PLEASE BE MARRIED

PLEASE BE MARRIED
[EP.13] BERFIKIR UNTUK MENGGURKAN ANAKKU


__ADS_3

Segera Nenek menyahut meyakinkan calon besan nya itu "Ibu besan tenang saja, Saya jamin cucu saya akan bertanggung jawab. Saya juga tahu karakter cucu saya dia seorang Pria yang bertanggung jawab. Jadi ibu besan tak perlu khawatir Soal cucu saya akan bertanggung jawab pada putri anda." Sahut Neneknya Panzi mencoba menenangkan Ibunya Nana agar tidak terlalu sensi pada Panzi.


Setelah mendapat pertanyaan dari Calon mertuanya itu, Panzi bergumam dalam hatinya. Ia mencoba mengingat kejadian sebelumnya yang terjadi setidaknya Panzi bisa menebak keberadaan Nana sekarang. Jika di fikir-fikir Panzi ingat terakhir kali dia bilang pada Nana untuk tetap lahirkan Bayinya. Panzi tidak mengancam Nana saat itu. Tapi kenapa Nana kabur? Apa mungkin perkataan Panzi keterlaluan pada Nana? Jadi Nana kabur darinya. Atau karna rasa takut Nana pada Panzi, Jadi Nana kabur darinya?. Fikir Panzi ia terus berfikir keras.


Melihat Panzi yang terlihat melamun itu Lagi Ibunya Nana menggertak Panzi


"Kau! Kenapa kau malah diam? Cepat Temukan Putri saya!" Gertak ibunya Nana. Panzi sangat kaget Panzi hanya bisa mengangguk angguk ia menyahut


"Baik, baik tante. Sebelum itu Saya akan menghubungi bawahan saya dulu untuk membantu saya menemukan Putri anda." Sahut Panzi dengan berhati hati. Sebenarnya dalam hati kecilnya, kenapa Panzi tidak bisa membantah Perintah ibunya Nana? Padahal faktanya Panzi adalah Orang yang suka memerintah bukan di perintah. Tapi sudahlah sekarang Bukan saatnya memikirkan semua itu.


***

__ADS_1


Di Rumah sakit. Terlihat di monitor satu nyawa yang terlihat masih kecil itu. Dokter melihat kondisi Nana dan Bayinya sangat sehat. Nana hanya perlu menjaga kondisi hati saja agar tetap tenang. Nana tersenyum akan tetapi di balik senyuman itu Nana masih belum mengumpulkan keberanian nya untuk bilang pada DokterĀ  Nana ingin melakukan Aborsi. Di sisi lain Nana juga seperti nya tak tega jika harus menggurkan Anaknya. Nana sangat bingung Nana begitu tak berdaya saat ini.


Di Sisi lain, akhirnya Panzi menemukan keberadaan Nana. Panzi segera bergegas ke tempat itu. Setelah sampai dengan terburu buru Panzi segera pergi ke ruang Ibu dan anak (intinya ruangan khusus kehamilan) Panzi berlari agar segera sampai di tempat itu. Akhirnya Panzi sampai di ruangan dimana Nana berada dan kebetulan disana Nana sedang melakukan USG.


Panzi tertegun melihat layar monitor itu. Panzi melihat setiap gerakan Bayi nya. Entah kenapa Panzi merasa tergerak ketika melihat layar monitor itu. Panzi tersenyum melihat anaknya yang belum lahir itu. Akan tetapi dokter segera menyudahi Pemeriksaan itu. Pandangan Panzi segera beralih pada Nana, Panzi melihat dokter memberikan hasil salinan USG itu pada Nana. Namun Panzi melihat Exspresi yang tak menyenangkan pada Nana.


Ketika dokter akan meninggalkan Nana yang telah selesai di periksa itu, Nana segera menghentikan nya


"Sa...Saya kesini bu...bukan untuk pemeriksaan dok." Ucap Nana dengan ragu. Dokter menyahut


"Lalu anda kemari untuk apa Nona?" Tanya dokter tak mengerti apa sebenarnya yang di inginkan pasienya

__ADS_1


"Sa....saya kemari untuk...untuk...." Nana masih ragu untuk mengucapkan apa tujuan sebenarnya. Karna mendengar jawaban Nana begitu ragu ragu Dokter segera memotong pembicaraan Nana


"Untuk apa Nona? Anda bicara saja jika ada sesuatu yang ingin di sampaikan anda bilang saja tak perlu ragu. Jika ragu dan banyak fikran seperti itu, itu tak baik untuk kondisi konseling anda." Ucap dokter memberi Nana peluang untuk segera bicara. Setelah mendapat respon dari dokter Nana memberanikan diri bilang kalau


"Sa..Saya ingin menggurkan Kandungan saya dok." Ucap Nana akhirnya dia bisa mengatakan tujuan nya.


Dokter tertegun syok apa yang di katakan Pasien nya itu


"Apa? Jadi anda ingin melakukan aborsi?" Tanya dokter tak percaya. Nana segera mengangguk mengiyakan kalaupun ragu baginya.


Panzi yang mengintip itu ikut tertegun tak menyangka. Panzi segera menerobos masuk ketika Nana sedang Meyakinkan dokter untuk setuju melakukan aborsi. Panzi segera menyahut

__ADS_1


"Jangan dengarkan dia dokter! Aku ayah dari Bayinya. Aku tidak setuju dia melakukan aborsi." Ucap Panzi memotong pembicaraan mereka.


__ADS_2