
Keesokan harinya, Panzi yang tengah tertidur itu membuka matanya, Panzi terkejut saat itu dia sedang tertidur memeluk Nana, Panzi segera melepaskan pelukannya. Karena Panzi Nana segera terbangun, keduanya saling menatap tak percaya satu sama lain apa yang telah mereka lakukan semalam?.
Di sisi lain, akhirnya rencana nenek berjalan dengan mulus nenek tersenyum senang dan bergumam "Semoga kalian menjadi pasangan dan bahagia selamanya." Doa nenek untuk Panzi dan Nana. Setelah melihat Nana, nenek begitu yakin kalau Nana adalah gadis yang tepat untuk menjadi pendamping hidup Panzi. Melihat sikap lembut dan baik hati Nana, membuat nenek begitu menyayangi Nana. Walaupun ada rasa prihatin pada Nana karena Nenek tahu tak ada cinta di antara mereka, apalagi setelah mendengar cerita Nana sebelumya yang mendapat perlakuan buruk yang telah di lakukan Panzi. Nenek ingin Panzi menebus kesalahan Panzi pada Nana sebelumya, tetapi akankah Nana menerima Panzi yang memiliki dua kepribadian?.
Di sisi lain, Panzi melihat Nana yang tengah melamun sambil menatap lautan Panzi mencoba menghampiri Nana, Suasana begitu canggung Nana memberanikan diri mencairkan suasana dengan berkata
__ADS_1
"Kamu tidak perlu khawatir, itu... tidak apa-apa" ucap Nana melihat ekspresi Panzi yang memiliki rasa bersalah padanya. Panzi terdiam ia segera menyahut
"Nana, apakah kamu tahu apa yang kamu katakan?!" Tegas Panzi. Lagi Panzi menyahut "Kemarin..." Seketika Panzi terhenti dan Nana segera memalingkan wajahnya, Nana tidak ingin mengungkit kembali kejadian yang sudah terjadi. Lagi Panzi kembali meneruskan "Kenapa kamu bisa dengan mudahnya mengatakan tidak apa-apa?" Desak Panzi, Nana segera menyahut
"Apakah kamu tidak memikirkan dirimu sendiri?" Tegas Panzi Nana segera menyangkal
__ADS_1
"Saya sudah memikirkan nya. Jika pasangan saya menyukai saya dengan tulus, seharusnya tidak peduli dengan masa lalu saya." Ucap Nana, Panzi hanya terdiam mendengarkan setiap perkataan Nana yang membuat hatinya semakin bersalah karena sifat Nana yang selalu menanggung setiap kesalahan yang seharusnya tidak di tanggung nya. Nana kembali meneruskan
"Kamu berbeda. Aku tahu kamu adalah orang baik, karena aku kamu harus di desak untuk menikah dengan ku, karena aku juga kehidupan tenang mu terganggu. Aku merasa sangat bersalah. Maafkan aku" ucap Nana sambil menundukkan wajahnya. Panzi melirik ke arah Nana ia menyahut
"Kenapa kamu selalu menyalahkan dirimu sendiri? Tahukah kamu? saat ini aku seperti pria brengsek yang tak tahu malu! Setiap perlakuan buruk yang aku lakukan padamu kamu yang selalu menjadi korban dan menanggung segalanya! Melihat sikap mu yang seperti ini aku makin membenci diriku sendiri." Ucap Panzi dengan marah, Mendengar setiap perkataan Nana itu memancing amarah Panzi, Panzi berusaha untuk bisa tenang agar tidak terpancing jika Panzi berganti kepribadian Panzi takut dia akan menyakiti Nana lagi, akan tetapi sekeras apapun Panzi berusaha untuk tetap tenang mendengar setiap perkataan Nana Panzi merasa sangat terpukul rasa bersalah dan amarah bercampur aduk dan pada akhirnya Panzi tetap tidak bisa menahannya Panzi memegang kepalanya, kepalanya terasa sakit dan seperti itu lah kepribadian Panzi kembali berganti. ia segera pergi meninggalkan Nana. sedangkan Nana ia hanya bisa terdiam tanpa ia sadari air mata menetes di wajahnya, sambil mengelap air matanya dalam hati ia bergumam "Aku tahu akhirnya akan seperti ini, apa yang harus aku tangiskan? seharusnya aku lebih tegar dan kuat lagi, aku tidak bisa terus seperti ini."
__ADS_1