
Setelah pertikaian itu Nana tidak melihat Panzi kembali, entah kemana Panzi pergi Nana sama sekali tidak mengetahui keberadaan nya. Nana tiba-tiba terpikirkan apakah Panzi pergi lebih dulu dari kapal pesiar meninggalkan nya? Tapi bagaimana mungkin itu terjadi, lalu kemana perginya Panzi? Seketika perhatian Nana teralihkan oleh dering telepon miliknya.
Ia melihat ternyata yang memanggilnya adalah ibunya, Nana segera mengangkat telpon dari ibunya saat itu ibunya bertanya apa kabar Nana belakangan ini? Nana segera menjawab kalau dia baik-baik saja. Ibunya bertanya lagi pada Nana menanyakan bagaimana Panzi terhadap Nana? Apa Panzi memperlakukan Nana dengan baik?, Nana segera menjawab Panzi sangat baik padanya bahkan sekarang Nana menceritakan bahwa ia sedang berlibur di kapal pesiar bersama Panzi. Mendengar perkataan Nana, ibunya tersenyum bahagia dan menjawab Syukurlah kalau Nana bahagia dengan kehidupan barunya.
__ADS_1
Nana tersenyum sebenarnya dalam hatinya tidak begitu amat bahagia, memiliki suami yang kadang baik dan kadang dingin membuatnya merasa tidak nyaman. Akan tetapi Nana mencoba untuk menerimanya bagaimanapun itu sudah menjadi takdirnya menikah dengan pria yang tidak di cintai nya dan sebaliknya Panzi yang tidak mencintai Nana, apalagi ada bayi dalam tubuh nya Nana hanya bisa menerima setiap cobaan yang di alaminya. Gumamnya, Nana terlamun sejenak ia kembali mendengarkan ibunya.
Kali ini ibunya bertanya kapan Nana pulang bersama Panzi ke rumah? Ibu dan ayahnya Nana menunggu kedatangan Nana dan Panzi ke rumah. Saat itu Nana sedikit terbeku, Nana gugup Nana bingung harus menjawab apa? sedangkan hubungan nya dengan Panzi saat ini tidak begitu baik bahkan saat ini Nana tidak tahu dimana keberadaan Panzi apakah dia masih marah?.
__ADS_1
Malam harinya. Saat ini hati Nana merasa tidak tenang ketika mengingat Panzi begitu banyak pemikiran aneh yang terlintas di pikiran nya, Saat ini Nana harus bisa mengendalikan emosi dan pikirannya Nana tidak bisa terus begini Nana harus tenang, mengingat bayi yang sedang di kandungnya, Nana tidak boleh terus berprasangka buruk pada Panzi bagaimanapun Panzi adalah ayah dari bayinya, semakin Nana banyak berprasangka pada Panzi itu dapat memperburuk kondisinya yang tengah hamil. Akhirnya Nana memutuskan untuk keluar menghirup udara segar lautan setidaknya itu dapat mengurangi beban pikiran Nana untuk saat ini.
Sedangkan Panzi melihat ke arah Nana dengan raut datar tak ada senyum yang terlintas di wajahnya sepertinya hanya ada rasa tidak suka di hatinya. Panzi dengan tegas bertanya "Kenapa tersenyum?." tanya Panzi, Nana segera mengalihkan pandangannya. Nana tertunduk terdiam ia bingung harus menjawab Panzi apa. Panzi kembali berucap "Jika tidak ada yang ingin di katakan menyingkirkan lah dari pandangan ku!" tegas Panzi. Saat itu Nana merasa di desak oleh Panzi Nana segera menyahut Panzi dengan ragu
__ADS_1
"Ak....aku hanya ingin mengatakan, ka..kalau kamu tak perlu khawatir tidur kali ini, malam ini aku tidur di lantai kamu di kasur." ucap Nana terlihat ekspresi dan gerakan tubuh yang gugup Panzi segera menyahut
"Tidak perlu, aku sudah memesan kamar lain untuk tidur malam ini. Dan juga dengarkan aku Nana, kamu tidak boleh bertindak teledor di sini, aku tidak ingin menanggung konsekuensi karena ke bodohan mu! apa kamu tidak berpikir dua kali sebelum memutuskan? jangan karena rasa iba mu yang tinggi kamu mencelakai dirimu sendiri! bagaimanapun kamu seorang wanita hamil mana bisa tidur di lantai, bagaimana kalau terjadi sesuatu yang tidak di inginkan?." tegas Panzi, Nana terdiam setiap ucapan yang di ucapkan Panzi sedikit menusuk hatinya akan tetapi kali ini perkataan Panzi ada benarnya. Nana hanya bisa terdiam dan tertunduk mengatakan kalimat "Maaf." Membuat Panzi merasa sedikit kesal dan pergi meninggalkan Nana yang tertunduk itu.
__ADS_1