PLEASE BE MARRIED

PLEASE BE MARRIED
[EP.23] KEDUA PILIHAN ITU BEGITU SULIT


__ADS_3

Nana menuruni sebuah tangga di depannya terlihat Nenek Panzi yang sedang menikmati teh sambil membaca koran di sebrang kolam, tanpa di sadari Nana Nenek melihatnya nenek segera memanggil Nana untuk menghampiri nya. Nana tersenyum dan segera menghampiri nenek sambil berkata "Pagi nek" ucap Nana dengan senyum manisnya.


Nenek segera memegang kedua tangan Nana membalas senyum Nana sambil menyeretnya untuk segera duduk. Nenek menyahut


"Sudah sarapan sayang" ucap nenek dengan lembut Nana kembali menyahut

__ADS_1


"Belum nek, setiap pagi perutku terasa mual jadi gak ada mood buat sarapan" Sahut Nana. Mendengar itu nenek segera menanyai Nana apa Nana baik-baik saja? Apa perlu ke dokter ucap nenek sedikit khawatir takut terjadi sesuatu terhadap Nana dan bayinya. Namun Nana segera menyangkalnya menyahut tidak terjadi apa-apa itu hanya gejala biasa saja yang biasa di alami wanita hamil pada umumnya. Mendengar semua itu nenek menghirup napas lega "Syukurlah kalau tidak terjadi apa-apa".


Nana tersenyum melihat nenek yang tak lama di kenali nya begitu mengkhawatirkan nya, tak menyangka masih ada seseorang yang begitu menyayangi nya dan bayi nya. Tak lama sedikit berbincang nenek melihat Panzi yang sedang menuruni tangga menuju arah pintu keluar, seperti nya Panzi akan pergi bekerja melihat itu nenek segera meneriaki Panzi bilang kalau


"Gak nek, nanti aku sarapan di kantor aja." Ucap Panzi sambil berjinjit keluar. Nenek hanya bisa menghela nafas dan menggeleng kepala kenapa Panzi selalu seperti itu, selalu tidak menyempatkan waktu untuk sarapan, selalu mementingkan pekerjaannya daripada dirinya sendiri, bahkan sudah menikah pun tetap saja begitu Keluh nenek. Mendengar itu Nana menanggapi nenek dengan senyumnya tak tahu harus bilang apa, bagaimanapun Nana tidak punya hak atas diri Panzi kalau pun dia adalah istrinya. Nana tidak pernah lupa akan dirinya yang sebenarnya posisi nya dalam kehidupan pria itu.

__ADS_1


Nenek menyadari ada yang salah terhadap pasangan baru itu, tetapi nenek tidak banyak berpikir nenek segera mengajak Nana ke suatu tempat. Nenek membawa Nana ke sebuah kamar di dalamnya terdapat poto-poto bayi dan anak. Nana mulai menyadari ketika melihat ke sebuah figura yang terdapat Poto masa remaja Panzi untuk memastikan nya Nana bertanya "Kamar ini adalah kamar?..."


Dengan pertanyaan seperti itu nenek segera mengiyakan dan menyahut kalau tempat itu memanglah kamar Panzi sewaktu kecil, jadi nenek berencana ketika bayi Nana lahir bayi Nana akan tinggal di kamar itu, nenek begitu yakin ketika mengatakan nya ia mungkin tidak tahu kalau bayi itu tidak akan Nana serahkan pada Panzi bagaimanapun mereka sudah sepakat untuk bercerai ketika bayi itu lahir dan Panzi tidak akan mendapatkan hak asuh.


Nana melihat nenek begitu bersemangat memberesi barang barang untuk bayi Nana nanti, Nenek juga memperkenalkan satu persatu mainan semasa kecil Panzi dan segalanya. Hatinya merasa sedikit sedih, melihat nenek Panzi begitu antusias dan bahagia jika nenek mengetahui kebenaran nya akankah Nana tega merenggut kebahagiaan kecilnya itu? Akankah Nana tega melihat nenek yang begitu baik padanya sedih? Pastinya Nana akan merasa sangat bersalah setelah berpikir Nana merasa bingung apa yang harus di lakukan nya? Memberikan hak asuh pada Panzi? Atau tetap mempertahankan hak asuhnya? Kedua pilihan itu begitu sulit.

__ADS_1


__ADS_2