
Noah sedang berada di perusahannya sebentar untuk membereskan pekerjaannya. Sementara Edwin juga sama sibuk mempersiapkan dirinnya untuk di ambil potretnya setelah berhasil pengambilan sekitar 2 jam sesi pemotretan, sudah biasa untuk Edwin lantaran Edwin notabene nya adalah model.
"Bagaimana pemotretan tadi?" tanya Noah sambil melihat satu persatu gambar Edwin yang ada di laptopnya.
"Yah... seperti kakak lihat biasa aja!" jawab santai Edwin sambil menikmati minumannya.
"Saya lempar kamu dari lantai atas sini, berani-beraninnya membawa benda itu," menujuk botol wine yang di nikmati Edwin saat ini.
"Aisshh... kakak, pikiranku sedang kacau saat ini." Menenggak habis wine yang ia pegang.
"Mikirin apalagi, istri orang lagi?" sindir Noah dengan tajam. Edwin menganggukkan kepala.
Noah hanya geleng-geleng kepala melihat jawaban Edwin, padahal di dunia modeling banyak sekali wanita singel namun yang ia kejar selalu istri orang.
PPUKKK.
Pukulan gulungan kertas terjadi di kepala, Edwin mengusap nya.
"Sakit tau kak." Protesnya pada Noah.
"Taubat dong jangan istri orang juga di lahap," memukul dengan gulungan kertas.
"Biarin, lagian dia di sakiti suaminya terus menerus membuat aku yang awalnya tidak tega melihatnya kini malah tumbuh cinta. Pusing kepalaku," keluh Edwin sambil menatap luar balkon. "Kalau kakak sendiri bagaimana?"
"Ya seperti kamu lihat, saya berjuang demi mendapatkan cinta Naomi." Dengan pedenya Noah berkata.
__ADS_1
"Cih... tidak tau malu setelah menganggapnya cuma teman hangat ranjangnya, kini mulai jadi budak cinta," ucap Edwin meninggat perlakuan Noah pada Naomi dulu.
"Jangan di bahas lagi kenapa." Noah beranjak pergi dari ruangannya sebelum banyak celotehan Edwin yang membahas ini itu, apalagi nanti ujung-ujungnya Edwin mengaggumi Naomi lagi.
Noah berada di pusat perbelanjaan, ia membeli sesuatu untuk Naomi. Senyum menggembang saat melihat pakaian kesukaan Naomi yang berada di samping kemudinnya.
3 minggu kemudian.
Noah yang sudah rindu dengan Naomi kini berbunga-bunga berharap Naomi senang namun alangkah terkejutnya saat melihat sang pujaan sedang berbicara dengan orang lain di selingi tawa gembira.
"Siapa dia, kenapa dia bisa membuat Naomiku tertawa bahagia. Sementara aku selalu membuatnya sedih." Noah mengurungkan niatnya mengunjungi Naomi yang berada di perkebunan strawberry.
Tio yang melihat sang bos tidak bersemangat langsung menghampirinya.
"Mas Noah apa ada masalah." Tio menghantarkan teh hangat dan beberapa camilan.
"Pasti karena Naomi ya mas Noah." Tio berbicara seolah tau isi hati Noah saat ini.
"Jangan sok tau kamu Tio, bukan karena dia," elak Noah.
Naomi yang tadinya hendak mengambil barang untuk mengoleskan minyak pada lengannya yang terkena bulu ulat kini tidak jadi setelah mendengar ucapan Noah yang mengelak tentang perasaannya.
"Haduh Naomi apa yang kamu pikirkan, tuhkan memang mas Noah tidak mencintaimu dengan tulus dari dulu sampai sekarang, apa yang kamu harapkan, sadar Naomi kamu dan dia dari dunia yang berbeda mana bisa punya perasaan yang sama." Naomi menghela nafas berkali-kali untuk menetralkan perasaannya yang sakit.
Aldi yang melihat Naomi cepat kembali langsung menghampirinnya, "Naomi sudah kamu balut minyak belum lengan kamu ini?" menatap lengan Naomi yang masih bentol-bentol.
__ADS_1
"Belum, tidak jadi tiba-tiba lenganku tidak gatal atau sakit lagi," jawab Naomi segera pergi dari hadapan Aldi. "Yang sakit hatiku saja karena kepedean mencintai orang."
Aldi yang melihat Naomi bersedih membiarkannya mungkin saat ini ada sesuatu yang belum bisa Naomi ceritakan padanya.
Naomi berkerja dengan tidak semangat bahkan buah yang seharusnya panen hari ini salah petik bahkan banyak yang masih mentah masuk ke dalam keranjanya.
"Naomi apa ini." Bentak Tio yang menyadarkan Naomi banyak yang salah memanen buah.
"Maaf pak Tio," Naomi langsung mengulang mengambil yang sudah matang.
Tio hanya menghela nafas panjang dengan tingkah Naomi yang ada-ada saja. Tio langsung melihat ke arah Noah yang sedari tadi diam dan mengamati cara kerja Naomi.
"Haduh... memang dua orang ini ada perasaan satu sama lain, tapi gengsinya gede amat." Tio langsung melajutkan pekerjaannya lagi.
Hari semakin sore, Naomu segera bekemas dan membersihkan diri untuk kembali ke rumah saat ini. Pikirannya kacau, bahkan beberapa pakaian sudah masuk ke dalm tas. Tanpa pikir panjang Naomi mengemas semua barang-barang pentingnya saja.
Noah yang baru datang langsung menghentikan Naomi, "mau kemana, kenapa mengemas barang-barangmu?" mengambil tas jinjing Naomi.
"Pergi!"
"Tidak, kamu tidak boleh pergi kecuali denganku." Memeluk erat tubuh Naomi.
Naomi pasrah dengan apa yang di lakukan Noah, biarkan waktu berhenti sejenak untuk melepas rasa rindu.
***
__ADS_1
Slow update