Pilihanku Penyesalanku

Pilihanku Penyesalanku
73 ingin membawa tiwi pergi


__ADS_3

sedangkan andre, yati dan aditya sudah berada di kamar masing-masing sudah siap untuk berangkat ke bandara,


andre dan yati keluar dari kamarnya dengan membawa koper mereka pun melangkah keluar rumah,


namun saat berada di ruang tengah yati mencari keberadaan aditya,


aditya mana? apa masih belum keluar? ucap yati


kita tunggu saja bu mungkin sebentar lagi ucap andre


baik lah ucap yati


namun tak lama aditya pun muncul,


ayah ibu sudah lama menunggu ucap aditya


nah ini dia, tidak nak kamu sudah siap ucap yati


sudah bu ucap aditya


kalau gitu ayo kita berangkat ucap andre


ayo ucap yati


namun saat mereka baru melangkah, tiba-tiba ponsel aditya berdering yang membuat langkah mereka terhenti,


aditya langsung mengambil ponselnya yang ada di dalam saku celana dan melihat layar ponselnya,


sejenak aditya termenung karena di layar ponselnya tertulis " ayah "


siapa aditya yang telepon ucap yati


ayah ucap aditya


ayo angkat siapa tau penting ucap andre


aditya pun langsung mengangkat teleponnya


halo ucap aditya


andre dan yati melihat ke arah aditya berharap ada kabar baik tentang tiwi


apa ucap aditya terkejut


andre dan yati langsung saling berpandangan,


ada apa yah ucap yati panik


tenang dulu nanti kita tanya ucap andre


yati pun mematuhi perkataan andre


baik aditya segera ke sana tolong terus kabari aditya jika ada perkembangan ucap aditya


aditya pun langsung menutup teleponnya dan kembali menyimpan ponselnya di dalam saku celana,


tiwi kenapa aditya ucap yati dengan nada khawatir


ayah bilang, tiwi memberikan respon saat ibu mengajaknya bicara dia menggerakkan jarinya, saat ini dokter sedang memeriksa tiwi ucap aditya


apa, syukurlah akhirnya ucap yati bahagia


kalau gitu ayo yah kita harus cepat-cepat berangkat untuk melihat kondisi tiwi ucap yati dengan semangat,


iya ayo ucap andre


mereka pun bergegas berangkat menuju bandara,


beberapa jam kemudian tibalah aditya, andre dan yati di rumah sakit dimana tiwi di rawat mereka pun melangkah dengan cepat menuju ruangan rawat tiwi,


sampainya di depan pintu ruangan tiwi,


mereka langsung masuk ke dalam ruangan,


yuda dan novi yang sedang memandang tiwi langsung mengalihkan pandangan mereka ke arah pintu,


yati ucap novi langsung memeluk yati


kalian sudah sampai ucap yuda langsung menghampiri andre,


bagaimana tiwi ucap yati


novi menggelengkan kepalanya


apa kata dokter yuda ucap andre


tiwi hanya sekali memberikan respon, dokter masih menunggu perkembangan ucap yuda,


semoga saja tiwi cepat sadar ucap yati

__ADS_1


iya yati ucap novi


sedangkan aditya tak menghiraukan orang tuanya dia terus melangkah mendekat ke arah tiwi dan terus memandang tiwi tanpa mengalihkan pandangannya saat aditya masuk ke ruangan itu,


aditya pun duduk di samping tiwi, aditya menggenggam tangan tiwi dan menciumnya tanpa mengalihkan pandangannya,


sayang aku sudah datang ucap aditya sedih karena melihat tiwi yang masih diam memejamkan matanya


kedua orang tua yang melihat merasa tidak tega dengan kondisi mereka saat ini,


ayo kita duduk saja kalian pasti capek setelah perjalanan jauh langsung ke sini ucap novi


iya ucap yati memandang ke arah tiwi dan aditya


biarkan saja mereka berdua pasti aditya begitu merindukan tiwi karena sudah lama tidak bertemu, ucap novi


iya selama perjalanan ke sini aditya begitu gelisah dan tak sabar untuk cepat sampai karena dia mendapat kabar kalau tiwi menggerakkan jarinya ucap yati


baru kali ini aku liat dia seperti itu ucap yuda


itu pilihannya kita tidak bisa melarangnya ucap novi


aku minta maaf novi yuda, karena tiwi bukan anak yang sempurna dan membuat anak kalian sedih akan kondisi tiwi ucap yati


sudah lah yati, ini bukan salah kamu dan juga andre, memang mereka sudah berjodoh saja ucap novi tersenyum


yati pun menggenggam tangan novi sambil tersenyum


tapi aditya pasti akan menderita jika terus seperti ini, kami pun sudah berdiskusi akan membawa tiwi pergi dari sini ucap yati sedih


apa, tidak bisa yati kamu tidak boleh membawa menantuku pergi ucap novi dengan raut wajah sedih,


