
Rumah Sakit Umum.
Naomi menatap ruang rawat milik Noah, setelah masuk ke dalam ruang rawat yang sudah di izin kan masuk oleh Adam dan Shandra. Naomi menyentuh selang infus dan alat bantu pernafasan. Kemudian perban di kepala dan yang terakhir lengan yang di gips.
"Cepat sembuh, apa kamu tidak ingin bangun mas." Menatap sendu wajah Noah.
Walaupun wajah Noah nampak pucat tetapi ia tetap tampan dan mempesona. Naomi masih sama seperti dulu selalu mengaggumi sosok Noah, mungkin karena Noah cinta pertamanya yang membuat Naomi buta dan tetap memaaf kan meski ia sering terluka karena cinta.
Setelah mengunjungi Noah kini Naomi kembali ke rumah milik keluarga Permadani. Sebenar nya sangat sungkan sekali ia seperti ini, rasa bersalah menyelimuti hati dan pikiran Naomi saat bertemu dengan kedua orang tua Maxim.
"Kenapa kamu gelisah Naomi, ada apa? seorang ibu hamil tidak boleh banyak pikiran kasihan bayi yang ada di dalam perut kamu." Zaza tersenyum lebar ke Naomi.
Naomi sangat terharu dengan sikap kedua orang tua Maxim yang begitu baik dan berlapang dada meski ia di bohongi beberapa waktu ini.
"Tidak apa-apa tante,"
__ADS_1
"Eh... kenapa panggilnya tante. Mama sayang seperti Maxim manggil mama." Mengajak Naomi untuk duduk di dekatnya.
Naomi malu-malu duduk di dekat Zaza ibunda Maxim. Maxim yang melihat sang mama begitu menyukai Naomi membuat Maxim tertegun sesaat namun kemudian ia hilangkan kekaguman tersebut. Ia ingat betul jika Noah adalah belahan jiwa Naomi dan hanya dia yang berhak atas hatinya.
Semenjak saat itu Naomi sering mengunjugi Noah setiap hari Naomi menyempat kan diri untuk menjenguk entah itu pagi siang atau malam setiap harinya tak terasa sudah 3 bulan lebih Noah terbaring lemah di rumah sakit. Naomi masih berharap Noah bangun dari tidur panjangnya.
Maxim yang senantiasa menemani Naomi begitu iri dengan Noah, wanita sebaik Naomi tidak bisa bahagia. Maxim menatap nanar wajah Naomi yang sembab sepertinya ia menangis lagi seperti kemarin-kemarin.
"Kamu jangan menangis, sudah lebih dari 30 sapu tangan basah oleh air mata dan ingusmu." Diselingi tawa.
Memukul pelan lengan Maxim, "gak lucu bercandanya garing banget." Duduk di kursi luar ruangan Noah berbaring koma.
"Naomi pulanglah dulu nak, kasihan bayi yang ada di kandungan kamu. Besok kesini lagi ya," Shandra tersenyum sambil mengusap surai rambut Naomi.
"Tapi grandma, Naomi masih ingin menemani mas Noah. Naomi yakin ia akan bangun malam ini." Sambil memohon.
__ADS_1
Shandra menatap Adam dan Maxim bergantian, helaan nafas terdengar mungkin sang bayi ingin dekat dengan papa nya malam ini. Ya Shandra dan Adam sudah mengetahui hal ini dari mulut Maxim setelah kecelakaan Noah waktu itu, bahagia dan sedih menjadi satu.
Naomi yang mendapat anggukan dari Shandra langsung memeluk tubuh Shandra kemudian ia berdiri menatap Adam dan Maxim bergantian.
"Semangat Naomi, saya akan di sini mendukung kamu." Maxim melepas ke pergian Naomi.
Bayi yang ada di dalam perut Naomi sudah mulai bergerak karena usia kandungan Naomi sudah 5 bulan lebih, jadi bayinya mulai aktif. Naomi meletak kan tangan Noah yang sudah sebuh dari patah tulang ringan waktu itu.
"Mas lihat bayi kita dia bergerak aktiv apa kamu tidak merasakannya mas." Memindahkan di perut kanan kiri mengikuti pergerakan bayinya.
Tiba-tiba Naomi merasakan pergerakan tangan Noah dan pelan-pelan Noah membuka matanya, ia bahagia orang pertama yang ia lihat sang pujaan hati. Meski ia tau sang pujaan hati terluka oleh perbuatannya.
"Mas kamu bangun, aku panggil kan Dokter ya." Naomi bergegas pergi namun oleh Noah di cegah.
"Jangan panggil Dokter dulu Naomi, temani saya sebentar ya," berucap dengan lirih.
__ADS_1
"Iya, aku temani kamu mas." Tersenyum manis.
Noah menetes kan air matanya, wanita ini yang membuat hatinya hangat dan berbunga kembali meski pun ia harus menelan pil pahit, dalam hati Noah hanya berdoa semoga Naomi selalu bahagia meskipun bukan dengan dirinya. Setidaknya ia tidak melukai hati Naomi.