
Malam harinya Panzi masuk ke kamarnya dengan membawakan segelas susu dan sebuah berkas di tangannya. Sambil menyimpan susu dan berkas ke atas meja Panzi berucap "Sudah selesai melamun nya?" Ketus Panzi suaranya sedikit mengagetkan Nana yang sedang melamun itu. Nana segera berbalik ke arah Panzi lagi Panzi kembali meneruskan "Susu panas dari nenek," ucap Panzi sambil menunjuk ke arah susu Panzi meneruskan "Sekarang kita bicarakan hal yang serius." ucap Panzi sambil memandang lekat Nana. Nana yang mendengar nya ia hanya bisa mengangguk mengiyakan. Lagi Panzi kembali menyahut menyuruh Nana untuk mengambil sebuah berkas yang ia letakkan di atas meja.
Nana segera menuruti apa kata Panzi Nana mencoba membuka isi berkas itu, ia melihat ternyata itu adalah sebuah surat perjanjian perceraian Nana sedikit terkejut mendapati itu ia mencoba memastikan dengan bertanya pada Panzi "Ini untuk ku?" Tanya Nana yang masih tak menyangka itu. Panzi segera menyahut Nana
__ADS_1
"Kau dan aku sudah tahu alasan dan tujuan kita menikah, di masa depan aku tidak ingin ada kau." Sahut Panzi dengan tegas. Panzi kembali melanjutkan "Meskipun itu tidak enak di dengar tapi itu harus kita jalani di masa depan" Panzi berdiri dari duduknya ia menghampiri Nana sambil mengatakan "Nana aku tahu kau adalah gadis yang baik, aku tidak ingin merugikan mu. Di atas kontrak semua sudah tertulis dengan jelas biaya rumah, tunjangan, pekerjaan, semua sudah ku atur dengan baik." Ucap Panzi ia meraih ballpoint yang ada di balik sakunya, Panzi meletakan ballpoint itu di atas meja memberi kode pada Nana untuk segera menandatangani surat cerai beserta kontrak itu.
Mendengar Panzi mengatakan hal itu Nana segera menolak tawaran Panzi, Panzi yang mendengar tolakan dari Nana itu ia segera memotong pembicaraan Nana menyahut kalau Sebelum Nana menolak orang lain, sebaiknya Nana pikirkan dengan baik. Nana Sekarang adalah ibu dari anaknya, Panzi bisa melindungi dan merawat Nana. Tapi itu tidak akan berlangsung selamanya, suatu saat jika tidak ada Panzi yang merawat Nana siapa lagi yang akan merawatnya?. Nana segera menghentikan perkataan Panzi Nana merasa perkataan Panzi barusan adalah sebuah sindiran baginya Nana bilang pada Panzi, mungkin Panzi pikir dengan semua tunjangan itu Panzi khawatir Nana kelak akan menjadikan bayinya sebagai alasan untuk mencari Panzi?. Mendengar perkataan Nana yang memang faktanya yang sekarang di pikiran Panzi, ia hanya bisa terdiam dan memalingkan wajahnya. Dari respon Panzi Nana sudah tahu tebakan nya memang benar. Nana kembali menyahut menegaskan
__ADS_1
"Mungkin iya, mungkin juga tidak. Tidak ada yang menjamin yang terjadi nanti, sebelum mempercayai orang lain kau harus melindungi diri dulu ini adalah prinsip ku saat ini. Jika aku jadi kau, aku tidak akan menjawab mu dengan begitu cepat tapi pikirkan dengan jelas apa yang bisa ku dapat dari pernikahan ini."
Mendengar semua itu Nana hanya bisa tertunduk terdiam memandangi surat cerai itu, sedangkan Panzi kembali meneruskan
__ADS_1
"Aku beri waktu 3 hari, pertimbangkan lah dengan baik. Sekarang waktu yang terbaik untuk membicarakan persyaratan dengan ku. Jika ada yang terlewat kan dalam materi aku bisa berikan." Tegas Panzi. Untuk sekarang Nana tidak bisa berkata apapun, hatinya masih tidak bisa merespon kejadian sekarang masih ada belenggu di hatinya. Apalagi Panzi begitu serius dan antusias membicarakan soal perceraian itu membuatnya tidak memiliki rasa keberanian. Perlahan Nana menutup berkas itu ia melirik ke arah Panzi dengan lekat, begitupun Panzi ikut memandang lekat Nana pandangan nya menunjukkan antara meyakinkan dan mendesak Nana saat ini.