PLEASE BE MARRIED

PLEASE BE MARRIED
[CH.21] SEMUA TERJADI BEGITU SAJA


__ADS_3

-Nana


Saat itu aku menerima saran dari Pria itu, aku setuju untuk menikah dengannya. Dan kami akhirnya menikah dengan sangat cepat pria itu menyarankan untuk menikah Sirih, yang dimana pernikahan itu hanya di akui oleh agama saja dan tidak mungkin memiliki akta nikah yang dapat benar-benar meresmikan pernikahan kami. Pria itu bilang karena dia tahu pernikahan kami itu hanya untuk sementara jadi menikah Sirih adalah pilihan terbaik untuk saat ini. Pernikahan berlangsung di Kantor urusan agama. Pria itu dengan lancar mengucapkan Ijab kabul dan saat itu aku sedikit berpikir pernikahan pertama ku sangat di sayangkan tanpa saksi dari kedua pihak keluarga ia menikah begitu saja, memikirkan itu tak sadar aku meneteskan air mata, betapa tidak membahagiakan nya hari dimana aku menikah untuk pertama kalinya. Namun apa boleh buat? Bagaimana pun sepahit apapun harus ia lalui. Aku harus tetap tabah dan sabar kau ingat ini hanya sementara.


-Panzi


Setelah mengucap Ijab kabul dengan lancarnya aku terdiam dan berpikir apa ini mimpi? Tiba-tiba saja aku menikahi seorang gadis apalagi gadis itu bukan lah orang yang aku cintai. Namun aku segera tersadar dari lamunan itu dan kembali berpikir aku harus tetap berpikiran lurus dengan tenang dan terus berpikir jernih. Mungkin ini untuk sementara bagaimana pun Gadis itu sekarang adalah istriku untuk sementara ini, aku pikir aku harus memperlakukan nya dengan baik. Namun aku takut ketika aku tidak bisa mengendalikan diri ku dan gejala kepribadian itu timbul lagi, aku takut menyakiti gadis itu. Aku berharap gejala itu tidak timbul untuk saat ini.


***

__ADS_1


Selesainya menikah mereka memutuskan untuk menemui keluarga mereka pertama menemui keluarga Nana, namun melihat kondisi ibunya sekarang Nana pikir bukan waktu yang tepat untuk mengatakan sekarang tunggu ibu kembali tenang terlebih dahulu, jadi karna Nana berkata seperti itu Panzi menyarankan Nana untuk mengemas barang nya di apartemen nya bagaimana pun sekarang Ia adalah istrinya Nana harus tinggal di rumah Panzi dan memberitahu kan pada Neneknya kalau mereka sudah menikah. Nana tentu saja merasa terheran-heran dan berpikir apa pria itu mempunyai maksud lain terhadapnya? sambil melirik ke arah Panzi dengan tatapan curiga.


Panzi yang melihat Nana seperti nya salah tanggapan lagi terhadap nya ia segera menjelaskan "Kau tak perlu khawatir, aku tidak akan melakukan apapun terhadap mu."


"Benar tidak akan melakukan apapun?" tanya Nana dengan rasa ragunya.


***


Tak lama Panzi membawa istrinya ke sebuah rumah besar yang mewah. Ketika hendak masuk ke dalam rumah besar itu Nana sedikit tertegun mengagumi keindahan dan kemewahan yang ada di dalam rumah besar itu sampai ia tak bisa berkata ia berpikir dalam hatinya Pria yang sekarang menjadi suami nya begitu kaya, apa dirinya pantas untuk menerima semua itu? kalaupun ia tahu pernikahan itu hanya berlangsung sementara tapi dalam hati kecilnya ia merasa tak pantas.

__ADS_1


Melihat istrinya yang terdiam yang sedang memikirkan sesuatu itu ia langsung menyadarkannya dengan panggilan "Siput?" Panggil Panzi. Mendengar panggilan itu Nana segera tersadar, lagi Panzi menyahut "Ayo masuk, kenapa terdiam begitu? aku bukan membawa mu ke Medan pertempuran kenapa harus banyak berfikir." goda Panzi. Nana yang masih sedikit melamun itu ia hanya tersenyum dan mengangguk mengiyakan Panzi.


Ketika masuk Nana melihat seorang Nenek yang tampak familiar, Nenek itu terlihat begitu senang dengan kedatangan Panzi dan Nana. Namun ketika pandangan semakin dekat terlihat jelas itu memang nenek yang ia temani saat itu di rumah sakit, kami berdua saling menatap dengan pandangan terheran. Tak berlangsung lama nenek itu menyapa ku dengan sumringah ia langsung memeluk Nana, Nana menanggapi dengan tersenyum kecil ia menyahut "A...aah.. lama tidak bertemu nenek." Sahut Nana dengan berhati hati. Mendengar itu nenek segera melepaskan pelukannya dia meraih kedua tangan Nana kembali menyahut


"Jadi itu kamu nak, nenek tak menyangka kalian ternyata berjodoh." Ucap nenek dengan energik, "Tapi syukurlah nenek sangat lega dan nenek juga merasa senang sebentar lagi kalian memberikan nenek cicit..." Ucap nenek yang tampak sangat bahagia itu. Nana menanggapi nenek dengan senyumnya sambil mengangguk mengiyakan nenek asal nenek itu bahagia.


Namun pemikiran Panzi merasa ada yang aneh, terheran melihat nenek yang begitu akrab dengan Nana bukanya ini pertama kali mereka bertemu kenapa begitu terlihat sangat dekat? Panzi berpikir dengan keras berusaha menebak kenapa nenek nya begitu akrab dengan Nana, Panzi mulai berpikir kalau mungkin tanpa sepengetahuan Panzi mereka memang sudah berkenalan dan wanita itu? apa mungkin wanita itu sudah merencanakan semuanya dari awal? Apa mungkin wanita itu telah menjebak nya? Arghh! dengan banyak berpikir negatif ia merasa seperti nya gejala kepribadian itu akan menimpa nya sekarang, Panzi dengan setengah kesadaran nya ia tidak memperdulikan kedua wanita yang sedang sibuk berbincang itu. Panzi perlahan berjalan menuju kamar nya, sesampainya ia langsung terduduk lemas di ranjangnya dengan kedua tangan memegang kepala yang sepertinya ingin meledak itu, Perlahan kepribadian itupun mulai menguasai dirinya.


Seketika Panzi berubah menjadi pria yang arogan dan berhati dingin, ia mengingat kejadian sebelumnya yang sudah terjadi ia mengatai ia yang sebelumnya begitu bodoh dan naif! kenapa hal sepele saja harus terjadi begitu saja di luar kehendak nya. Apa susahnya beri wanita itu uang sebanyak yang wanita itu mau jika dia merasa kasihan padanya kenapa harus dengan menikahinya? Huh, dirinya sebelumnya begitu bodoh dan menyebalkan pikirnya.

__ADS_1


__ADS_2