
Siang Harinya. Akhirnya Nana dan Panzi tiba di pelabuhan mereka segera bergegas pulang dan tak lama mereka sampai di rumah. Sesampainya di rumah Panzi memberitahukan Nana kalau
"Kamu tinggal dan istirahatlah di rumah, aku akan pergi ke kantor dulu setelah urusan kantor selesai aku akan segera kembali, kita pergi cek kandungan bersama. Oke?." Ucap Panzi. Nana segera mengangguk mengiyakan, Panzi tersenyum dan segera pergi ke kantor nya.
Seperginya Panzi, Nana segera masuk kedalam rumah dan melihat pelayan yang sedang beres-beres rumah. Nana menghampiri pelayan itu dan bertanya "Dimana nenek?," tanya Nana. ART itu pun menjawab kalau
"nenek pergi keluar non," sahutnya. Melihat ART yang sedang sibuk beres-beres itu Nana kembali menyahut
__ADS_1
"Bi, mau saya bantu?" tanya Nana, kalaupun sekarang Nana adalah istrinya Panzi akan tetapi Nana merasa tidak enakan kalau melihat orang lain bekerja di dekatnya sedangkan ia hanya diam, itu membuat hati Nana tidak tenang.
"Gak perlu non! bibi bisa sendiri kok. Non kembali istirahat aja, lagian sebentar lagi pekerjaan bibi selesai kok non." Sahut ART itu.
"Bener ga perlu?" Nana memastikan, bibi segera menyahut
Sore harinya, Panzi akhirnya menyelesaikan pekerjaan nya, setelah itu ia segera kembali ke rumahnya untuk menjemput Nana dan mengantarnya cek kandungan. Ketika sampai di rumah Panzi segera bergegas menuju kamarnya, ia melihat Nana yang tengah tertidur dengan pulas. Perlahan Panzi menghampiri Nana, Panzi duduk di sebelah Nana, ia membenarkan rambut yang terurai di wajah Nana. Panzi tersenyum sembari memandang wajah Nana yang tengah tertidur pulas itu, menunggu Nana terbangun dengan sendirinya. Panzi terus memandangi wajah Nana ia bergumam Jika di lihat-lihat parasnya cukup cantik. Entah kenapa semakin lama memandang Nana Panzi semakin tidak sabar, ia menutup kedua matanya perlahan ia semakin mendekatkan pandangan nya tanpa sadar Panzi mencium kening Nana dan tak cukup hanya itu rasa tak sabaran panzi membuatnya semakin tidak sadar, ia mencium bibir Nana, kalaupun tanpa respon apapun hanya dengan merasakan rasa lipstik Nana setidaknya rasa tak sabaran Panzi pelan-pelan mulai mereda.
__ADS_1
Tengah Panzi begitu menikmati ciumannya, Nana mulai terbangun Nana merengkuh karena merasakan ada sesuatu yang mengganggunya, Merasakan Nana yang sepertinya mulai terbangun Panzi tersadar dan segera melepaskan ciumannya. Nana segera membuka kedua matanya samar-samar ia melihat Panzi yang di sebelahnya yang terlihat kaku, Nana segera duduk dengan kesadaran yang belum sepenuhnya terkumpul, ia bertanya pada Panzi apakah Nana tertidur cukup lama?, apa masih sempat untuk pergi konsultasi?, Argh! kenapa Nana harus tertidur!. Keluh Nana, Panzi tersenyum dan mengelus rambut Nana ia segera menyahut Nana kalau, Masih sempat untuk mereka pergi ke dokter dan Panzi menyarankan agar sebaiknya sekarang nana segera cuci muka dan bersiap-siap untuk pergi konsultasi sedangkan Panzi akan menunggunya di depan. Nana menuruti apa kata Panzi dan segera mempersiapkan diri untuk pergi.
Tengah perjalanan menuju rumah sakit suasana begitu canggung, untuk mencairkan suasana Nana mencoba mengajak bicara panzi kalau
"Oh iya, saat tertidur aku merasa ada sesuatu yang menganggu ku." ucap Nana, Panzi tersenyum ia tahu pasti Nana mulai mencurigai nya Panzi terpikirkan seperti nya jika sedikit menggoda nya akan sedikit menyenangkan,
"Benarkah? Dia area mana yang merasa terganggu," goda Panzi, Nana dengan polos menyahut
__ADS_1
"Di sini!!" Sahut Nana sambil menunjuk ke arah bibirnya, Nana kembali meneruskan "Dan juga saat terbangun bibir ku terasa lembab, bukankah sedikit aneh?" Keluh Nana, Panzi segera menghentikan mobilnya ia menatap ke arah Nana sambil tersenyum. Nana terdiam sambil melihat ke arah Panzi dan kembali bertanya "Kenapa tiba-tiba menghentikan mobilnya?" Tanya Nana namun ketika melihat ekspresi Panzi yang tersenyum sambil menatap nya membuat Nana sedikit malu, Nana segera mengalihkan pandangannya sambil bertanya dengan malu-malu, "Kenapa kamu tersenyum begitu..." ucap nana yang merasa salting itu, Panzi tersenyum gemas dengan tak sabar ia segera meraih wajah Nana dengan santainya mencium bibir Nana.