Pilihanku Penyesalanku

Pilihanku Penyesalanku
67 teror


__ADS_3

beberapa hari telah berlalu, saat kejadian tiwi di tabrak oleh seseorang saat di bandara,


semenjak saat itu tiwi terus mendapat teror dari orang tak di kenal,


semenjak itu pun tiwi menjadi sosok yang pendiam,


tiwi tak pernah berkata apa-apa soal teror yang dia terimanya pada aditya dan keluarga namun aditya menyadari akan perubahan tiwi,


namun setiap aditya bertanya pada tiwi soal sikap tiwi yang berubah, tiwi selalu menjawab tidak ada apa-apa,


maka dari itu aditya tak bertanya, namun diam-diam tanpa sepengetahuan aditya mencari tau ada apa dengan tiwi yang tiba-tiba berubah,


pagi ini pun aditya menjemput tiwi di rumahnya,


aditya selalu mengawasi dan menemani tiwi kemana pun tiwi pergi,


aditya sudah berkumpul bersama yati dan andre di meja makan, mereka mengobrol dengan asik,


sedangkan tiwi masih berada di kamarnya,


ibu, coba panggil tiwi, kasian aditya menunggu lama... ucap andre


tidak apa yah, biar saja mungkin sedang bersiap-siap... ucap aditya


kamu itu selalu memanjakan tiwi... ucap yati


aditya tersenyum,


aditya senang melakukannya bu, aditya tidak mempermasalahkan sikap tiwi yang manja, aditya hanya ingin melihat tiwi bahagia... ucap aditya


boleh saja nak, tapi jangan sering memanjakan tiwi nanti dia malah kebiasaan... ucap andre


baik yah... ucap aditya


sudah ayo di makan sarapannya sambil menunggu tiwi... ucap yati pada aditya


iya bu, makasih... ucap aditya


mereka pun mulai memakan sarapannya tanpa tiwi,


tiwi yang masih berada di kamar, masih bersiap-siap di depan meja rias,


tiwi termenung di depan cermin, seakan tak ingin tiwi pergi ke kampus.


namun tiwi berusaha menenangkan dirinya bahwa tak akan terjadi hal yang tak diinginkan semua ini hanya ketakutan tiwi saja, lagi pula ada aditya yang selalu ada bersamanya,


maka tiwi pun bergegas menggunakan make up,


setelah selesai tiwi pun langsung keluar dari kamarnya dan melangkah menuju meja makan untuk sarapan bersama ayah, ibu dan aditya yang sudah menunggunya sedari tadi,


sampai nya tiwi di meja makan,


pagi... ucap tiwi menyapa dengan senyuman dan langsung duduk di samping aditya


pagi sayang... ucap yati


kenapa lama sekali keluarnya, kasian aditya menunggu lama... andre


iya maaf, kalau caca dandannya kelamaan... ucap caca


kamu ini... ucap bagas


sudah ayah... ucap yati


ayo sayang sarapan nanti telat lagi ke kampus... ucap yati pada tiwi


tiwi pun mengangguk melanjutkan sarapannya,


begitu pun dengan bagas, aditya yang juga melanjutkan sarapannya,


beberapa menit kemudian,


yati, andre, tiwi dan aditya telah selesai sarapan,


tiwi langsung berpamitan pada andre dan yati untuk berangkat ke kampus bersama aditya,


ayah ibu, tiwi sama aditya langsung berangkat ya takut telat... ucap tiwi


iya sayang, kalian hati-hati ya... ucap yati


ayah ibu, aditya pamit... ucap aditya


jangan ngebut... ucap andre


iya yah... ucap aditya


ya sudah sana pergi... ucap yati


iya bu... ucap aditya


tiwi dan aditya pun meninggalkan meja makan berangkat ke kampus,


tinggallah yati dan andre yang berada di meja makan,


sayang aku berangkat ya? nanti kamu ke cafe... ucap andre


iya aku ke cafe tapi nanti agak siang, kamu hati-hati ya di jalan? ucap yati


iya sayang, kamu juga hati-hati nanti bawa mobilnya, jangan lupa kunci pintu sebelum berangkat... ucap andre


siap... ucap yati


ya sudah aku berangkat ya... ucap andre berdiri dari duduknya dan langsung meninggal kan meja makan melangkah ke luar rumah, dengan di antar yati hingga teras rumah,


