan Ara, bukan Ana calon istrinya.


"Nona Kinara sedang pergi bersama nyonya Brighta, tua. Kalau nona Kirana seperti biasa pergi ke tempat bisnisnya."


"Kalau boleh tahu, Kinara pergi kemana?"


"Maaf, tuan. Saya tidak tahu."


"Ah baiklah kalau begitu terima kasih. Permisi." Derga melipir pergi menuju mobilnya usai berpamitan.


Sementara pelayan rumah tersebut kembali masuk ke dalam rumah guna melanjutkan aktivitas rutinitasnya.


Derga masuk ke dalam mobilnya. Terdiam untuk beberapa saat ketika ingatan malam itu seketika muncul di kepalanya tadi.


"Apakah aku benar-benar melakukan apa yang ada dalam bayangan ingatanku pada Kinara?"


Derga merasa jika hidupnya kini di penuhi oleh rasa bersalah. Terlebih usai bayangan malam itu yang tiba-tiba saja muncul dan ia sejahat itu pada Kinara pada malam di enam bulan lalu.


"Aku harus hubungi Evril untuk mempercepat pergerakan menghancurkan bisnis dunia malam wanita itu."

__ADS_1


Derga merogoh benda pipih di balik saku kantong celananya. Ia mendial **** asisten pribadinya di layar hp. Menempelkan benda pipih tersebut ke daun telinga.


"Halo, Vril." ucap Derga begitu sambungan telepon terhubung.


"Iya, tuan. Ada yang bisa saya bantu?"


Derga lekas memberi tahu maksud dan tujuannya menelepon pria itu. Evril pun patuh terhadap permintaan tuannya.


"Baik, tuan. Saya akan mempercepat pergerakannya."


"Bagus."


Sambungan telepon berakhir. Derga memasukan kembali ponselnya ke kantong celana. Menghidupkan mesin mobil dan pergi dari sana usai satpam rumah tersebut membukakan pintu gerbangnya.


Baru saja pintu gerbang di tutup oleh satpam dan belum sempat untuk duduk, ia harus membuka pintu gerbangnya lagi saat ada mobil lain berhenti di depan pintu gerbang. Ia bergegas membukakan pintu gerbangnya.


Pengemudi mobil tersebut turun dan masuk ke dalam rumah tanpa menekan bel. Dan di dalam ia berpapasan dengan seorang pelayan yang tengah membersihkan rumah.


"Iya, ada yang ketinggalan." jawab wanita itu dengan senyum kecil lalu melanjutkan langkah.


"Tadi ada tuan Derga datang, non."


Kalimat pelayan tersebut mengurungkan langkah Kirana. Wanita itu menatap pelayan yang berada di bawah tangga.


"Mau apa? Dia kan tahu kalau aku di sedang ada di tempat bisnisku."


"Tuan Derga tidak mencari nona Kirana."


Ana mengerutkan keningnya heran. "Lalu dia datang untuk apa?"

__ADS_1


"Tuan Derga mencari nona Kinara."


Deg!


Mendengar itu aliran darah Ana serasa berhenti seketika. Ia memastikan lagi jika pelayan di rumah pasti salah dengar.


"Mungkin bibi salah dengar. Untuk apa Derga mencari Ara?"


"Bibi sudah memastikannya, non. Tuan Derga mencari nona Kirana atau nona Kinara? Sebab setahu bibi tuan Derga itu calon suaminya nona Kirana. Tapi tuan Derga menjawab jika dia mencari nona Kinara. Bibi kasih tahu saja jika nona Kinara sedang pergi bersama nyonya."


Kirana seketika bergeming. Rupanya hal ini patut untuk di curigai. Sebab tidak hanya kebetulan untuk satu atau dua kali. Tapi ia merasa jika ada sesuatu di antara mereka.


"Terima kasih informasi nya, bi."


"Iya, non."


Kirana bergegas meniti anak tangga dan sampai di depan pintu kamarnya. Tangannya yang sudah memegang knop pintu tidak jadi untuk membukanya saat kedua matanya tertuju pada pintu kamar yang berada di sebelahnya. Ia menarik kembali tangannya dan berjalan beberapa langkah menuju pintu kamar tersebut.


Ana berdiri di depan pintu kamar Ara. Ia merasa harus mencari sesuatu di sana. Namun, begitu ia putar knop pintunya, ternyata di kunci.


"Ah, sial. Kenapa harus di kunci segala, sih?"


Kirana merasa jika ia gagal mencari sesuatu yang bisa membuktikan jika memang ada sesuatu di antara Derga dengan adiknya.


"Aku yakin jika memang ada sesuatu di antara mereka."


Seketika Kirana merasa takut jika dugaannya itu benar adanya. Ia takut sekali jika calon suaminya ada di balik perkiraannya tentang kondisi Ara.


Kirana memijat pangkal pelipisnya. Ia berusaha menepis dan mengusir pikiran buruk itu. Ia tidak boleh menuduh sembarang tanpa adanya bukti.

__ADS_1


_Bersambung_


__ADS_2