
Namun ternyata Al bergerak lebih cepat dua langkah dibandingkan Laras, Al tau jika Laras akan mencelakakan kekasihnya itu, jadi Al langsung membawa Alisha menjauh dari jangkauan Laras dan anak buahnya.
Tapi Laras tak tinggal diam, meski rencananya kali ini gagal tapi ia telah menyusun rencana lagi untuk mencelakai Alisha, Laras juga terus mempengaruhi ibu dan kakeknya Al agar mereka ada di pihak Laras.
***
Di Rumah Alisha
pukul 00.45
Gress yang sudah tidur tiba-tiba terbangun dan beranjak ke dapur untuk mengambil minum. Namun saat ia melewati ruang tengah, ia melihat El yang tengah mondar mandir seperti orang yang tengah gelisah memikirkan sesuatu. Gress pun menghampirinya.
"El.. kau belum tidur? ini kan sudah tengah malam " tanya Gress sambil sesekali mengucek matanya.
"Eh kau Gress, belum.. aku tidak bisa tidur.. " Jawab El dengan wajah yang gelisah.
"kau masih memikirkan Alisha? bukankah dia sudah bilang kalau dia akan menginap di rumah temannya, kenapa kau masih khawatir? " Tanya Gress heran.
"Aku merasa kalau dia membohongiku! entah ini hanya perasaanku atau.. " belum sempat El meneruskan, Gress langsung memotongnya.
"El.. sudahlah, Alisha kan sudah besar, dia tau mana yang terbaik untuknya! Kau jangan terlalu mencampuri urusannya, dia bukan anak kecil lagi El!" ujar Gress
"Aku tau Gress, tapi Alisha masih polos , kau masih ingat saat ia bunuh diri kemarin, saat aku tanya alasannya dan ia jawab karena ingin menyusul kedua orang tua kami, jujur aku merasa sedih mendengarnya tapi hatiku berkata lain, hatiku merasa kalau dia membohongiku juga, aku mereka bukan itu alasan sesungguhnya! " jelas El sembari memandang foto kecil Alisha yang terpampang di meja samping kursinya.
"kenapa kau begitu yakin kalau bukan itu alasan yang sebenarnya, bisa saja memang benar itu alasannya kan? cobalah percaya padanya, apa susahnya? " Nada sedikit kesal
"Aku lebih tau Alisha, aku tau kapan dia sedang berbohong atau tidak! Batin kami sangat kuat Gress" jawab El mencoba mengungkapkan isi hatinya.
"El.. kau itu hanya terlalu melebih lebihkan saja, selama beberapa hari aku di sini, aku fikir aku cukup tau Alisha itu seperti apa.. " ucap Gress tak mempercayai.
"Gress, kau hanya mengenalnya dalam beberapa hari saja, aku kakaknya, aku yang tau setiap kebiasaan dia , aku selalu mempercayainya meski hatiku berkata dia tengah berbohong, aku tak pernah mempersoalkan jika itu masih wajar, tapi kemarin itu lain Gress, dia hampir kehilangan nyawanya, jika saja golongan darah kami berbeda, mungkin kemarin dia sudah tak tertolong karena kehabisan darah dan golongan darahnya sedang kosong di rumah sakit, kau tak mengerti Gress! Kau tak mengerti perasaanku! " Ungkap El sambil mengepalkan tangannya.
"El, im so sorry, aku tidak bermaksud seperti itu, aku minta maaf , kau benar.. aku belum tau banyak tentang Alisha, kau yang lebih tau tentang dia.. " Gress mencoba menenangkan dan mengajak El untuk duduk.
__ADS_1
"Alisha itu harapanku satu-satunya, karena dia aku bisa hidup sampai saat ini, hampir 11 tahun yang lalu saat orang tua kami tiada, saat itu juga duniaku hancur, aku yang tidak bisa menerima kenyataan kalau orang tuaku tewas karena kecelakaan, aku tak bisa berfikir dengan jernih,usiaku saat itu 17 tahun , aku hampir lompat dari jembatan jika saja saat itu Alisha tidak memegang kakiku mungkin saat itu juga aku tiada. Karena fikiranku saat itu ingin menyusul orang tuaku, aku merasa bebanku pasti akan sangat berat tanpa mereka apalagi saat itu Alisha berusia 12 tahun .. " Ungkap El lagi mencoba menjelaskan pada Gress tentang masa lalunya.
𝙁𝙡𝙖𝙨𝙝𝙗𝙖𝙘𝙠 𝙤𝙣 𝙝𝙖𝙢𝙥𝙞𝙧 11 𝙩𝙖𝙝𝙪𝙣 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙡𝙖𝙡𝙪
Saat itu El sedang di kelas, tiba-tiba kepala sekolah memanggilnya dan mengabari kalau orang tuanya kecelakaan dan sekarang ada di rumah sakit.El pun berlari mencari taksi untuk berangkat ke rumah sakit
Sebenarnya orang tua El saat dilarikan ke rumah sakit dalam kondisi kritis bahkan ibunya tak sadarkan diri sama sekali.
El yang baru saja tiba di rumah sakit pun langsung bertanya pada suster tentang keberadaan orang tuanya itu, baru saja ia akan bertanya, ayahnya melintas dalam sebuah bangkar yang tengah di dorong oleh 2 orang perawat.
"Daddy.. apa yang terjadi, Daddy mana mami? Daddy.. open your eye daddy!! " ucap El sambil ikut mendorong bangkar itu.