sampainya di teras rumah andre melangkah menuju mobilnya, andre pun langsung masuk ke dalam mobil dan menjalankan mobilnya meninggalkan rumah,


setelah kepergian andre, yati pun kembali masuk ke dalam rumah dan langsung menuju ruang makan untuk merapihkan meja makan yang masih berantakan dan mencuci piring serta membersihkan rumah sebelum yati berangkat ke cafe,


aditya dan tiwi yang masih dalam perjalanan menuju ke kampus hanya diam, namun tangan aditya sudah menggenggam erat tangan tiwi,


saat ini aditya selalu memperhatikan perubahan tiwi, namun aditya belum tau apa penyebab tiwi hingga berubah seperti ini, karena setiap di tanya tiwi selalu tidak menjawab, rasa penasaran aditya selalu ada,


seperti saat ini, aditya yang terus memperhatikan tiwi sepanjang jalan mereka berangkat tiwi hanya diam tanpa kata, kali ini aditya pun mengulang kembali kalimat yang sama pada tiwi,


sayang kamu kenapa, kok aku perhatiin kamu akhir-akhir ini enggak banyak bicara? ucap aditya


aku enggak apa-apa sayang, cuma lagi pengen diam aja lagian enggak ada yang mau di omongin juga... ucap tiwi dengan pandangan tetap lurus ke depan


sayang, aku tuh bukannya baru kenal kamu, aku tau kamu kaya apa, tiwi yang aku kenal itu enggak kaya gini, sebenarnya kamu kenapa, ada masalah... ucap aditya


enggak ko... ucap tiwi singkat


mau sampai kapan kamu bohong sama aku... ucap aditya tegas


aku enggak apa-apa aditya, aku baik-baik saja, aku hanya tidak ingin bicara... ucap tiwi dengan suara agak dikeraskan,


baik lah, maaf jika aku membuat kamu marah? aku hanya khawatir dengan kamu yang tiba-tiba berubah drastis seperti ini, aku takut kamu lagi ada masalah... ucap aditya lembut

__ADS_1


maaf aku enggak bermaksud membentak kamu... ucap tiwi menunduk merasa bersalah sudah berbicara keras pada aditya,


tidak apa sayang, sudah jangan kamu pikirkan... ucap aditya sambil membelai lembut kepala tiwi,


tiwi semakin merasa bersalah, karena maslah teror membuat emosi tiwi tak stabil,


" maaf kalau aku belum bisa bilang yang sebenarnya sama kamu " ucap batin tiwi


aditya pun kembali fokus menyetir mobilnya dengan kecepatan sedang,


tak lama kemudian mereka pun telah sampai di kampus,


aditya langsung memarkirkan mobilnya,


ayo sayang kita turun... ucap aditya


namun tiwi hanya diam merasa ragu memasuki kampus,


aditya bingung dengan tiwi, kali ini tiwi termenung,


sayang... ucap aditya memanggil


em, iya... ucap caca tersadar


ayo turun... ucap aditya


tiwi pun mengangguk dan turun dari mobil, begitu pun dengan aditya yang juga turun dari mobilnya,


ayo sayang... ucap aditya mengandeng tiwi lalu melangkah masuk ke gedung kampus dan mereka pun langsung menuju ruang kelas,


kini mereka masih menjadi pusat perhatian di kampus namun mereka sudah terbiasa apa lagi mahasiswa kampus tau kalau mereka sudah bertunangan,


mahasiswa di kampus merasa bahagia dengan hubungan mereka, mahasiswa di kampus hanya iri dengan hubungan aditya dan tiwi yang begitu romantis dan saling melengkapi,


sampailah aditya dan tiwi di depan kelas, mereka pun langsung masuk ke dalam ruang kelas dan duduk,


di dalam ruangan sudah ada teman-teman aditya yaitu dika dan bagas,


suasana kelas masih belum begitu ramai,


mereka yang mengetahui kedatangan aditya dan tiwi langsung menghampiri aditya yang sudah duduk di samping tiwi,


hai bro... ucap dika


duh, berdua terus nih... ucap bagas menggoda


tiwi hanya tersenyum


kenapa, iri ya? ucap aditya kembali menggoda


ya iya lah, ngeliat kalian berdua terus... ucap dika


mangkanya cari pacar... ucap aditya


gimana mau dapet pacar, mengungkapkan perasaannya aja enggak berani, mangkanya di salip orang... ucap bagas menggoda sambil tersenyum


