
Ke Esoknya. Perlahan Nana membuka kedua matanya nalurinya berkata Apakah aku masih hidup? apakah bayiku baik-baik saja? dan kenapa rasanya seperti ada yang menggenggam tangan ku? Nana samar-samar melihat ke arah orang itu dan ternyata ia adalah Panzi. Nana mencoba menarik tangannya dari genggaman Panzi akan tetapi tak sengaja Nana malah membangunkan Panzi, Panzi terbangun
"Sudah bangun?." ucap Panzi, Nana segera menyahut
"Ak..aku ingin minum." Ucap Nana sambil menarik tangannya dari genggaman Panzi. Hendak Nana akan mengambil air minum dari meja Panzi segera menghentikan nya
"Jangan bergerak!" ucap Panzi, Nana sedikit terkejut dan terdiam ia pikir Panzi marah padanya jadi Nana tidak berani menatap Panzi, Panzi tersenyum sambil mengelus kepala Nana ia mengulurkan gelas yang berisi air dan memberikan nya pada Nana.
__ADS_1
Nana sedikit terkejut apakah ini masih Panzi yang dingin itu atau Panzi yang baik? tapi sudahlah. Hendak Nana meminum air Panzi memberitahukan kepada Nana untuk tetap diam di kasur sedangkan Panzi akan pergi dulu sebentar, Nana mengangguk mengiyakan. Tak lama Panzi pun kembali dengan membawakan Sup dan bubur, Panzi menghidangkan nya pada Nana. Panzi berniat menyuapi bubur untuk Nana, akan tetapi Nana segera menolak niat baik Panzi untuk menyuapinya Nana pikir sebaiknya ia memakan sendiri buburnya, Panzi menuruti keinginan Nana dan membiarkan Nana makan sendiri tanpa bantuan nya. Ketika bubur habis, Panzi meminta Nana agar segera meminum supnya, tak bisa menolak Nana hanya bisa menuruti apa kata Panzi.
Nana meminum supnya dan tak sengaja melukai bibir dan lidahnya Nana meringis kesakitan, Panzi segera merebut supnya dan meletakkan nya. Panzi segera meraih dagu Nana melihat area bibir dan lidah Nana yang melepuh Panzi segera bertanya "Sakitkah?" tanya Panzi, Nana segera mengangguk mengiyakan. Panzi segera menyahut
"Bibirmu melepuh sekarang, jika tidak di oleskan krim pelembab sakitnya akan berlangsung agak lama," keluh Panzi. Melihat sekarang Panzi begitu memperdulikan nya dan begitu dekat dengannya membuat Nana sedikit gugup Nana hanya bisa memalingkan pandangannya tidak berani menatap Panzi.
"Apa sudah merasa baikan?" tanya Panzi. Nana yang merasa canggung itu tidak berani menjawab ia hanya bisa mengangguk mengiyakan. Melihat respon dari Nana Panzi tersenyum Panzi meminta Nana untuk menunggu sebentar, tak lama Panzi kembali dengan membawakan sebuah obat Panzi meminta Nana untuk meminumnya agar kondisi tubuhnya pulih dan merasa lebih baikan, setelah itu suasana kembali canggung Panzi berusaha untuk mencair kan suasana
__ADS_1
"Kapalnya akan sampai sekitar 3 jam lagi," ucap Panzi. Lagi Nana hanya mengangguk mengiyakan Panzi kembali meneruskan
"Ya, masih sempat untuk menghabiskan cairan terakhir. Dan juga aku ingin memberitahu mu kalau dokter menyarankan setelah sampai kamu harus melakukan perawatan kembali, kejadian kemarin tidak boleh terulang lagi." ucap Panzi, Mendengar perkataan terakhir Panzi Nana merasa sangat bersalah Nana segera menyahut
"Maafkan aku, aku hampir saja mencelakai bayinya. Kamu benar aku memang bodoh dan ceroboh, karena keteledoran ku aku sudah sangat merepotkan mu." sahut Nana, Panzi tersenyum sambil mengelus rambut Nana ia **menyahut
"Merawat mu sudah menjadi tanggung jawab ku, kamu tidak perlu meminta maaf itu semua salahku yang tidak bisa menjagamu dengan baik. Sebelumnya maafkan aku dan kamu jangan meminta maaf lagi, Oke**?." jelas Panzi dengan lembut. Hendak Nana akan menyahut kembali Panzi segera menghentikannya dengan menempatkan jarinya pada bibir Nana meminta Nana sebaiknya untuk segera beristirahat, saat itu Nana segera berbaring kembali di kasurnya dan Panzi membantu menyelimuti Nana dan membenarkan rambut Nana yang terurai sambil berucap "Tidurlah." Nana terdiam tersipu perlakuan Panzi saat ini padanya begitu lembut membuat jantungnya berdegup kencang, rasa aman dan bahagia kembali di rasakan nya. Entah kenapa, akan tetapi Nana tahu saat ini Nana merasakan kehangatan dari Panzi mungkinkah Panzi yang baik sudah kembali?.
__ADS_1