
El yang baru saja datang, langsung membuka pintu rumah dan mencari keberadaan adiknya itu.
"Gress mana Alisha? " Tanya El sedikit marah.
"Di-di kamar mandi, sudah sejam ia belum keluar dari kamar mandi, aku sudah mencoba memanggilnya tapi tak ada jawaban dari dalam El, aku sangat khawatir.. " Jawab Gress panik.
Tanpa bertanya lagi El yang masih memakai seragam polisinya itu langsung pergi ke kamar mandi , mencoba memanggil nama adiknya dari luar pintu namun tak ada jawaban, lalu El mendobrak pintu kamar mandi untuk memastikan keadaan adiknya itu baik-baik saja, namun betapa paniknya El saat melihat Alisha tengah tergeletak dibawah shower yang masih menyala dengan tangan yang bersimbah darah, mencoba bunuh diri menggunakan cutter yang ia bawa dari dapur tadi. Hati kakak mana yang tak sedih dan panik jika melihat adik perempuan satu-satunya tergeletak tak sadarkan diri.
"Alishaa.. Apa yang kau lakukan.. Aku akan membawamu ke rumah sakit sekarang! Gress ambilkan handuk dan pakaian ganti untuk Alisha, kau bisa menggantinya di mobil nanti!" Ucap El panik , lalu membawa Alisha yang masih basah kuyup ke mobil Gress .
"Gress ayo cepat! Aku tak ingin sesuatu terjadi pada adikku! "teriak El semakin panik, ia merobek baju Gress yang ada di bangku belakang mobil untuk mengikatkannya pada pergelangan tangan Alisha, agar darahnya tidak terus keluar. Gress pun masuk ke dalam mobil, ia melihat kalau baju kesayangannya itu di robek El, namun ia hanya diam tak bisa berkata apapun, ia berfikir "ternyata Alisha sangat berharga dibanding aku! " Sambil mencoba menganti pakaian Alisha yang basah.
Saat ini El sangat panik, membuat Gress sedikit cemburu, karena Gress tak pernah melihat El sepanik seperti saat ini.
"Jika aku yang ada di posisi Alisha saat ini, apa kau juga akan bersikap dan memperlakukan aku seperti ini El?! " Batin Alisha dalam hatinya.
Sesampainya di rumah sakit.
El langsung membawa Alisha dari dalam mobil, lalu berlari sambil menggendong Alisha dengan kedua tangannya dan mencari suster.
"Sus tolong adik saya! "
"Baik pak, tolong simpan di ranjang ini saja, dokter akan segera kemari! "
"Cepat sus, selamatkan adik saya! "
"Bapa tunggu dulu saja di luar , kami akan melakukan yang terbaik untuk adik bapa! " Ucap suster tersebut.
El pun duduk di kursi tunggu bersama Gress. Ia tak mempedulikan seragamnya yang terkena simbahan darah sang adik. Matanya berkaca-kaca , masih terbayang kejadian tadi, Gress yang mencoba menyemangatinya pun tak ia gubris, pikirannya kacau saat ini. Ia teringat sosok kedua orang tuanya saat mereka memasuki ruangan yang saat ini Alisha tempati.
"Tuhan, selamatkan adikku, aku tak memiliki siapa pun lagi, hanya adikku yang tersisa, kau telah ambil kedua orang tuaku, tolong jangan kau ambil juga adikku, ia satu-satunya harapanku di dunia ini.. " Batin Al berdoa.
__ADS_1
Gress yang melihat El menundukan kepalanya begitu sedih, merasakan apa yang El rasakan, ketakutan yang mungkin terulang lagi. Gress pun pergi untuk membeli makanan dan minuman, karena ia tahu sejak pagi El tidak mau makan dan minum karena belum menemukan adiknya itu.
***
Di ruang meeting Al.
"Cukup sekian untuk meeting hari ini, jika ada yang ingin kalian tanyakan, silahkan tanyakan pada Steve asisten saya, saya mohon pamit karena masih ada urusan lain, terimakasih! " Ucap Al pada seluruh rekan bisnisnya.
Ia pun keluar dari ruangan meeting itu, berjalan menuju parkiran. Sepanjang perjalanan menuju parkiran ia terus menghubungi Alisha namun tak ada siapa pun yang mengangkatnya. Batin Al bingung dengan situasi ini, mengapa Alisha tiba-tiba sikap Alisha berubah.
"Pak, antar saya ke hotel Senja, saya ada meeting di sana! " Ucap Al pada drivernya.
"Baik pak! "
Sang driver pun tiba bersama mobil Al, lalu Al masuk dalam mobilnya.
