
Pukul 11.40 siang
Steve pergi meninggalkan Al, ia melangkah bersama dengan rasa kecewanya pada bos sekaligus sahabatnya itu.
Rini yang datang untuk menemui Alisha karena ia ingin menjenguk sahabatnya itu sekalian melihat Steve yang sejak pagi tak ada di kantor. Namun belum sampai di ruangan Alisha ia berpapasan dengan Steve , wajahnya terlihat kesal dan penuh rasa kecewa, membuat Rini heran. Apa yang terjadi sebenarnya dengan Steve, ia pun memberanikan bertanya.
"Steve ada apa? Are you ok? Steve?!! Please jawab gue , lo kenapa? " Tanya Rini heran namun cemas.
Oh iya semenjak kejadian di kantin kemarin, hubungan mereka menjadi akrab layaknya teman.Menurut Steve panggilan aku kamu juga terlalu formal untuk sebuah pertemanan jadi mereka pun hanya memakai sapaan itu ketika di kantor saja.
Namun Steve tak menggubrisnya, ia melanjutkan langkahnya ke parkiran untuk mengambil mobilnya, namun situasi ini membuat Rini semakin cemas, ia pun berlari menyusul Steve, sesampainya di parkiran ia langsung masuk mobil Steve tanpa banyak bertanya.
"Kenapa kau masuk ke mobilku? " Tanya Steve dengan nada tinggi.
"Aku khawatir denganmu! "
"Keluar sekarang! "
"Engga!! "
"Lo punya telinga kan? Gue bilang keluar sekarang! "
"Lo lagi emosi, gue takut lo kenapa kenapa Steve! " Ucap Rini .
Steve pun mengabaikannya ia langsung tancap gas tak mendengarkan apapun yang dikatakan Rini.
Kini Rini seolah lupa kalau Steve adalah bosnya juga di kantor, perbincangan mereka sudah seperti layaknya teman yang berteman cukup lama.
Steve terus membawa mobilnya dengan kecepatan tinggi "Steve lo kenapa sih? Please Steve jangan gini! " Rini ketakutan karena Steve membawa mobil sangat kencang.
"Udah biar gue aja yang bawa mobil! " Ucap Rini, namun Steve mengabaikannya.
"Kenapa lo setega itu sama gue Al?! Apa yang ngga gue kasih, gue abdikan diri gue buat lo!! Emang dasar a*j*ng lo!! Brengsek lo Al!!! " Batinnya sambil terus menambah kecepatan mobilnya.
Ckiiiitttt
__ADS_1
Steve mengerem rem mobilnya mendadak, ia hampir menabrak seorang anak kecil yang akan menyebrang bersama ibunya.
"Huffttt! " Steve menghela nafasnya.
"Steve!!!! Gue belum mau mati!!" Bentak Rini spontan.
"Sorry Rin!"
"Iya ngga apa apa, mending kita tukeran aja, gue tau lo lagi banyak pikiran! Gue takut lo kenapa kenapa! " Ucap Rini namun Steve tak mengangguk sekali mengisyaratkan setuju.
Sejam perjalanan kemudian..
"Steve.. " Dengan nada pelan, takut membuat Steve marah.
"Kita udah sampe ,ayo kita turun!" Rini menghentikan mobilnya karena tujuannya sudah sampai, Rini membawa Steve ke sebuah danau, berharap agar Steve dapat menceritakan apa yang terjadi padanya dan membuatnya jadi seperti ini.
Mereka pun duduk di bangku depan danau, tatapan Steve seperti kosong, begitu besar rasa kecewanya.
"Gue harap dia bisa lebih tenang! Sebaiknya gue beli minum dulu deh" Rini pun pergi membeli minum, berharap Steve bisa menenangkan dirinya dulu.