aditya dan bagas tersenyum


sialan lo... ucap dika


kenyataannya... ucap bagas


iya sih... ucap dika


lain kali, kalau suka ungkapin bro... ucap aditya


aditya, dika dan bagas yang asik mengobrol,


dikagetkan oleh tiwi yang tiba-tiba berteriak dengan histeris, nafas tiwi sudah tak beraturan karena rasa takutnya,


sontak aditya, dika dan bagas kaget dengan teriakan tiwi dan melihat ke arah tiwi,


kenapa sayang... ucap aditya langsung dengan wajah panik


kenapa tiwi... ucap dika dan bagas yang kaget dengan teriakan tiwi


sedangkan tiwi dengan muka yang ketakutan hanya diam tanpa kata dan mata yang sudah berkaca-kaca,


lalu tiwi menunjuk ke kotak yang berada di atas meja,


aditya, dika, bagas mata mereka langsung tertuju pada sebuah kotak yang di tunjuk oleh tiwi


apa itu... ucap dika


aditya mengambil kotak tersebut dan melihat isinya karena penasaran dengan isinya yang bisa membuat tiwi terkejut,


begitu pun dengan dika dan bagas yang juga penasaran,


saat mereka melihat isi kotak tersebut secara bersamaan, mata mereka langsung terbelalak karena sangking kagetnya dengan apa yang mereka lihat,


mata mereka pun langsung saling berpandangan, merasa tak percaya dengan apa yang mereka lihat,


untungnya suasana kelas belum begitu ramai jadi tidak menjadi pusat perhatian walau awalnya mereka kaget dengan teriakan tiwi namun bagas dan dika memberi tau bahwa tidak terjadi apa-apa maka mahasiswa lain yang berada di kelas pun kembali ke kesibukannya masing-masing,


siapa yang melakukan ini... ucap bagas


iya, tega sekali, maksudnya apa coba meneror seperti ini... ucap dika


aditya hanya terdiam,


aditya yang kembali melihat tiwi langsung meletakkan kotak yang aditya pegang lalu menenangkan tiwi,


sayang kamu tenang, atur nafas kamu jangan seperti ini... ucap aditya merangkul tiwi dengan panik melihat tiwi seperti itu


bagas dan dika juga berusaha menenangkan tiwi, namun tiwi masih tetap mematung, dengan nafas yang sudah memburu dan air mata yang sudah menetes dan membasahi pipinya


dengan jantung yang berdetak begitu kencang membuat tiwi mulai hilang kesadaran karena syok dengan apa yang di lihatnya,


aditya, dika, dan bagas yang melihatnya langsung panik,


tiwi, kamu kenapa... ucap dika dan bagas panik melihat tiwi yang pingsan,


aditya panik melihat tiwi, aditya pun langsung menggendong tiwi keluar dari kelas menuju klinik kampus dengan langkah yang di percepat,


dika dan bagas pun langsung mengikuti aditya dengan membawa kotak misterius itu,


mahasiswa lain yang melihatnya langsung bertanya-tanya ada apa dengan tiwi,


sampainya di klinik kampus,


aditya langsung masuk ke ruangan dan menidurkan tiwi,


dokter dokter tolong dokter... ucap dika memanggil


tak lama dokter dan suster jaga di klinik tersebut pun keluar dan menghampiri tiwi, aditya, dika dan bagas,


dokter pun langsung memeriksa kondisi tiwi,

__ADS_1


setelah selesai memeriksa,


dokter pun memberi perintah pada suster,


suster tolong berikan obat... ucap dokter


baik dok... ucap suster langsung mengambil obat dan memberikannya pada tiwi,


bagaimana dok kondisi tiwi... ucap aditya


kamu siapa nya pasien... ucap dokter


saya tunangannya dok... ucap aditya


kalau gitu ikut saya, ada yang mau saya bicarakan... ucap dokter


baik dok... ucap aditya


kalian tolong jagain tiwi dulu ya... ucap aditya pada dika dan bagas


serahin saja sama kita... ucap dika


aditya pun pergi bersama dokter ke ruangan dokter,


tinggallah dika dan bagas yang berada di ruangan itu bersama tiwi yang sedang terbaring tak sadarkan diri,


