
Nana membuka matanya, Nana melihat ke sekeliling ruangan, dia menyadari tangannya memakai infusan, dan dirinya terbaring di atas kasur. Nana juga melihat Panzi yang sepertinya kelelahan sedang tertidur dengan duduk di atas sofa kepalanya menyandar pada sofa, Nana sedikit tersentuh melihat Panzi seperti itu. Namun ketika ia mengingat kejadian tadi malam rasa takut nya menghantuinya lagi, Nana menangis Nana tak tahan mengingat itu semua kenangan buruk dan trauma yang Nana alami semakin bertambah, Nana terus menangis hatinya seperti tersayat entah kenapa ketika melihat Panzi dan mengingat kejadian semalam hatinya merasa sangat sesak, sehingga tidak ada ruang di hatinya untuk tenang. Namun di bawah kendali infusan Nana kembali merasa mengantuk, dengan rasa takut, lelah, sakit, yang ia rasakan Nana tertidur kembali.
__ADS_1
Panzi perlahan terbagun, ia segera mendekat ke arah Nana, Panzi membenarkan rambut Nana yang terurai di wajahnya Panzi melihat air mata yang mengalir di pipinya dalam hati kecil Panzi berkata "Bahkan saat tertidur pun dia menangis." Ucap Panzi dalam hatinya dengan tatapan bersalahnya. Namun menjadi kasih yang dia rasakan, Ia ingat sebelum Nana pingsan Nana bilang kalau Panzi benar-benar keterlaluan Panzi membuat Nana sangat ketakutan, di tambah lagi penjelasan dokter soal kondisi mental Nana yang mempengaruhi fisik nya dan bayinya. Jika terjadi terus seperti itu Nana akan terus merasakan trauma jika seperti itu ada kemungkinan Nana dan janinya tidak akan terselamatkan. Memikirkan semua itu Panzi sangat sedih dan menyesal, kemudian ia pun memutuskan untuk tidak menampakkan dirinya di hadapan Nana ketika Nana terbangun, saat ini Nana benar-benar di buat takut oleh panzi, Panzi tidak bisa terus berada di dekat Nana. Kalaupun seperti itu, Panzi memutuskan untuk tetap menjenguk Nana ketika tertidur, jadi Nana tak perlu melihatnya. Panzi dengan rasa bersalahnya pergi meninggalkan Nana, sebelum pergi sempat Panzi akan mencium kening Nana akan tetapi ia segera tersadar Panzi tidak berhak melakukan itu, Panzi memundurkan niatnya. Sebelum pergi Panzi hanya mengusap lembut kepala Nana lalu pergi meninggalkan Nana.
__ADS_1
Hari-hari berlalu, di hari sebelumnya Nana sudah tersadar kalau diam-diam Panzi selalu merawatnya ketika ia tertidur, bahkan sekali lagi Nana ingin memastikan apa Panzi benar-benar merasa bersalah padanya? Di saat jam tidur Nana, Nana sengaja tidak tidur, Nana ingin sekali lagi mengetahui apa yang akan di lakukan Panzi.
__ADS_1
Tak lama Panzi pun datang, Panzi langsung menghampiri Nana, Panzi tersenyum lega melihat Nana. Panzi menggapai perut Nana mengelusnya dengan lembut Panzi meminta maaf pada bayinya karna tidak bisa menjaga ibunya dengan baik. Bahkan untuk bertemupun Panzi harus diam-diam tanpa sepengetahuan Nana agar Nana tidak takut nantinya. Mendengar semua itu Nana merasa tersentuh dan sedih, pria itu tak sepenuhnya membuatnya takut, akan tetapi Nana kembali berpikir; Kenapa sikap Panzi berbeda dari yang kemarin? Panzi yang ini lebih memiliki sikap bertanggung jawab dan penyabar. Sedangkan yang sebelumnya, Panzi begitu dingin dan tidak berperasaan.
__ADS_1
Happy reading 😘
__ADS_1