
Di ruangan rumah sakit, Nenek sedang berbaring sambil memikirkan gadis itu. Entah kenapa Nenek sangat menyukai Gadis itu, Andai saja gadis itu bisa menjadi Cucunya Nenek Akan sangat menyayangi nya. Tapi sudahlah Itu sangat tidak mungkin. Tiba tiba saja Nenek mendapat Telpon dari Cucu kesayangan nya Panzi. Nenek segera mengangkat telpon itu. Hendak akan menyahut tiba tiba saja terdengar Suara bukan dari Suara Cucunya itu.
"Halo! Ini dengan Neneknya pemilik Ponsel ini?" tanya Ibunya Nana dalam telpon Dalam pengucapanya terdengar jelas Kalau dia masih marah dan kesal Pada Panzi.
"Iya, Ini neneknya. Ada apa ya?" tanya Neneknya Panzi ia bingung sebenarnya Ada apa dengan Panzi Saat ini.
Namun kebingungan Nenek itu terjawab setelah ibunya Nana langsung bercerita mengenai Panzi. Awalnya Nenek merasa Syok akan tetapi Nenek juga merasa senang Akhirnya Ia bisa punya Cucu dari Panzi.
"Jadi bagaimana Nyonya? Bagaimana anda dan Cucu anda mempertanggung jawabkan perbuatan Cucu anda?! Saya tidak mau putri saya satu satunya hancur."
__ADS_1
"Baik, baik. Ibu besan tidak perlu khawatir. Saya tahu apa yang harus kami lakukan. Ibu besan tenang saja. Sekarang Ibu besan dan cucu saya ada di mana? Kirim lokasi ibu besan sekarang ya. Saya akan segera kesana untuk menyusul kalian." sahut Neneknya Panzi. Bukanya marah mengetahui Cucunya telah menghamili anak orang, Akan tetapi Nenek merasa sangat senang. Karna faktanya dia akan segera mendapatkan Cucu.
Di sisi lain, Panzi bingung Siapa yang telah di hubungi oleh ibunya Nana itu? Akan tetapi tak berselang Lama ibunya Nana segera memberikan kembali Ponsel milik Panzi. Panzi segera membuka ponselnya, Melihat siapa yang telah di hubungi oleh ibunya Nana. Panzi melihat kalau Ibunya Nana telah menelpon Neneknya. Panzi mengerutu
"Gawat! Kenapa harus Nenek!." ucap Panzi mengerutu dengan suara pelan. Namun ibunya Nana mendengar Apa yang di katakan Panzi Ibunya Nana menyahut Panzi dengan sinis
"Ada Apa? Kau keberatan?!" tanya Ibunya Nana dengan sinis.
"Maaf." ucap Nana merasa bersalah. Panzi segera menyahut Nana
__ADS_1
"Tak perlu meminta maaf, Ini bukan salahmu."
"Tapi ibu telah berbuat lancang Padamu. Maafkan Saya Pak." Nana tunduk merasa bersalah. Lagi Panzi menyahut menegaskan
"Ini bukan salahmu!" tegas Panzi.
Nana merasa sedih, Nana menyahut
"Sa....Saya ti...tidak bermaksud agar bapak Mau bertanggung jawab. Sa...saya tahu bapak tidak menginginkan Anak ini, Jika Bapak tidak mau bertanggung jawab. Saya bisa menggurkan Anak ini Asal Ba....bapak tidak....tidak mengganggu kehidupan Saya dan keluarga saya. Ka...kalaupun Saya tidak ingin meng...menggurkan Anak ini, Saya akan memaksakan nya. Ba...bapak tidak perlu khawatir. Se...sebelumnya kita sudah sepakat untuk melupakan kejadian itu. Dan setelah itu kita bisa menjalani kehidupan masing-masing." ucap Nana, Sebenarnya Nana ragu untuk mengucapkan itu. Karna rasa takutnya pada Pria itu Nana memberanikan diri mengucapkan semua itu Pada Panzi.
__ADS_1
Panzi menyahut Nana dengan geram
"Ya! Aku memang tidak menginginkan anak itu, Akan tetapi seseorang menginginkan Anak itu. Jadi tetap lahirkan anak itu, Setelah itu kau bisa pergi dari kehidupan ku!." Ucap Panzi lagi lagi ia berbicara dengan Nada tinggi Pada Nana, Membuat Nana semakin takut dan merasa kalau Nana yang bersalah padanya.