
"**Sa....saya me...merasa sedikit lemas. Sa...saya tidak berniat ingin berendam diri sangkin lamanya. Ma...maaf telah merepotkan bapak dengan membawa saya kesini." Sahut Nana takut
"Tak masalah. Lagian kau seperti ini karna ku. Jika kau merasa heran kenapa aku bisa membawa mu kesini, itu karna Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan pada mu" Ucap panzi
"A....Apa itu pak?."
__ADS_1
"Kenapa kau mengundurkan diri dari perusahaan?" Tanya Panzi
"Ak....Aku merasa tidak nyaman di tempat itu." Sahut Nana
"Kenapa? Apa Itu karna ku?." Lagi tanya Panzi, Dia berfikir Alasan mengundurkan diri Nana dari perusahaan nya itu karna Panzi. Segera Nana menyahut
__ADS_1
"Hah, sudahlah tak ada gunanya berbicara dengan Wanita seperti mu," Panzi Tahu sebenarnya jawaban Nana adalah kebohongan. Panzi bisa menebak dari gerak gerik Wanita itu. Tapi sudahlah apapun yang mau di lakukan Nana, Itu bukan urusan nya. Yang terpenting adalah mengingatkan Wanita itu untuk tidak berani memberitahukan Kejadian Malam itu pada Siapapun ataupun mengandung Anak itu
"Ingat! Jangan beritahu kejadian malam itu pada siapapun! Atau aku akan menghancurkan mu!," ancam Panzi. "Sebelum pergi. lagi aku tegaskan padamu. Jangan coba coba diam diam mengandung Anak ku. Jika tidak, Jangan salahkan aku Akan bersikap Keras padamu untuk menyingkirkan mu dan Anak itu. Aku akan benar benar menghancurkan mu jika itu terjadi." Tegas Panzi setelah itu langsung beranjak pergi.
Seperginya Pria itu, Nana hanya terdiam takut sedih setelah mendengar ancaman Pria itu. Nana hanya berharap semoga Nana tidak hamil, Nana tidak mau sampai membunuh Anaknya jika itu terjadi. Sekejap Nana menangis merenungkan Nasib nya yang berubah sejak malam itu. Nana juga sangat takut pada Pria itu, apalagi setelah mendengar ancaman dari Pria itu. Ketakutan Nana pada Pria itu makin dalam.
__ADS_1
Hari hari berlalu. Panzi sudah tidak menemui Nana Lagi. Rasa sedih dan terpuruk masih di alami oleh Nana namun Nana tidak boleh terus seperti itu Atau Nana tidak bisa menyembunyikan Sesuatu yang sangat di benci itu. Jadi Nana harus tetap semangat menjalani hidup dan keseharianya. Nana berfikir Untuk mencari Sebuah pekerjaan baru untuknya. Saat itu sangat Susah mencari sebuah Perkerjaan baru untuk Nana. Nana sudah melamar ke berbagai tempat, Akan tetapi setiap perusahaan yang Nana datangi Untuk sekarang tidak butuh Karyawan. Terlihat dari Nilai Nana yang lumayan Tinggi dulu sewaktu sekolahnya, Akan tetapi tetap saja itu tidak membuat Nana mendapat pekerjaan Satupun.
Setelah lama mencari sebuah pekerjaan, Nana merasa keLelahan. Dari pagi Nana terus kesini kemari Nana merasa sedikit Lemas dan pusing. Pada Akhirnya Nana berteduh sebentar. Tak sengaja Pria itu melihat Nana ketika dia sedang mengendarai mobil nya. Terlihat muka lemas dan pucat pada Nana, Entah kenapa pria itu merasa kasihan melihat Nana. Padahal sebelumya Panzi tidak pernah peduli dengan siapapun kecuali Neneknya. Pria itu sudah bisa menebak saat ini Nana sedang mencari sebuah pekerjaan baru. Sempat Pria itu berniat ingin membantu Nana dengan menawari Nana untuk Naik mobilnya, akan tetapi Pria itu segera merubah niatnya. Pria itu berfikir untuk apa Panzi membantunya? Itu bukan urusan nya. Lagian ada masalah kantor yang masih harus Panzi selesaikan. Dan Pada akhirnya Panzi tidak membantu Nana. Dia kembali melajukan mobilnya menjauh dari jangkauan Nana**.