bagas, ada apa dengan tiwi sebenarnya, kenapa dokter begitu serius kelihatannya... ucap dika


aku enggak tau... ucap bagas


tapi tadi kamu lihat enggak sebelum tiwi pingsan... ucap dika


iya aku lihat... ucap bagas


apa tiwi sakit ya... ucap dika menebak


hus, kamu jaga bicara kamu, jangan sok tau deh, mungkin dia syok dengan apa yang dia lihat... ucap bagas


sorry, tapi siapa ya yang tega dengan tiwi seperti ini, setau aku tiwi orangnya enggak pernah bergaul masa iya punya musuh, apa ada yang tidak suka dengan hubungan mereka... ucap dika berpikir


sudah jangan kebanyakan menebak, kita tunggu aja kabar dari aditya... ucap bagas


iya... ucap dika sambil memandang tiwi dengan rasa iba,


aditya yang sudah berada di ruang dokter sedang berbicara,


tak lama kemudian aditya keluar dari ruangan dokter dan kembali ke ruangan dimana tiwi sedang berbaring,


aditya pun muncul di ruangan di mana tiwi berbaring, dengan wajah sedih dan lesu, aditya duduk di dekat tiwi,


bagas dan dika yang melihat aditya langsung bertanya,


ada apa aditya... bagas


tiwi kenapa... ucap dika


aditya kamu jangan diam saja... ucap dika


penyakitnya kambuh dan aku harus melihat dia seperti ini lagi... ucap aditya lesu


apa kamu bilang, kambuh? ucap bagas


jadi tiwi beneran sakit... ucap dika


iya... ucap aditya


tiwi sakit apa? terus kondisinya gimana sekarang... ucap dika


jantungnya bermasalah, kita harus nunggu semuanya stabil, karena tadi tiwi syok dan enggak tau kapan tiwi sadar... ucap aditya


separah itu... ucap dika


maksud kamu tiwi lemah jantung... ucap bagas


iya... ucap aditya


apa sebelumnya pernah seperti ini aditya... ucap dika


pernah, namun tidak separah sekarang... ucap aditya


kenapa dulu selama aku memperhatikan nya tidak pernah tau... ucap dika


apa ini aditya alasan kamu bersamanya... ucap bagas


terus kenapa kejadian ini bisa terjadi, apa tiwi punya musuh atau ada yang enggak senang dengan hubungan kalian... ucap dika


tidak, aku memang menyukainya, saat aku tau dia sakit dia kambuh seperti ini di depan mata aku sendiri, semenjak itu aku ingin menjaganya dan selalu ada buat dia, kalau soal musuh dia enggak punya musuh ini semua karena aku... ucap aditya


maksud kamu karena kamu itu apa... ucap dika


ini pasti ada hubungannya dengan klara... ucap aditya


apa, klara? klara yang suka sama kamu itu? bukannya dia sudah pergi entah kemana... ucap dika


itu masalahnya, aku harus mencari tau dan memberi tau ayah tiwi soal ini... ucap aditya


apa iya klara... ucap dika


bisa jadi... ucap bagas


kalau memang dia, liat saja habis dia sama aku, karena dia sudah membuat tiwi seperti ini... ucap aditya emosi


tenang aditya jangan emosi... ucap bagas


aku enggak terima dia membuat tiwi seperti ini, kalau sampai terjadi apa-apa dengan tiwi liat saja aku yang akan menghabisinya... ucap aditya


sudah aditya tenang, sekarang yang harus di pikirin itu kondisi tiwi, kamu jangan seperti ini depan tiwi... ucap dika


iya aditya, kontrol emosi kamu kasian tiwi... ucap bagas


aditya pun mulai mengontrol emosinya dan menenangkan dirinya


sorry ya aku jadi ngerepotin kalian... ucap aditya


sudah lah, kita ini kan teman masa iya kita enggak bantu... ucap dika


iya kaya sama siapa aja... ucap bagas


makasih... ucap aditya


sama-sama... ucap dika


jangan sungkan bilang ke kita kalau perlu bantuan... ucap bagas


iya... ucap dika


aditya pun kembali melihat kondisi tiwi, namun tiwi masih tetap terpejam terbaring tak berdaya,

__ADS_1


dika dan bagas yang melihat kondisi tiwi merasa sedih


__ADS_2