
Derga mengurungkan niatnya untuk masuk ke mobil setelah melihat seseorang berjalan menghampiri dirinya. Padahal ia sudah membuka pintu mobil tersebut.
"Sayang .." ucap Derga lirih.
Pria itu menutup mobilnya kembali dan selangkah maju guna menghampiri calon istrinya tersebut.
"Sayang, kau-"
"Jelaskan padaku, Derga!" ucap wanita itu kemudian.
Derga mengerutkan keningnya merasa bingung dengan permintaan wanita di hadapannya.
"Jelaskan apa, sayang?"
Kirana tampak menyunggingkan sebelah sudut bibirnya melihat Derga yang ia kenal selama dua tahun ini kini terlihat berpura-pura boddoh di hadapannya.
__ADS_1
"Kau datang ke sini tapi bukan untukku. Tadi pagi juga kau datang ke sini untuk mencari Kinara. Aku jadi curiga, jika ada sesuatu di antara kalian."
Seketika tubuh Derga menegang. Namun pria itu ahli dalam mengendalikan sebuah ekspresi agar terlihat tenang. Jadi ternyata Kirana melihatnya bersama Kinara, dan sepertinya pelayan di rumah ini juga mengadu akan kedatangannya tadi pagi untuk mencari Kinara.
"Aku tidak seperti yang sedang kau pikirkan saat ini, Kirana. Kau bebas berpikir apapun tentang aku tapi aku tidak seperti itu. Aku memang kebetulan ada urusan dengan adikmu."
Derga berusaha menjelaskan. Akan tetapi Ana tidak semudah itu untuk percaya. Pikirannya sudah di penuhi kabut emosi sehingga tidak ada lagi ruang untuknya bisa tetap berpikir positif.
"Urusan apa? Sejak kapan kau memiliki urusan dengan Kinara? Bukankah kalian tidak pernah kenal ataupun bertemu sebelumnya? Lalu kenapa sekarang tiba-tiba memiliki urusan secara kebetulan?" Kirana mencerca Derga dengan berbagai pertanyaan.
Derga terdiam menatap Kirana. Ia juga bingung harus menjelaskannya dengan cara apa. Sebab tidak mungkin ia mengatakan yang sebenarnya pada Kirana. Bukan bermaksud untuk bohong atau menutupi hal sebesar ini darinya, tapi memang ini sesuatu yang sangat besar. Tentunya tidak mudah untuk menceritakan kebenarannya. Harus dengan kepala dingin. Dan itupun tidak menjamin jika Kirana akan baik-baik saja setelah mendengarnya.
Derga memegang masing-masing kedua bahu Ana, pria itu menatap lekat manik mata Kirana secara bergantian.
"Kirana, sayang. Aku minta maaf jika aku belum bisa mengatakan apa urusanku dengan Kinara. Tapi aku mohon agar kau tidak berpikir yang macam-macam tentang kami. Please, percayalah padaku."
__ADS_1
Kirana menurunkan tangan Derga dari pundaknya. Entahlah apakah ia masih bisa mempercayai pria itu. Dua tahun merupakan waktu yang tidak sebentar. Dan sebentar lagi mereka akan melanjutkan hubungan ke jenjang pernikahan. Tapi kenapa justru ia di buat ragu terhadap pria itu. Terlebih kedekatan Derga dan Ara tadi di bangku taman seperti dua orang yang tak biasa.
"Aku tidak tahu apakah aku masih bisa percaya denganmu atau tidak, Derga."
"Why? Why, sayang? Kenapa kau begitu cepat menyimpulkan sesuatu yang belum tentu kebenarannya? Kirana, percayalah padaku jika aku hanya mencintai dirimu."
"Aku pun demikian, Derga. Tapi-"
"Tapi apa?"
Kirana terdiam. Selama ia berhubungan dengan Derga, ia memang tidak pernah mendapati Derga berpaling dengan wanita lain. Dan rasanya sangat sakit begitu ia melihat pria itu justru malah dekat dengan adiknya sendiri. Ia yakin jika ada hal besar yang mereka tutupi selama ini.
"Tapi apa, sayang?" Derga sudah tidak sabar ingin mendengar kalimat lanjutan Kirana.
_Bersambung_
__ADS_1