Pukul 16.00 , Setelah kejadian 2 jam lalu tadi kini El baru kembali lagi,di sana tak terlihat siapa pun termasuk Al. Ia duduk termenung di depan ruang ICU, ia mengeluarkan gantungan kunci bertuliskan "I love brother, we are together forever" , itu adalah hadiah yang pernah Alisha berikan padanya sebelum ia pergi ke Kalimantan untuk bertugas, maklum saja ia kan abdi negara jadi kapan saja bisa di pindah tugaskan.
"Dek, hadiah ini masih sama seperti saat kamu ngasih ini ke kak El waktu itu.. "
Flashback on
"Kenapa kakak nangis? Kakak sedih karena harus ninggalin aku lagi yaa? "
"Iya de.. Kakak sedih karena kali ini kita berpisah untuk waktu yang lama.. Kakak harus pergi untuk tugas di Kalimantan Timur.. "
"Aku juga sebenernya sedih.. Tapi mau gimana lagi.. Ngga ada yang bisa ngelarang kakak juga kan.. "
"Kakak minta maaf ya de.. Jika kakak ada waktu luang kakak pasti akan selalu ngabarin kamu.. Im promise !! "
"Iya kak.. Aku akan selalu nunggu kabar dari kakak.. "
__ADS_1
Flashback off
"Dan kamu masih nepatin janji kamu untuk nunggu kabar dari kakak, tapi kakak yang salah karena ngga ngabarin kamu de.. "
"Permisi.. Pasien mulai membaik dan akan di pindahkan ke ruang rawat inap! "Seorang suster menyadarkan lamunan El
"Apa dia sudah sadar sus? " El begitu antusias mendengar kabar adiknya.
"Belum namun semuanya sudah cukup membaik jadi dokter bilang akan dipindahkan ke ruang vip pasien! "
"Vip? Siapa yang menyuruh? " Herannya
"Seseorang yang membawa pasien itu kemari! Ia sudah membayar seluruh tagihannya bahkan hingga masa pemulihan! " Sambil memberikan sebuah kertas rincian biaya adiknya itu yang sudah di tanda tangani Al.
"Al! Si brengsek itu lagi! Akan ku urus dia nanti! Apa maunya orang itu ,belum puas kah dia membuat adikku jadi seperti ini!! " Batin El , darahnya seakan mendidih lagi.
Namun ia mencoba menenangkan dirinya lagi "Baik sus terima kasih banyak! " Sang perawat pun pergi untuk memastikan keadaan Alisha lagi.
"Terima kasih Tuhan, engkau mendengar doaku! " Ucap El dalam benaknya sambil menutup mata.
Di ruang VIP..
"Semuanya sudah saya pindahan ke sini! Jika ada apa-apa tekan saja tombol ini! Saya permisi dulu! " Sang suster pun pergi meninggalkan El
"Terima kasih banyak sus! "
"Sama-sama pak! " Sambil melanjutkan langkahnya meninggalkan ruangan Alisha.
"Syaa kapan kamu sadar, kakak kangen suara kamu, marah kamu, cerewetnya kamu.. Please syaa jangan gini terus, kakak khawatir syaa .. " El lagi lagi menggenggam tangan Alisha dengan erat sambil membelai lembut rambut adiknya , pria ini seolah tak lelah untuk menyemangati adiknya untuk bangun dari mimpi panjangnya itu , namun mau bagaimana lagi adiknya belum juga sadarkan diri.
"Sebaiknya saya harus datang menemui pria brengsek itu!! " Tanpa berfikir panjang Al pun menelepon Steve dan meminta nomor ponsel Al lalu menghubunginya untuk mengajaknya bertemu dan akhirnya Al pun mau lalu dan mereka pun bertemu di Cafe Soya , cafe yang tak terlalu jauh dari rumah sakit.
Kira kira apa ya yang bakalan di omongin El? Komen terus yaa, biar aku tau kalau cerita aku masih ada yang baca!
Terima kasih 🙏 💕
__ADS_1