Poisoned Love, NOAH

Poisoned Love, NOAH
17. Kehidupan baru


__ADS_3

Noah sangat frustasi karena tidak menemukan keberadaan Naomi saat ini bahkan body guard suruhannya juga belum menemukan Naomi dimana ia berada.


"Kamu kemana sayang, maaf kan saya. Kali ini saya memang pantas mendapat hukuman yang lebih besar lagi karena perbuatan bodo* saya," menjambak rambutnya sendiri.


Di tempat lain.


Lebih tepatnya di pulau yang lebih besar dari tempat tinggal nya dulu. Naomi hanya menghela nafas panjang ketika sampai di tempat baru dan asing baginya, mulai saat ini dan seterus nya tempat ini adalah saksi perjuangan hidup yang baru ia mulai lagi. Tak terasa hari semakin gelap dan tempat ini jarang ada penerangan lampu.


"Kenapa aku merasa tempat ini belum tersentuh infrastruktur dari pemerintah setempat, apa pihak desa sini tidak pernah mengajukan bantuan demi kesejahteraan masyarakat nya," Naomi berjalan agak jauh untuk mencari tempat singgah sementara untuk malam ini.


"Semoga tidak ada orang jahat di desa terpencil ini." Sambil menatap kesana kemari Naomi mencari tempat ibadah di desa kecil ini.


Sekitar 200 meter Naomi baru menemukan tempat beribadah orang muslim dan dengan ragu-ragu Naomi masuk takutnya nanti di tuduh mau mencuri seperti berita yang marak beberapa bulan lalu.


"Neng sedang cari siapa, jika mau beribadah masuk saja neng tempat ini terbuka lebar untuk siapa pun neng." Ucap bapak-bapak paruh baya dan istrinya yang ada di samping nya sambil membawa mukena.

__ADS_1


"Maaf pak bu, sebenarnya saya orang merantau di pulau ini dan kebetulan saya baru datang dan tidak memiliki tempat tinggal, saya sedang membutuhkan tempat tinggal untuk malam ini pak bu, maaf pak bu kalau saya boleh tau siapa nama bapak dan ibu biar saya tidak binggung." Tanya Naomi tertunduk takut.


"Saya Alim dan ini istri saya Dea. Neng baru sampai pulau ini ya, ya sudah neng istirahat dulu di sini setelah Sholat nanti baru saya dan istri saya carikan tempat tinggal karena di tempat ini tidak ada tempat untuk marbot Masjid, oh ya neng ini namanya siapa," ucap pak Alim seraya tersenyum.


"Baik pak bu terimakasih banyak, nama saya Naomi," sambil menunggu di teras masjid.


Setelah pasangan suami istri selesai melaksanakan Sholat berjamaah langsung menghampiri Naomi.


"Neng Naomi belum Sholat?" tanya istri pak Alim bernama Dea.


"Baiklah gunakan ini ya Naomi." Memberikan peralatan Sholat kepada Naomi. Dengan senang hati Naomi menerimanya.


Rumah sederhana pak Alim dan bu Dea.


Setelah mengelilingi sekitar kampung ini dengan menggunakan lentera, tidak menemukan hasil semua tempat sudah ada penghuninya bahkan penginapan di area ini juga penuh. Jadi tempat yang terakhir adalah kediaman ini.

__ADS_1


"Neng Naomi rumah nya seperti ini apa tidak apa-apa neng?" tanya pak Alim sambil menatap pakaian yang di kenakan Naomi.


"Tidak apa-apa pak bu, di kursi itu juga tidak apa-apa asalkan saya ada tempat berteduh malam ini!" Naomi masih berdiri tidak berani duduk jika tidak disuruh.


"Duduklah dulu neng Naomi saya akan menyiapkan kamar untuk neng Naomi," ucap Dea seraya menujuk tempat duduk.


"Baiklah bu," dengan malu-malu Naomi duduk. Naomi menatap sekeliling rumah sederhana ini, terasa nyaman dan aman.


Alim yang sedang membantu istri nya ada rasa was-was dengan Naomi.


"Pak apa tidak apa-apa neng Naomi disini, ibu sebenarnya takut menerima tamu luar apalagi orang merantau," ucap Dea seraya waspada.


"Tidak apa-apa bu, percaya sama bapak." Alim menenangkan sang istri yang di selimuti rasa hawatir yang berlebihan saat ini.


Setelah selesai membersih kan kamar untuk Naomi, pak Alim dan bu Dea langsung menyuruh Naomi untuk beristirahat di dalam kamar. Naomi berjalan menuju kamar yang di tujuk kan oleh bu Dea, banyak ucapan terimakasih yang Naomi lontar kan. Dea tersenyum sambil menyuruh Naomi untuk segera mengistirahat kan badannya malam ini.

__ADS_1


__ADS_2