
Halo semuanya READERS setia author 👋👋👋 Sebelum melanjutkan ke cerita selanjutnya Author saranin untuk baca Sinopsis dari Novel ini kembali karna setelah sekian lama gak update, ada sedikit revisi dari author mohon di mengerti ya.🤗 Salam hangat dari author ❤️ Selamat membaca kembali 😘
***
Setelah melontarkan kata-kata itu, ibunya Nana segera bergegas pergi meninggalkan Nana. Panzi yang sedang menguping itu tahu akan kepergian ibu dia segera memberanikan diri mencoba menghampiri Nana. Dengan ragu Panzi mengetuk pintu dan memanggilnya.
Nana yang tengah terlamun itu ia tersadarkan oleh suara yang tampak familiar itu, ia segera berbalik ia melihat ke arah suara itu dan itu ternyata adalah dia. Ketika melihat Panzi ada di hadapannya Pikiran Nana mulai berhamburan, ia khawatir kedatangan Pria itu lagi-lagi untuk mengambil kembali hak asuh bayi nya dengan cara menikahinya. Dan ia juga berfikir apakah Pria itu sudah mendengar pembicaraan ibu dan dirinya? dan pada akhirnya dengan rasa khawatir dan ragu ia bertanya
"Sejak kapan kau disini?" ucapnya, Panzi segera menyahut dengan ragu karna merasa canggung
__ADS_1
"Baru saja." Sahut Panzi ia terpaksa berbohong karena takut wanita itu akan merasa takut padanya. "Apa kamu punya waktu sebentar? mari kita berjalan-jalan ada sesuatu yang ingin aku bicarakan pada mu." Ucap Panzi dengan hati-hati.
Setelah mendengar ucapan Panzi perasaan nya tak lagi sekhawatir tadi, ia tahu dengan mendengar ucapan Panzi yang hati-hati itu mungkin tidak ada niat jahat yang akan di lakukan Panzi terhadap nya, Nana segera mengangguk menyetujui Panzi.
Tak lama sesampainya mereka di suatu taman yang tak ramai banyak nya orang. Mereka duduk di kursi yang ada di sana namun setelah lama duduk tak ada satu katapun yang mereka ucapkan. Nana merasa sedikit canggung ia memberanikan diri bertanya
"Ke...kenapa hanya diam? Bukan kah ada sesuatu yang ingin anda bicarakan?" Tanya Nana dengan ragu. Panzi segera menyahut
"Kenapa anda mengatakan kata ini lagi? Bukan nya kita sudah sepakat untuk tidak berurusan lagi satu sama lain? Kenapa anda mengungkit ini lagi? Apa anda ingin menghancurkan saya lagi!" Sahut Nana lagi perkataan itu sedikit menguras emosi nya. Tak mau wanita itu salah paham terhadap nya lagi segera Ia menyahut
__ADS_1
"Ini tidak seperti yang kamu pikirkan. Dengarkan saya, saya tahu kamu benci saya. Dan saya sadar saya telah menghancurkan kehidupan anda. Saya tahu itu. Saya tidak ingin anak yang ada di perut mu saya menginginkan nya karna nenek menginginkan seorang cucu dari saya. Tapi saya pikir kamu lebih berhak atas anak itu, jadi bagaimanapun saya tidak akan mengambil anak itu dari mu." Jelas Panzi ia segera menjelaskan pada Nana agar tidak terjadi kesalahpahaman lagi. Namun ketika mendengar itu Nana sedikit terdiam dan menyahut
"Lalu anda ingin apa dengan menikahi saya? Bagaimanapun saya tidak pantas untuk menjadi istri anda kalaupun saya sedang hamil anak anda. Saya pikir saat itu anda sangat membenci saya, sekarang kenapa anda tiba-tiba bersikap baik terhadap saya?" Tanya Nana dengan tatapan tak percaya. Ketika mendengar pertanyaan itu Panzi teringat mungkin saat itu ia mengalami kepribadian lain lagi, Kepribadian yang mengakibatkan ia berubah sikap dalam sekejap, yaitu menjadi Panzi yang arogan, pemarah, dan berdarah dingin. Tak heran jika wanita itu bertanya seperti itu karna kenyataanya di bandingkan dengan sekarang memanglah sangat berbeda. Lalu ia dengan tenang menyahut
"Kamu tidak akan mengerti, kamu akan tahu nanti," Sahut Panzi lagi Panzi mencoba meyakinkan Nana "Dengar, kali ini aku tulus. Tulus untuk membantu mu dari keterpurukan ini, aku janji tidak akan meminta atau menggugat hak asuh semua aku berikan padamu." Sahutnya dengan sungguh, Melihat itu hati Nana sedikit tergerak. Panzi terus mencoba meyakinkan wanita itu. "Jika aku terus membiarkan mu seperti ini, itu bukan jalan yang bagus kau akan semakin hancur dan terpuruk. Melihat itu aku pasti akan merasa sangat bersalah seumur hidup ku, aku tidak ingin seumur hidup ku, hidup dalam kesalahan itu, setidaknya aku ingin sedikit meringankan rasa bersalah ku itu. Percaya lah..." Tegasnya.
Mendengar semua itu Nana mulai terpikirkan Apakah benar pria itu hanya ingin membantu nya saja? Apa benar pria itu tidak menginginkan bayinya? syukurlah dia sedikit lega memikirkan nya. Namun sebenarnya Nana sedikit kurang paham dengan penjelasan pria itu tapi sudahlah memikirkan pria itu tidak akan menginginkan anaknya dia merasa aman. Kurang yakin dengan itu Nana mulai bertanya dengan ragu
"Benarkah seperti itu? anda tidak bohong kan?" ucapnya.
__ADS_1
"Ya, aku tidak bohong!" sahut Panzi sambil memandang Nana lekat-lekat agar Nana semakin percaya dan yakin terhadap nya.
Melihat semua itu Nana tidak ada kata untuk menolak, lagian niat pria itu baik tak mungkin pria itu berbohong padanya. Dengan melihat matanya saja yang terlihat tulus Nana percaya dan yakin kalaupun pria itu telah membuatnya seperti sekarang tapi Pria itu tidak terlalu jahat dan dari sikap nya barusan pria itu tak sejahat yang ia pikirkan. Setelah berpikir sejenak akhirnya Nana memutuskan "Baiklah, aku mau." sahutnya yakin dan percaya mungkin dengan mengambil langkah ini, ini adalah keputusan yang tepat untuknya sementara selebihnya ia bisa pikirkan nanti setelah semuanya terasa tenang.