
Mereka pun pergi ke sebuah taman, Nana dan pria itu duduk di kursi yang ada di sana. Mereka mulai mengobrol, pertama pria itu memberikan sebuah kartu nama padanya. Nana segera menerima kartu itu dan melihatnya, Nana membaca kartu nama itu disana tertulis nama pria itu adalah Jackson profesinya disana tertulis adalah seorang dokter ahli bedah, namun Nana sedikit heran kenapa dia bisa memahami soal kondisi kehamilan, pria itu menjawab Hanya mengerti sedikit, dokter Jackson pernah mempelajari soal gejala-gejala yang sering di alami wanita hamil, jadi dia sedikit mengerti kondisi-kondisi tertentu.
Nana akhirnya sedikit lega, rasa heran dan penasaran nya sekarang tidak mengganjalnya lagi, Nana merasa senang dan puas karena pria itu mau menjawab setiap pertanyaan Nana padahal mereka baru saling mengenal. Pria itu bisa di bilang mempunyai sifat *Family friendenly*(orang yang mudah akrab).
Di sisi lain tengah Panzi akan melakukan riset pasar di anak perusahaan nya yaitu di minimarket yang Nana datangi, kebetulan parkiran mobil bersebelahan dengan taman. Sebelum sampai ke minimarket mereka harus sedikit berjalan melewati taman dahulu. Ketika Panzi dan asistennya Reno berjalan ke arah minimarket, Reno melihat Nana yang tengah berbincang akrab dengan soarang pria. Reno segera memberi tahukan Panzi bilang kalau
__ADS_1
"Zi, bukanya itu istri Lo? Kenapa terlihat begitu akrab dengan pria lain? Apa Lo lagi di selingkuhi zi?" Goda Reno. Panzi menatap ke arah Nana dan pria asing itu Panzi berbicara dalam hatinya Siapa dia? Apa dia pacar Nana? Kenapa Nana terlihat begitu ceria dan akrab dengan pria itu di banding denganya?. Panzi terus menatap mereka entah kenapa Panzi merasa pemandangan yang sekarang di lihatnya begitu tidak enak, rasa cemburu sedikit menggebu di hatinya, harusnya Panzi lebih tenang mengetahui fakta kalau wanita itu memiliki pria yang di sukainya, yang terpenting itu bukan dirinya akan tetapi malah sebaliknya.
Melihat Panzi yang menatap kedua sejoli itu dengan tatapan tak suka dan kedua tangan yang mengepal, Reno sudah bisa menduga kalau Panzi cemburu melihat istrinya dengan pria lain, Reno menyenggol tubuh Panzi dengan pundaknya sambil berkata "Kalau cemburu bilang aja. Samperin kek, jangan di Pendem" goda Reno. Mendengar sindiran Reno Panzi segera menyangkalnya sambil memukul pundak Reno
"Apaan sih lu, siapa juga yang cemburu!" sahut Panzi
__ADS_1
"Lu diem gak? Kalo gak pergi sana jangan kerja sama gue lagi!" Ancam Panzi sambil menunjuk marah ke arah Reno
"Loh kok Lo malah marah sih? Lagian gua ngomong bener kok.." ketus Reno
Panzi yang sedang ilfil di tambah si Reno yang ngilfilin, Panzi makin ilfil, ia dengan ke ilfilan nya menatap judes Reno lalu meneruskan jalanya. Reno yang merasa di tinggalkan oleh panzi segera berlari menyusul Panzi. Sambil ngejar Panzi Reno yang usil itu berucap
__ADS_1
"Zi! Kita mau lewat di hadepan mereka Lo, Lo bener gak panas zi?" Goda Reno. Panzi tak menyahut Reno, Panzi tahu untuk sampai di minimarket Panzi harus melewati Nana dan pria itu, Panzi dengan gagah, berani dan pandangan lurus melewati mereka seolah Panzi tak mengenal salah satu dari mereka.
Disisi lain ketika Nana melihat Panzi Nana sedikit terkejut, Nana pikir Panzi akan menghampiri nya. Namun faktanya itu tak sesuai dengan pemikiran Nana, Panzi dengan pandangan lurus berjalan tak menoleh pada Nana sedikitpun. Panzi bersikap seolah tidak mengenalnya, hati Nana merasa sedikit sedih, Nana pikir Panzi akan menoleh padanya dan menyapa nya. Melihat semua itu ia mulai sadar kalau posisi Nana di hati Panzi hanya sebagai alat untuk melahirkan anaknya saja. Nana dengan sedih terus menatap punggung Panzi yang sedang berjalan itu.