
"Aku tidak tahu apakah aku masih bisa percaya denganmu atau tidak, Derga."
"Why? Why, sayang? Kenapa kau begitu cepat menyimpulkan sesuatu yang belum tentu kebenarannya? Kirana, percayalah padaku jika aku hanya mencintai dirimu."
"Akupun demikian, Derga. Tapi-"
"Tapi apa?"
Kirana terdiam. Selama ia berhubungan dengan Derga, ia memang tidak pernah mendapati Derga berpaling dengan wanita lain. Dan rasanya sangat sakit begitu ia melihat pria itu justru malah dekat dengan adiknya sendiri. Ia yakin jika ada hal besar yang mereka tutupi selama ini.
"Tapi apa, sayang?" Derga sudah tidak sabar ingin mendengar kalimat lanjutan Kirana.
"Tapi .. Entahlah, aku tidak tahu. Apakah aku harus menunda pernikahan di antara kita atau justru membatalkannya sekalian."
Seketika Derga merasa kecewa dengan keputusan wanita itu yang dengan mudahnya mengatakan hal tersebut. Padahal ia berusaha untuk mengerti ketika pernikahan mereka harus di tunda. Tapi kenapa Ana justru memiliki pikiran sampai sejauh itu.
Ana berharap dengan itu Derga mau menjelaskan apa yang sebenarnya pada dirinya. Ia berharap Derga terbuka dan tidak menutupi sesuatu apapun lagi dengannya. Apalagi ini ada hubungannya dengan Ara.
Alih-alih Derga mengatakan sesuatu seperti yang ia harapkan. Jangankan untuk memohon apalagi meminta dirinya untuk menarik ucapannya. Derga justru malah mengiyakan begitu saja.
"Baiklah jika itu yang kau mau. Aku akan menurutinya."
__ADS_1
Kini Kirana sendiri yang di buat ketar ketir dengan jawaban Derga.
Pria itu berjalan mundur dan membuka pintu mobilnya lalu masuk.
"Derga, bukan begitu maksudku. Ah ayolah sayang, dengarkan penjelasan aku dulu."
Dug dug dug dug ..
Kirana mengetuk kaca jendela pintu mobil Derga untuk meluruskan maksudnya. Jika ia tidak bersungguh-sungguh untuk membatalkan pernikahan. Melainkan menjadikan senjata itu supaya Derga mau jujur.
"Sayang .. Buka dulu, pintunya. Bukan itu maksudku, aku hanya ingin kau jujur padaku. Itu saja."
Kirana berusaha mengejar mobil Derga yang sudah mulai pergi meninggalkan pelataran rumah.
Namun, mobil Derga sudah melesat pergi dari sana. Kirana mengepalkan kedua tangan nya dan menghentakkan kaki.
"Aaaarrrggghhh ...." teriaknya frustasi.
Ia benar-benar menyesal sudah mengatakan hal tersebut pada Derga meski itu hanya sebuah pancingan agar Derga mau jujur. Tapi itu justru malah menjadi boomerang baginya. Derga terlanjur kecewa dengannya yang mudah sekali mengatakan hal tersebut.
Dug dug dug ..
__ADS_1
"Araaaa ..."
Dug dug dug ..
"Araaa .. Kinaraaa .. Tolong buka pintunya!"
Dug dug dug ..
"Kinaraaaa ..."
Ana menggedor-gedor pintu kamar adik nya seraya berteriak memanggil namanya.
"Kinara buka pintunya!"
Berulang kali Ana menggedor pintu kamar serta berteriak memanggil nama adiknya. Namun, tidak ada sahutan dari dalam. Justru malah momy dan daddy yang keluar dari kamar dan menghampiri nya untuk memastikan keadaan.
"Ana, kenapa teriak-teriak di kamar, Ara?"
Tanpa mengatakan sepatah kata pun, Ana langsung menghambur ke dalam pelukan momy Anika. Wanita itu langsung khawatir telah terjadi sesuatu di antara kedua putri nya. Sebelumnya Ana tidak pernah seperti ini. Berteriak-teriak memanggil adik nya seraya menggedor-gedor pintu.
Tuan Brighta sendiri ikut khawatir sebetulnya. Hanya saja seorang pria tidak pandai mengekspresikan perasaan nya seperti seorang wanita. Ia terlihat cukup tenang dan diam.
__ADS_1
_Bersambung_