
Keesokan Paginya, di ruang sarapan
"Zi, pagi ini bawa Nana untuk ikut ke kantor mu" ucap neneknya panzi
..."Oke nek" sahut panzi, Nana segera menyahut...
"Tidak perlu, aku lebih betah di rumah aja nek, aku takut ngerepotin Panzi nantinya". Panzi segera menyahut
"Ga kok, aku ga ngerasa di repotin, kalo kamu mau ikut ya ayo, lagian ga salah juga apa kata nenek." Tegasnya, Nenek segera menyahut
"Iya na, kamu ikut Panzi aja ke kantor, nenek tahu kamu pasti suntuk seharian di rumah terus, sesekali keluar ikut Panzi lagian Panzi juga jarang punya waktu luang buat kamu." Ucapnya.
Setelah mendengar ucapan nenek, nana dengan berat hati menerima tawaran itu karna nana tidak bisa terus menolak tawaran mereka, bukan nya tidak mau hanya saja nana terpikirkan dan teringat akan kenangan buruk yang dulu di alami dia sebelumnya di kantor yang membuat dia ragu untuk pergi.
Dalam perjalanan menuju kantor, di dalam mobil
__ADS_1
"Na, hari ini kamu ada pemeriksaan?" Tanya panzi, nana segera menjawab
"Iya, sekalian ada kelas kehamilan juga, jika kamu sibuk aku bisa pergi konsultasi sendiri kok." jawab nana
"Gak, hari ini aku ga terlalu sibuk, hanya saja ada rapat sebentar sama berkas-berkas yang belum aku tanda tangani, masih sempat kok buat ngantar kamu konsultasi," ucap Panzi
"Eemmmm, baiklah." sahut nana
"Pagi ga ngerasa mual kan?" lagi tanya panzi
"Obat yang kita beli waktu itu bagus kan?" tanya panzi, nana mengangguk mengiyakan Panzi kembali berkata. "Bagus kalo begitu, kamu harus sering meminumnya sesering mungkin, biar bayinya sehat dan gak ngebuat kamu kesulitan, aku tahu ga mudah bagi kamu buat mengalami kehamilan." timpalnya, nana segera menyahut
"Iya, aku akan coba buat minum lagi."sahut nana, Panzi segera menyahut perkataan Nana
"Masih perlu bantuan aku ga?" goda Panzi, Nana segera menolak Panzi, iya beralasan kalau lebih baik Nana meminumnya sendiri tak perlu bantuan dari panzi, sahutnya. Saat mendapati pertanyaan dari panzi itu Nana segera teringat akan kejadian semalam, dimana Panzi menipu Nana berpura-pura untuk minum obat padahal panzi punya niat lain.
__ADS_1
Mendapati respon Nana, Panzi tersenyum dalam hatinya ia bergumam pasti Nana teringat kejadian semalam, padahal saat itu nana terlihat begitu menggemaskan andai saja Nana mengizinkan Panzi untuk membantu nya itu alangkah baiknya bagi Panzi, entah kenapa akhir-akhir ini Panzi begitu suka mengelabui dan menjahili istrinya ia pikir itu sangat menyenangkan.
Tak lama kemudian, merekapun sampai di kantor, Nana menatap bangunan tinggi itu dengan tatapan kosong, saat itu Panzi mencoba menyadarkan Nana mengajaknya untuk segera masuk ke dalam kantor, akan tetapi nana ragu ia mencoba untuk mengumpulkan keberanian diri agar bisa masuk ke dalam bangunan tinggi itu, nana menghela nafas dalam hatinya ia bergumam "Nana ini bukan masalah besar, kamu pasti bisa!." Akhirnya mereka berdua masuk, saat memasuki aula kantor banyak perhatian tertuju padanya disana Nana merasa sangat canggung dan tertekan terlebih lagi ia mendengar suara bisikan-bisikan orang yang sedang bertanya-tanya dan membicarakan nya.
Panzi melihat istrinya begitu tertekan ia berusaha untuk menenangkan nya dengan meraih tangan Nana dan menggenggamnya, tersenyum pada nana dan mengisyaratkan untuk jangan takut ada Panzi bersama nya. Nana tersenyum dan mengangguk mengiyakan Panzi, dan akhirnya mereka sampai di depan ruangan kantornya Panzi, Nana terhenti dan terdiam, melihat Nana yang seperti itu Panzi segera tersadar kalau Nana belum melupakan kejadian itu sepenuhnya, Panzi pikir hatinya Nana pasti akan sakit ketika mengingat semua itu. Panzi segera berpikir alangkah baiknya kalau panzi membawa nana langsung ke ruang rapat, Panzi segera menarik tangan nana membawanya sambil berkata "Ikut aku." Ucapnya.
Saat itu nana terheran dan akhirnya tibalah di ruang rapat, nana mengetahui semua itu ia segera berkata "Zi, aku tidak bisa ikut bersama mu, kamu ada rapat penting, aku takut kalau kehadiran ku mengganggu pekerjaan kalian. Zi.. aku lebih baik pulang saja." Keluh nana, panzi segera menyahut
"Tidak boleh, kamu harus ikut bersamaku, perusahaan ini milikku bebas bagiku untuk membawa siapapun kesini, kamu orangku kamu tidak perlu khawatir dan berpikir kalau keberadaan mu mengganggu." tegas Panzi
Akhirnya Nana menuruti apa kata Panzi, saat keduanya memasuki ruangan, Nana merasa pemandangan begitu canggung, saat itu nana tepat berdiri di belakang Panzi orang-orang merasa terheran-heran akan keberadaan nana, namun tak lama kemudian semua orang berdiri menyambut kedatangan Panzi ada asisten nya juga Reno, Panzi segera meminta asisten nya untuk menyiapkan tempat duduk untuk istrinya dan saat itu nana duduk tak jauh dari Panzi yaitu disebelahnya.
Tak lama rapat pun berlangsung selama satu jam lebih, Nana merasa suntuk dan mengantuk, nana mencoba untuk tidak tertidur karna itu terkesan tidak sopan, akan tetapi lama kelamaan nana tidak bisa menahan rasa kantuknya lagi, Nana menempatkan kedua tangannya di atas meja dan menyandarkan kepalanya di atas tanganya pelan pelan nana menutup kedua matanya dan tanpa sadar ia pun tertidur.
Tak lama setelah Nana tertidur, Panzi menyadari itu ia tersenyum dan segera mengakhiri rapatnya, ia tidak ingin membangunkan Nana yang tertidur itu, Panzi juga meminta untuk Reno membawakan berkas-berkas yang perlu di tandatangani nya ke ruangan rapat itu sambil menunggu nana terbangun dengan sendirinya.
__ADS_1