PLEASE BE MARRIED

PLEASE BE MARRIED
[EP.10] INI BUKAN KESALAHANYA


__ADS_3

Panzi sangat bingung Panzi mengerutu dalam hatinya. Sebagai seorang Direktur dari perusahaan ternama, Perusahaan yang berpengaruh di Asia. Saat menghadapi Krisis bisnis, Panzi bisa tenang memikirkan setidaknya tiga solusi sempurna di dalam otaknya. Tetapi pada saat ini, bahkan jika Panzi bisa tenang, Dia hanya bisa menjawab.....


Panzi menghela nafasnya, Ia mengangkat kerah Pakaian nya, kalaupun masih ragu ia memantapkan dirinya Untuk menjawab


"Tidak tahu." Ucap Panzi pada Akhirnya dia hanya bisa mengatakan itu setidaknya Ibunya Nana tidak terus menekankan Pertanyaan nya itu.


Mendengar jawaban Panzi, ibunya Nana sangat marah dan kesal pada Panzi. Ia terus menodong nodong Tongkat itu pada Panzi


"TIDAK TAHU!." Bentak ibunya Nana "Kalau kamu tidak tahu, kamu masih berani untuk datang kehadapan saya?!" Ucap Ibunya Nana. Nada sangat geram terdengar dalam pengucapanya, Ibunya Nana hampir memukul Panzi untung saja Panzi masih bisa untuk Menghindari pukulan itu.

__ADS_1


Melihat Panzi hampir saja disakiti Oleh ibunya Nana segera menghampiri Ibunya dan Panzi. Nana berdiri di hadapan ibunya, Nana melentangkan kedua tanganya, Ia tidak ingin sampai ibunya menyakiti Seseorang yang sangat berpengaruh itu, Nana takut pria itu akan balas dendam dan menyakiti keluarganya. Nana berusaha melindungi Panzi dari ibunya, Nana meyahut


"Mah, ini bukan salahnya mah! Jangan memukulnya." Ucap Nana, ia berusaha melindungi Pria itu dari ibunya yang mulai menggila karna kemarahan nya itu.


Ibunya Nana sangat marah, Ia menyahut


"Jangan berusaha melindungi dia! Ibu sedang membelamu Nana!." Tegas ibunya


Panzi sangat membenci dirinya, Seumur hidupnya baru pertamakali dia di lindungi oleh seorang Gadis, Apalagi gadis itu adalah gadis yang telah di tindasnya. Nana terus bersikeras menentang Ibunya yang merasa geram akan Panzi itu. Ia ingin Panzi bertanggung jawab pada Nana. Karna geram dan merasa menjadi seorang pecundang, Panzi segera menarik tangan Nana. Panzi menempatkan Nana di belakangnya, Dengan percaya diri Panzi menegaskan

__ADS_1


"Saya akan bertanggung jawab!." Tegas Panzi


Ibunya Nana tersenyum sinis lagi lagi Pria itu mengatakan hal yang sama Namun Pria itu tidak pernah mengatakan Ia akan mempertanggungkan perbuatan nya dengan cara apa?. Dengan sinis ibunya Nana menyahut


"Berikan ponsel mu!." Pinta Ibunya Nana, Nana segera menggertak ibunya


"Mah!! Jangan lancang seperti itu. Ini benar bukan salahnya!." Gertak Nana.


"Kenapa Nana? Kenapa kau sangat sopan pada Pria brengs*k ini?! Dia sendiri yang mengaku kalau dia bersalah dan akan bertanggung jawab!." Tegas ibunya Nana

__ADS_1


Panzi melihat Nana yang bersikeras membelanya, Menyembunyikan kesalahan nya, Membuat Panzi semakin merasa Bersalah pada Gadis itu. Akhirnya dengan pemikiran Linglung dan belum sepenuhnya Percaya akan perbuatan nya, Panzi memberikan Ponselnya permintaan dari Calon ibu mertuanya itu. Tidak tahu apa yang akan di lakukakan nya itu dengan ponselnya. Prioritas Panzi sekarang agar Ibunya Gadis itu tidak terus Menekanya dan Nana. Setidaknya Panzi bisa merasa tenang sedikit.


Setelah Ponsel Panzi sudah ada di tangan nya, Ibunya Nana segera membuka layar Ponsel itu. Ibunya Nana langsung mengklik Log Telpon. Ibunya Nana ingin orangtua dari Pria itu tahu kalau Anaknya telah hamil oleh Pria itu agar dia mau mempertanggung jawabkan Nana. Tidak ada kontak yang bertuliskan nama *Ibu atau ayah* Ibunya Nana hanya melihat Kontak yang bertuliskan nama *Nenek* Segera Ibunya Nana menelpon ke nama kontak itu. Tak peduli siapa itu Asal itu adalah keluarga dari Pria brengs*k yang telah menghamili anaknya, Ibunya Nana harus segera memberitahukan Perbuatan Pria itu.


__ADS_2