Dalam perjalanan ia terus memikirkan Alisha, ia merasa kalau ada sesuatu yang terjadi pada Alisha, tapi ia tak tahu apa itu. Ia menekan nomor dalam ponsel lalu menghubungi seseorang.
***
Keesokan harinya..
Pukul 06.38 pagi di rumah sakit
El yang tertidur di samping Alisha dengan posisi duduk menghadap Alisha, tangan El yang tak lepas menggenggam tangan Alisha. Sedangkan Gress tertidur di sofa dengan selimut hangatnya.
"Kak El.. Kak El.. Alisha sudah bangun kak.." Ucap Alisha yang baru saja siuman membangunkan El yang baru saja tertidur 2 jam lalu.
"Alisha, kau sudah bangun dek.. Bagaimana keadaanmu sekarang? "
"Memangnya Alisha kenapa kak? Terus sekarang Alisha dimana? "
__ADS_1
"Kamu pingsan di kamar mandi rumah kita dengan tangan yang bersimbah darah kemarin, sekarang kamu di rumah sakit! "Jelas Al pada adiknya.
Alisha terdiam mencoba mengingatnya.
"Alisha, kau sudah sadar? " Tanya Gress yang baru saja bangun sambil mengucek matanya.
"Sudah! " Ucap Alisha.
"Sekarang bagaimana keadaan mu? " Tanya Al sambil meraba dahi adiknya itu.
"Aku tidak apa apa kak, kakak tak perlu cemas, kakak kan tau selama kak EL ada di sampingku, aku pasti baik-baik saja! " Jawab Alisha sambil tersenyum.
"Sekarang kamu makan dulu ya, biar kakak suapi! "El pun mengambil bubur yang sudah di sediakan perawat tadi pagi, beberapa menit yang lalu dan menyuapi Alisha , betapa bersyukurnya El melihat adiknya kembali tersenyum meski banyak pertanyaan dalam hatinya, namun ia mencoba untuk larut dalam situasi ini.
Melihat kedekatan Alisha dan El membuat Gress cemburu lagi, karena saat Gress sakit beberapa bulan lalu, El tidak secemas dan seperhatian saat ini. Kali ini El rela seharian menjaga adiknya. Ia rela izin pada komandannya demi adiknya. Gress yang tak kuasa melihat kejadian ini pun langsung izin keluar pada El untuk membeli sarapan , padahal itu hanya alasan, ia tak pernah se cemburu ini sebelumnya, mungkin karena Gress tak memiliki kakak atau pun adik, itu sebabnya ia merasa cemburu pada perlakuan kakak beradik itu. Orang tua Gress juga sibuk bekerja dan berbisnis, itu sebabnya ia kurang kasih sayang dari orang terdekat.
Siang harinya, El mencoba bertanya pada Alisha, kejadian apa yang membuatnya sampai ingin mengakhiri hidupnya, dan kemana dirinya kemarin sampai seharian tak pulang.
"Aku hanya tidur di rumah teman lamaku kak, aku tak menghubungi kakak karena ponselku lowbat dan di sana temanku tak memiliki charger yang sama denganku ! " Jawab Alisha berbohong.
"Lalu kenapa kau mencoba bunuh diri di kamar mandi? Kau tau tak bagaimana paniknya kakakmu ini, karena ulah mu itu Alisha! " Ucap El.
"Aku minta maaf kak, Tiba-tiba saja aku teringat mamy and daddy untuk menyusul mereka, entah kenapa tanpa aku sadari aku melakukan itu semua, aku minta maaf kak El.. Aku sudah membuat kak El khawatir.." Ucap Alisha menyesali perbuatannya, meski bukan itu yang sebenarnya terjadi.
"Alisha.. Jangan kau ulangi perbuatanmu itu yaa, hampir copot jantung kakakmu ini, kau tau bagaimana sayangnya kakak padamu?! Janganlah kau berfikir untuk menyusul orang tua kita, apalagi sampai bunuh diri, kau tak berfikir bagaimana kakakmu sendirian nanti? " Ungkap El sambil memeluk erat adiknya itu.
"Iya kak, aku minta maaf, aku tak akan melakukan itu lagi demi kak El ! Aku janji kak!" Ucap Alisha berjanji kelingking pada kakaknya itu.
"Aku minta maaf karena tak bisa berkata yang sebenarnya pada kak El! Aku takut kalau kak El akan semakin sedih jika tau yang sebenarnya.. " Tutur batin Alisha.
Ia sengaja berbohong karena takut kalau semuanya semakin runyam saja. Apalagi jika kak El tau yang sebenarnya, bisi saja ia menembak Al dengan pistolnya karena emosinya itu.
__ADS_1
Di sisi lain Steve terus mencari tahu keberadaan Alisha karena ia juga mengkhawatirkan sahabatnya itu.