"E-el.. to-tolong jjaga adik-mu apapun yang terjadi , im sorry El, kami mencintai kalian.. " ucap sang ayah sambil terbata bata menahan rasa sakitnya.
"NO DADDY NO!! DADDY!! DADDY JANGAN TINGGALKAN KAMI DADDY PLEASEEE!! " El berteriak dan sang ayah pun masuk dalam ruang ICU.
Air matanya menetes, tangannya bergetar, ia takut terjadi sesuatu hal yang tak di inginkan terjadi padanya.
Ia pun mencari-cari keberadaan ibunya namun tidak ada yang tau, sampai akhirnya 15 menit kemudian datang seorang dokter mengabari kalau ibunya sudah tiada.
10 menit setelah itu dokter keluar dengan wajah yang sedih, saat itu El sudah menduga kalau dokter akan mengatakan hal yang buruk namun ia tak menyangka kalau ini lebih buruk dari yang ia bayangkan.
"Nak.. kalian yang sabar yaa, kami minta maaf kami tim dokter sudah berusaha yang terbaik untuk pasien kami, tapi Tuhan berkehendak lain, ayah kalian tidak bisa terselamatkan.. kami mohon maaf dan turut berduka cita sedalam-dalamnya atas meninggalnya ayah dan ibu kalian, kalian yang ikhlas ya nak.. " ucap sangat dokter sambil pergi entah kemana.
Lutut El terasa lemas sampai ia terjatuh dan tak sanggup lagi untuk berdiri menopang tubuhnya wajahnya pucat pasi, air matanya mengalir deras bersama luka dalam hatinya.
"Kak El.. kenapa dokter berkata seperti itu kak? dokter itu pasti bohong kan kak?!hiks "ucap Alisha sambil menangis menatap wajah kakaknya .
El tak menjawab, ia berusaha bangkit dan berjalan meninggalkan Alisha yang tengah menangis di depan ruang ICU. El berjalan terus meski ia merasa kalau kaki dan tubuhnya seakan melayang.
Sampai akhirnya ia berhenti di pinggir jembatan, ia berteriak mengeluarkan segala lukanya, lalu naik ke atas tiang pembatas di sisi kanan jembatan.
"TUHAN!!!! KENAPA KAU AMBIL ORANG TUAKU?!!! APA KESALAHAN KU? sampai kau menghukum aku seperti ini? " El berteriak sembari menangis
__ADS_1
"Mami.. Daddy, ini terlalu berat untuk El, EL ngga sekuat itu mami, El terlalu lemah untuk menjalani semua ini Mami, Daddy bagaimana cara El menjaga amanah dari Daddy?! Beritahu EL daddy!!!! " ucap El
"El ingin ikut saja bersama kalian,El ngga akan sanggup jalani semuanya daddy.. mami.. El minta maaf.. " ucap El lagi sambil mengangkat kedua tangannya seperti sayap burung dan mencoba untuk menjatuhkan diri ke bawah jembatan.
"Kak El.. jangan tinggalkan Alisha!! " Ucap Alisha sambil memegang kaki El, mencoba untuk memberhentikan perbuatan kakaknya itu.
"Alisha sayang Kak El, Alisha mohon, kalau kak El pergi Alisha sama siapa kak? Alisha ngga punya siapapun lagi, Alisha takut sendirian kak hiks.." ucap Alisha sendu sambil menangis .
"Alisha mohon kak jangan pergi!! " Ujar Alisha sembari memegang kaki El, membuat El tak kuasa menolak permintaan adiknya itu.
𝙁𝙡𝙖𝙨𝙝𝙗𝙖𝙘𝙠 𝙊𝙛𝙛
"Itu sebabnya sampai kapan pun Alisha sangat penting bagiku, aku telah berjanji pada orang tuaku untuk terus menjaganya! Setelah ku ceritakan ini semua aku harap kau dapat mengerti Gress! Kau tak perlu cemburu karena dia adalah adikku! " Ucap El sambil memegang tangan Gress.
Gress pun tersenyum dan memegang kembali tangan El seakan ia pun mengiyakan permintaan El untuk tak lagi mencemburui adiknya itu.
"lebih baik sekarang kau tidur, besok kita kan akan ke makam orang tuamu, kau sudah janji padaku untuk mengajakku ke sana, ku harap kau tak lupa El! "
"aku hampir saja melupakannya, untung kau mengingatkan Gress.. " El memegang jidatnya sambil tersenyum.
Gress memeluk El dengan sangat erat, membuat El heran melihatnya.
"kenapa tiba-tiba kau memelukku Gress? "
"Entahlah, aku hanya ingin memelukmu sekarang, aku begitu sangat mencintaimu El, aku tak ingin kehilangan dirimu.. Aku merasa kau adalah malaikat pelindung yang Tuhan kirim untukku, aku belum pernah menemukan pria seperti dirimu El, kau begitu bertanggung jawab dalam menjaga amanah orang tuamu, aku sangat bangga padamu El! " ujar Gress mengungkapkan isi hatinya.
El terdiam dan membalas pelukan Gress, El yang juga mencintai Gress namun tak bisa mengungkapkan perasaannya itu pada kekasihnya.
"Gress ini sudah pukul setengah dua malam .. " ucap El.
"Maaf El, aku akan ke kamar sekarang! " Gres melepaskan pelukannya dan pergi ke kamarnya.
El pun beranjak dari kursinya dan pergi ke kamarnya.
__ADS_1
Bersambung..