
Keadaan semakin genting. Kirana mencopot salah satu alat medis yang terpasang di tubuhnya. Hingga membuatnya kini kejang.
"Kiranaaa .. Sadar, sayang. Kiranaaa .. Ah ya ampun, apa yang harus aku lakukan?"
Momy Anika tidak bisa berbuat apapun selain menunggu kedatangan Dokter. Rasanya sakit melihat putrinya hampir sekarat seperti ini namun tidak ada yang bisa ia lakukan selain diam dan menunggu.
Ara dan Derga melepaskan pelukannya begitu mendengar suara seseorang keluar dari ruangan Kirana. Dan ternyata itu Daddy Brighta. Wajahnya tampak panik.
"Apa yang terjadi dad?" tanya Ara namun tidak di gubris lantaran yang ada di dalam pikirannya saat ini hanyalah memanggil Dokter.
Ara dan Derga melihat ke dalam. Keduanya tampak syok melihat kondisi Kirana yang tengah kejang-kejang. Dan momy Anika tengah menangis.
"Aku harus masuk ke dalam."
Ara melipir dari sana namun segera Derga cegah dengan menarik pergelangan tangan gadis itu.
"Tetaplah di sini."
Ara menepis tangan Derga. "Aku tidak bisa berdiam diri saja. Kak Ana sedang berjuang dengan nyawanya."
__ADS_1
"Aku juga tidak akan membiarkanmu masuk. Aku tidak ingin kau yang akan menjadi sasaran atas apa yang akan terjadi pada Kirana nantinya."
"Aku tidak perduli."
Ara kukuh ingin masuk, namun sebisa mungkin Derga cegah.
"Lepaskan aku! Lepaskan!" Ara berusaha melepaskan tangannya yang di cekal oleh Derga, namun tenaganya tidak sebanding dengan tenaga yang pria itu miliki untuk menghentikan langkahnya.
Seorang Dokter dan suster datang dengan langkah tergesa dan masuk ke dalam ruangan Ana.
"Ada Dokter, kita cukup lihat dari sini saja."
Derga menoleh ke arah kaca dan menunjuk ke arah dalam. "Lihat! Kedua orang tuamu pun di minta untuk keluar."
Ara mengikuti arah telunjuk Derga. Dan benar saja, momy dan Daddy di minta untuk keluar dari sana. Gadis itu pun berhenti meronta.
Derga melepaskan cekalannya ketika momy Anika dan Daddy Brighta keluar. Ara segera menghampiri mereka dan di sambut peluk oleh momy. Keduanya menangis secara bersamaan.
"Kak Ana pasti akan baik-baik saja kan mom?"
__ADS_1
Momy Anika menggeleng. "Momy juga mengkhawatirkan hal itu, sayang. Kita berdo'a saja semoga Kirana bisa sembuh dan sehat lagi."
"Iya, mom. Aku tahu, kak Ana orang yang kuat. Di saat dia masih kecil pun, dia mampu berjuang untuk kesembuhannya. Dan sekarang kita harus yakin jika kak Ana akan sembuh."
"Aamiin .."
Momy dan Ara melihat Kirana dari kaca di sertai dengan do'a yang mereka panjatkan agar Kirana bisa sembuh. Mereka saling menguatkan satu sama lain. Momy tidak benci pada Ara, begitupun dengan daddy.
Daddy Brighta berjalan beberapa langkah dan berhenti tepat di hadapan Derga. Sebelumnya dia sudah memberi hukuman pada Derga berupa tamparan dan juga pukulan. Derga diam mendapat itu karena merasa pantas. Hingga saat ini sudut bibir pria itu masih menyisakan bekas luka minggu lalu.
"Jauhi putri-putri saya. Dan jangan pernah berharap untuk mendapatkan salah satu dari keduanya." ucap Daddy lirih namun penuh penekanan.
"Maaf. Apapun yang terjadi, aku tetap akan bertanggung jawab atas apa yang sudah aku lakukan terhadap Kinara. Aku akan menikahi Kinara dalam waktu dekat ini."
Kedua tangan Daddy mengepal dan siap untuk melayangkan pukulan pada Derga lagi. Namun urung begitu mendengar suara istri dan putrinya menjerit histeris.
"Kiranaaaaa.." teriak momy Anika dan Ara hampir bersamaan.
Daddy Brighta dan Derga melihat ke dalam. Suster menaikan selimut hingga menutupi sekujur tubuh Kirana. Tubuh Daddy Brighta ikut melemas seiring Dokter itu menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
_Bersambung_