apa keputusan ini baik andre untuk anak-anak, kalian tidak lihat bagaimana aditya memperlakukan tiwi, aditya begitu tulus mencintai tiwi apa kamu tega memisahkan mereka ucap yuda melihat ke arah aditya dan tiwi berada


mereka pun melihat aditya dan tiwi, dengan sikap aditya yang begitu lembut dan perhatian pada tiwi membuat yati merasa terenyuh hatinya, namun keputusan yati sudah bulat ingin membawa tiwi pergi,


aku dan yuda tidak keberatan memiliki menantu seperti tiwi, aku sangat menyayangi tiwi dan sudah menganggapnya anak aku sendiri, aditya pun begitu mencintai tiwi ucap novi yang sudah menangis


dengan berat hati dan sedih yati berkata,


kita akan tetap membawa tiwi pergi dan akan melakukan pengobatan, saat ini keputusan ini yang terbaik ucap yati menangis


baik untuk kalian, tapi tidak baik untuk anak-anak, coba pikirkan lagi yati ucap novi memohon


yati hanya diam sambil memandang aditya dan tiwi,


yati melakukan ini bukan karena tak merestui hubungan mereka, itu karena yati merasa kasihan pada aditya jika semua ini di teruskan dengan kondisi tiwi yang seperti sekarang,


aditya yang sedari tadi bersama tiwi, terus berada di samping tiwi menemani tiwi tak pernah lepas dari pandangan aditya, tak pernah lelah aditya memandang tiwi,


rasa sedih, rindu, sakit yang aditya rasa saat ini saat melihat tiwi yang masih terbaring kaku,


sudah cukup lama aditya tidak merasakan dan melihat kehangatannya, senyumannya, keceriaannya, candaannya, manjanya, aditya begitu rindu akan semua yang ada di tiwi,


aditya pun mengajak tiwi berbicara dan mengutarakan isi hatinya, ada perasaan takut dalam diri aditya, takut kehilangan tiwi orang yang begitu ia cintai


" sayang kamu bisa dengar aku, maaf kalau aku pergi begitu lama, kamu khawatir ya sama aku, aku pergi lama karena aku sedang menyelesaikan masalah tapi kamu tenang aja sekarang semuanya sudah beres, sekarang aku cuma mau nemenin kamu, kamu kangen ya saka aku, sama aku juga kangen sama kamu sayang, kamu tega sama aku ngeliat aku begitu tersiksa karena begitu merindukan kamu, tapi aku akan bersabar menunggu kamu sayang, mulai sekarang aku enggak akan pergi lagi, kamu juga enggak perlu takut lagi dan jangan pernah berubah apa lagi ninggalin aku ya, aku enggak bisa kalau harus kehilangan kamu sayang, kamu cepat sembuh ya sayang, aku enggak suka dengan tiwi yang hanya diam terbaring tanpa merespon, aku mau tiwi yang cerewet, manja, ceria, yang suka ngambek, aku janji deh kalau kamu siuman aku akan memberikan kamu kejutan dan akan mengajak kamu ke suatu tempat yang kamu mau tapi kamu harus janji sama aku kalau kamu harus sembuh dulu baru kita jalan-jalan bersama "


ucap aditya yang terus memandang tiwi dan menggenggam tangan tiwi, tanpa terasa air mata sudah menetes dan membasahi pipi aditya,


aditya yang sadar langsung mengusap air matanya,


kedua orang tua yang melihat merasa terenyuh hatinya,


setelah lama memandang rasa kecewa pun menghampiri aditya karena tiwi tidak merespon kata-kata yang aditya ucapkan, namun aditya berusaha kuat,


aditya berlahan meletakkan tangan tiwi dan berdiri dari duduknya, aditya pun membalikkan badannya menghadap pintu dan berkata


ayah ibu aditya keluar sebentar ucap aditya tanpa menoleh hanya menundukkan kepalanya lalu melangkah ke luar ruangan,


novi, yuda, andre dan yati hanya diam melihat kepergian aditya yang meninggalkan ruangan dengan perasaan bingung,


tanpa di sadari air mata tiwi pun menetes dari sudut matanya, seakan tiwi merasakan kesedihan yang aditya rasakan,


ada apa dengan anak itu ucap novi


sudah biarkan saja dia menenangkan dirinya ucap yuda


jangan terlalu khawatir novi dia akan baik-baik saja ucap yati


iya ucap novi


setelah kepergian aditya, novi pun menghampiri tiwi,


saat novi duduk di samping tiwi, novi memandang tiwi dan melihat sudut mata tiwi yang mengeluarkan air mata,


sontak membuat novi langsung berkata,


yati, akhirnya tiwi memberi respon, tiwi mengeluarkan air mata dia bisa mendengar apa yang aditya katakan padanya tadi ucap novi menangis bahagia

