
"**Pak! Lepaskan saya Pak!." Rontak Nana. Tak peduli, Pria itu terus memainkan Tubuh Nana kalaupun terkesan Kurus dan biasa saja, kulit Nana terasa sangat lembut dan Wangi tubuh Nana tercium sangat harum. Pria itu makin bergairah Saat memainkan Tubuh Nana.
Tanpa berkata apapun, segera pria itu menarik tangan Nana dengan kasar. Pria itu sepertinya membawa Nana ke Kamar Pribadi yang ada pada Ruangan nya. Nana terus berontak Agar bisa terlepas dari pria itu
"Lepas! Lepaskan Aku! Brengs*k! Lepasss!." Teriak Nana terus berontak. Namun Tenaga Nana sangatlah kecil tidak sebanding dengan Pria itu, Pada akhirnya Pria itu menjatuhkan Nana ke kasur. Nana mencoba mundur menjauh dari Pria itu, Namun Pria itu segera merunduk lebih mendekatkan pandangan nya. Nafsu pria itu semakin besar, Karna terus berontak Pria itu memegang kedua pergelangan mungil Nana perlahan Pria itu membuka kancing Baju yang Nana kenakan.
Pria itu lebih bergairah ketika melihat Kedua buah Dada milik Nana, Pria itu membuka Bra yang Nana kenakan, Perlahan Pria itu mel*mat Kedua buah dada yang harum dan kenyal itu. Pria itu kembali mel*mat bibir Nana, Meremas salah satu kedua Buah dada milik Nana. Hati Nana menolak akan perbuatan pria itu Namun tubuh Nana tidak bisa menolak setiap rabaan dari pria itu. Sedikit terbawa Suasana, Nana juga ikut menikmati itu semua Namun sekejap Nana juga tersadar Lagi mulai berontak. Nana mengigit Bibir Pria itu, Terasa sakit yang pria itu rasaka Bukan nya berhenti, Pria itu semakin Ganas.
__ADS_1
Pria itu melampiaskan Amarahnya Dan Gairahnya pada tubuh mungil Nana, apalagi ketika Nana berusaha berontak Makin Nana berontak, Makin besar Gairah Pria itu. Karna tak memiliki tenaga lagi untuk berontak, Terpaksa Nana hanya bisa pasrah, Nana membiarkan Pria itu menikmati tubuh polosnya. Tak puas hanya dengan sebuah kecupan dan ciuman. Pria itu, perlahan melepaskan Dalaman yang di kenakan Nana di Daerah intim nya. Pria itu memasukan Daerah intim miliknya pada Daerah intim Nana. Nana menjerit kesakitan, Yang di rasakan Nana sekarang Antara, Sakit dan Gairah yang ikut bergejolak. Nana ikut mendesah, Mendengar Desahan dari Nana Pria itu semakin bersemangat dan makin Ganas ketika memainkan Tubuh Nana.
5menit....10menit.....25menit.....35menit.....50menit dan Satu jam Berlalu Pria itu masih terus memainkan Tubuhnya, Nana sudah merasa tidak kuat Lagi
"Ah.... su....sudah cukup. Aku....aku tidak memiliki tenaga lagi." Ucap Nana dengan lemas, Pria itu tersenyum ia menyahut
"Sebentar lagi.... tunggu sebentar lagi." Ucap pria itu terus memainkan tubuh Nana.
__ADS_1
Ke Esokan Harinya
Nana terbangun sangat sore, Semalam pria itu sangat Ganas membuat Nana kehilangan semua tenaga nya. Dengan lemas Nana terbangun Ia melihat tubuhnya yang telanjang, sekarang Nana sudah tidak suci lagi. Direktur telah merenggut Kesucian nya. Nana terlamun, Nana menangis Nana membenci dirinya yang telah ternoda itu. Kenapa semua itu bisa terjadi padanya? Dosa apa yang telah di lakukan nya? Sampai Nana harus mendapat Perlakuan menjijikan seperti itu.
Dengan lemas Nana berdiri, Nana Mulai memunguti Pakaian nya Nana memakai kembali Pakainya. Sehabis memakai pakaian Nana membuka pintu untuk keluar dari kamar itu, Nana sangat terkejut Pria yang telah merenggut kesucian nya itu ada di hadapan nya memandang Dingin Nana. Nana sangat takut, Nana merunduk ketakutan. Pria itu menatap Sinis Nana
"Kenapa? Kau takut? Sungguh sial bagi ku semalam telah bermain dengan Wanita seperti mu. Kau fikir kau yang merasa di rugikan? Aku juga sangat merasa di rugikan. Bertahun tahun aku mabuk sengaja menghindari diri dari Wanita, Dan sekarang semua itu hancur karna mu!." Ucap pria itu dia memandang rendah Nana.
__ADS_1
Nana hanya bisa menangis, Nana takut Nana tak berani menjawab apalagi memandang Pria itu. Perlahan pria itu mengeluarkan sebuah Cek Pria itu menyuruh Nana untuk mengisinya sendiri
"Isi nominal cek ini, berapapun yang kau mau! Aku ingin setelah ini kau bisa melupakan kejadian semalam! Anggap tidak terjadi apa apa." Ucap pria itu. Nana menangis Nana menyahut seolah semua adalah kesalahan Nana sendiri**.