
Noah yang sedang menikmati acara siaran televisi kini tersenyum bahagia, meski Naomi tidak menemani nya menonton setidaknya ada Naomi disini. Naomi yang membawa nampan berisi makanan ringan langsung meletakkannya di depan Noah.
"Tambah cantik," tersenyum menggoda.
Naomi hanya menatap sekilas tanpa berucap apa pun.
DDRREETT... DDRREETT...
Noah segera melihat siapa yang menelponnya tidak ada nama di ponselnya, karena merasa tidak mengenalnya Noah membiarkan panggilan tersebut setelah menolak nya tadi. Naomi yang penasaran siapa yang menelpon ia angkat.
"Hallo siapa ya," tanya Naomi lembut.
"Mana Noah saya papanya, berikan ponsel nya pada Noah dasar anak tidak tau diri mentang-mentang bisa menjalankan perusahaan sendiri."
Naomi memberikan ponsel tersebut, untungnya volume tinggi jadi Noah langsung mendengar nya. Noah yang mendengar celoteh papanya hanya menganggap angin lewat seperti biasa nya.
"Kenapa sih pah, berisik." Noah acuh tak acuh dengan telepon Adam Derryl papanya.
"Pulang dan satu minggu lagi menikah dengan calon pilihan papa," ucap tegas Adam Derryl sang papa.
"Noah tidak mau, lagian Noah sudah punya pilihan sendiri jika tidak ada yang dibicarakan saya tutup dulu telponnya." Ucap dingin Noah yang mematikan telpon sepihak.
Kediaman Adam Derryl.
Papanya yang ada di rumah marah-marah mendengar ucapan Noah yang menolaknya mentah-mentah.
"Dasar anak kurang ajar, apa menunggu papa nya serangan jantung dulu baru mau menuruti ke inginan papanya, awas saja jika tidak pulang." Adam marah-marah.
__ADS_1
"Kenapa kamu marah-marah Adam ada apa?" tanya sang ibu dengan hati-hati.
"Lihat cucumu bu, dia menolak di jodohkan lagi. Pusing saya bu menghadapi dia." Adam mengeluh pada sang ibu.
Shandra tertawa melihat sang anak tengah kesal, sudah biasa ia mendengar perdebatan anak dan bapak semenjak Noah lulus S2 dulu jadi hal semacam ini tidak membuatnya terkejut.
Sore hari.
Noah tengah mengajak Naomi berkunjung ke kediaman papa dan grandmanya. Para pelayan menyambut dengan baik kedatangan Noah dengan teman wanita nya.
Adam yang sedang marah-marah sambil menujuk tukang kebun untuk memindahkan ini itu sambil meletakkan kedua tangannya di pinggang kanan kiri.
"Assalamualaikum Grandma," menyalami Shandra begitu juga dengan Naomi.
"Cantik sekali, ini cucu menantu Grandma." Langsung menarik pergelangan tangan Naomi. Naomi yang di perlakukan seperti ini binggung sambil menatap dan memelas pada Noah.
"Ohhh... malang nya nasibku, apa benar aku akan disiksa seperti cerita dongeng yang di siksa ibu tirinnya." Naomi membayang kan yang tidak-tidak.
"Aduh cantik nya cucu menatu grandma, rasa nya tidak sabar jika kamu dan Noah memerikan cucu buyut untuk grandma." Menyentuh pipi Naomi.
"Eee... hee... hee..., bisa aja grandma," terpaksa tersenyum.
"Apa cucu nakalku sudah melamarmu." Shandra sangat antusias menanti jawaban Naomi.
"Sudah grandma," ucap Noah tiba-tiba.
Adam yang baru saja duduk setelah di temui Noah menyilangkan tangannya di dada. Banyak pertanyaan yang menghantui pikiran Adam.
__ADS_1
"Coba kamu jelaskan sejelas-jelas nya anak nakal?" menatap tajam Noah yang duduk tidak jauh dari Adam.
"Yang seperti papa dengar tadi, saya akan menikah dengan Naomi saja. Saya tidak mau wanita lain selain dia," sambil tersenyum ke arah Naomi.
"Coba ibu tanya pada cucumu yang nakal ini, apa yang telah di perbuat pada cucu menantumu ini satu bulanan yang lalu." Adam menatap tajam Noah.
"Apa yang kamu perbuat pada Naomi ha," Shandra sedikit meninggikan ucapannya.
"Saya... saya...," Noah binggung harus menjawab apa.
"Haduh... tuhkan aku di jemur dirumah," dalam hati Noah pasrah sudah.
"Tidak usah saya saya, berbelit-belit. Dia nih... anak nakal ini telah membuat cucu menantumu keguguran," sambil menujuk-nujuk Noah.
"APA......, dasar bocah nakal." Menjewer telinga Noah sampai merah.
"Ampun grandma, Noah janji tidak akan mengulangi lagi grandma," dengan memelas.
"Seharusnya kamu dapat karma Noah, seenak nya sendiri berbuat." Shandra mengeluarkan sesuatu dari laci.
Noah yang melihat kertas yang di bawa oleh grandma menelan salivanya. Noah sudah yakin jika itu kertas perjanjian atau sejenis nya.
"Tanda tangan disini dan sebagai hukuman kamu tidak boleh bertemu Naomi selama satu bulan penuh." Shandra menyodorkan kertas tersebut.
"Tidak grandma Noah tidak sanggup jika satu bulan lamanya, satu hari saja Noah tidak sanggup," Noah mengeluh.
"Baiklah grandma tambah jadi dua bulan, tidak dapat di ganggu gugat." Ucap dingin Shandra. Noah mau tidak mau menanda tangani nya.
__ADS_1