
Nana pergi dari Apartemen nya tanpa sepengetahuan Panzi ataupun ibunya. Sepanjang jalan Nana terus berfikir akan Bayinya dan perkataan Pria itu. Setelah mendapat Respon dari Panzi, Nana merasa sangat sedih. Nana berfikir Panzi hanya ingin memanfaatkan Nana. Panzi menyuruh Nana untuk melahirkan anak itu, Akan tetapi Panzi tidak menginginkan Anaknya. Nana takut suatu hari Anak dari Nana tidak akan pernah mendapat kasih sayang dari Panzi, Nana Takut suatu hari jika anak itu lahir Anak itu hanya akan menjadi Anak yang malang. Nana tidak ingin semua itu terjadi. Jika saja Pria itu tidak tahu masalah kehamilan Nana, Mungkin Nana akan membesarkan anak itu sendirian tanpa seorang Ayah. Jadi Nana bisa hidup berdua bersama Anaknya. Nana tak perlu khawatir jika Anaknya bersamanya. Nana bisa menjamin kasih sayang dan kebahagiaan anaknya.
Lain dengan Pria itu, Pria itu tidak menjamin kasih sayang dan kebahagiaan Anak dari Nana, Nana takut anak itu tidak akan pernah mendapat kasih sayang dan kebahagiaan jika bersama Panzi. Yang Faktanya Pria itu tidak pernah menginginkan Anaknya, Pria itu hanya ingin memanfaatkan Anaknya saja. Fikir Nana fikiran Aneh terus terlintas di fikiran Nana Rasa khawatir terus mengganjal di hati Nana. Nana sangat sedih memikirkan semua itu. Dan akhirnya Nana hanya punya satu solusi sebelum hal yang di khawatirkan Nana itu terjadi. Kalaupun Nana tidak ingin melakukan nya, Nana tetap harus melakukan nya. Nana tahu itu adalah perbuatan yang keji, Tapi apa boleh buat? Untuk sekarang yang bisa d lakukan Nana hanyalah itu. Nana dengan sedih mengelus lembut perutnya Nana bergumam pada Bayinya**.
__ADS_1
"Maafkan ibu sayang..." **Ucap Nana ketika mengatakan itu hatinya tersayat. Sungguh sakit bagi seorang Nana terpaksa harus menggurkan Anaknya.
***
__ADS_1
Karna tak sabar menunggu kedatangan Nenek Panzi, Ibunya Nana menunggu kedatangan Neneknya Panzi di luar apartemen dengan rasa tak sabarnya itu. Sedangkan Ibunya Nana, meninggalkan Nana dan Panzi di dalam apartemen itu. Ibunya Nana tidak tahu apa yang sedang mereka Lakukan. Yang terpenting bagi ibunya Nana saat ini adalah Untuk Pria itu bertanggung jawab.
"Dimana Dia?" Tanya Ibunya Nana Rasa tak suka pada Panzi masih terlihat jelas di raut muka dan ucapan nya.
__ADS_1
Setelah mendapati pertanyaan dari Calon mertuanya itu, karna terus mengkhawatirkan akan Nenek nya, Panzi Tersadar kalau Nana sudah tidak ada bersamanya. Panzi merasa bingung kemana perginya Wanita itu? padahal tadi dia bersamanya. Panzi hanya terdiam tidak bisa menjawab, Lagi lagi rasa tidak suka pada Panzi semakin besar. Ibunya Nana berbicara Pada Neneknya Panzi dengan menyalahkan nya.
Anda sudah lihat kan Nyonya? Cucu anda sungguh keterlaluan! Saya tahu jelas karakter Putri saya. Sekali dia di gertak sedikit, Perasaan bersalah dan takut akan terus menghantui nya! Saya curiga kalau Cucu anda telah mengancam putri saya, Karna faktanya sekarang Putri saya sedang mengandung anaknya. Karna tidak ingin bertanggung jawab, Cucu anda jangan jangan mengancam putri saya!" Ucap ibunya Nana terus berfikiran Posesif akan Panzi.
__ADS_1