__ADS_1


apa, kamu yakin ucap yati langsung berdiri dan mendekat pada tiwi begitu pun dengan andre dan yuda


iya ucap novi


yati, andre dan yuda yang melihat langsung tersenyum,


yati langsung menangis bahagia memeluk novi,


begitu pun dengan yuda dan andre yang juga tersenyum bahagia,


sebuah kemajuan baru ucap yuda


semoga tiwi cepat sadar dari komanya ucap novi


iya novi semoga saja ucap yati


kalau gitu aku akan panggil dokter untuk memeriksa kondisi tiwi ucap andre


iya iya cepat panggil ucap yati


andre pun langsung meninggalkan ruangan untuk memanggil dokter,


kalau gitu aku pergi juga mau mencari aditya ucap yuda


iya cepat cari ucap novi


yuda pun pergi mencari aditya,


tinggallah yati dan novi yang berada di ruangan menemani tiwi,


sayang kamu harus cepat sembuh ya kita semua menghawatirkan kamu dan kangen sama kamu apa lagi aditya begitu khawatir dengan kondisi kamu sayang ucap novi sambil mengelus kepala tiwi dengan lembut,


saat ini aditya sudah berada di atas atap gedung rumah sakit, aditya sudah berdiri di ujung gedung memandang pemandangan yang berada di bawahnya dengan mata yang sudah memerah ada emosi dalam diri aditya yang tertahan, yang membuatnya merasakan sesak di dada dan ada pun rasa menyalahkan dirinya sendiri karena merasa gagal untuk menjaga orang yang dia cintai hingga harus mengalami seperti ini,


tiba-tiba aditya pun berteriak sekencang-kencangnya untuk melepas beban di dadanya dan meluapkan emosi yang sempat tertahan,


setelah itu akhirnya tangisan pun pecah yang sedari tadi iya tahan karena aditya begitu tak sanggup melihat kondisi tiwi yang terbaring kaku seperti itu,


dalam hatinya berkata " kenapa harus tiwi, kenapa "


aditya di atas gedung itu pun terduduk sambil menangis sepuas-puasnya seorang diri sambil tertunduk dengan tangan yang menopangnya hingga suasana hatinya merasa tenang dan emosinya pun reda,


saat ini yuda sedang mencari aditya ke semua sudut rumah sakit, namun yuda tetap tidak menemukan keberadaannya, yuda pun berpikir sejenak,


sampai akhirnya yuda berpikir hanya ada satu tempat yang belum yuda datangi, yuda melihat ke puncak paling atas gedung, yuda yakin aditya berada di sana, tanpa pikir panjang yuda pun langsung berlari menuju puncak dengan menaiki life,


yuda yang telah sampai di atas gedung langsung membuka pintu yang menghubungkan antara gedung dengan atap gedung,


dan benar saja yuda melihat anaknya yang sedang terduduk lesu tak karuan,


seakan yuda melihat aditya yang hancur,


yuda pun mendekat ke arah di mana aditya berada dan duduk di samping anaknya tanpa berkata apa-apa hanya menemani saja,


hingga pada akhirnya aditya menyadari kedatangan yuda yang sudah berada di sampingnya, aditya memandang yuda, namun yuda hanya berkata


" kamu sudah lebih tenang sekarang "


maaf yah kalau aditya membuat kalian kecewa ucap aditya


tidak ada yang menyalahkan kamu aditya ucap yuda


tapi aditya sudah membuat tiwi seperti sekarang ucap aditya


ini semua sudah jalannya aditya, ayah andre dan ibu yati tidak pernah menyalahkan kamu, malah mereka berpikir bahwa tiwi lah yang tak pantas untuk kamu karena kondisi tiwi yang tak sempurna membuat mereka berpikir kalau tiwi hanya beban buat kamu dan mereka membuat keputusan ingin membawa tiwi pergi,


saat sedang mengobrol ponsel yuda berbunyi,


satu pesan masuk di ponsel yuda,


yuda langsung membacanya,


saat membaca pesan tersebut,


seulas senyum terpancar dari wajah yuda,


lalu menyimpan ponselnya kembali,


yuda pun langsung berkata,


sekarang semua keputusan ada di kamu aditya, jika kamu memang mencintai tiwi kamu pertahankan hubungan kamu, tunjukkan ke mereka kalau tiwi bukan beban untuk kamu, bukannya malah menangis di sini, ayah dan ibu juga sangat berharap hubungan kalian baik-baik saja dan terutama ibumu sangat menyayangi tiwi tak ingin menantunya di bawa pergi ucap yuda menjelaskan


aditya langsung memandang yuda,


yuda yang melihat langsung mengeraskan suara,


kamu, kok malah bengong tunggu apa lagi kamu mau kehilangan tiwi selamanya ucap yuda


tanpa pikir panjang aditya pun langsung berlari meninggalkan atap gedung rumah sakit menuju ruangan tiwi,

__ADS_1


yuda yang melihat tersenyum dan heran dengan anaknya yang selalu harus di beri pencerahan agar pikirannya terbuka,


setelah aditya yang sudah lebih dulu pergi barulah yuda yang bangkit dari duduknya dan melangkah meninggalkan atap gedung menuju kamar tiwi dengan santai


__ADS_2