Poisoned Love, NOAH

Poisoned Love, NOAH
35. Noah kecelakaan


__ADS_3

Noah yang baru selesai menjalani operasi kini di pindahkan ke ruang rawat meski banyak alat yang menancap karena memang Noah belum sadar sampai sekarang dan di tambah lagi dengan lengannya yang di gips. Shandra yang melihat sang cucu semenderita ini ketakutan akan kehilangan seseorang menghampirinya setelah suami dan menatunya tiada kini ia di buat takut dengan cucunya yang terbaring lemah di ruang perawatan.


"Bu... sabar kita berdoa saja yang terbaik untuk Noah bu." Adam menenagkan sang ibu.


Agam sang adik dari Adam beserta istrinya juga datang begitu juga dengan Edwin. Mereka bertiga sangat hawatir dengan keadaan Noah saat ini apalagi kecelakaan ini sangat parah untuk Noah sendiri.


"Mas bagaimana keadaan Noah, apa dia baik-baik saja mas. Noah tidak apa-apa kan mas dia selamat kan," Agam langsung menatap ruangan Noah dari cendela.


"Seperti yang kamu lihat Agam, dia... dia... berbaring dan belum sadar selepas operasi." Adam mengusap air matanya yang hampir lolos.


"Sabar mas," Agam memeluk erat tubuh sang kakak, ia juga menangis teringat kakak ipar nya yang meninggal seusai melahir kan Noah kecil.


Adam yang tidak pernah menangis semenjak kepergian sang istri 26 tahun yang lalu kini menangis lagi di hadapan sang adik, Agam menglus punggung sang kakak. Fera juga ikut bersedih dan menenag kan sang mertua yang duduk sambil menutup mulutnya dengan syal yang ada di lehernya.

__ADS_1


Edwin menatap dari luar jendela sambil mengumpat habis-habisan Noah. "Makanya jadi orang jangan selalu menyakiti wanita, apalagi ia mengandung anakmu, dasar bodoh. Cepat bangun kalau enggak Naomi benar-benar jadi milik Maxim seutuhnya."


Setelah menjenguk Noah, Edwin pulang lebih dulu dengan sang mama sementara Agam gantian berjaga malam ini dengan Adam sang kakak yang saat ini mengantar ibundanya kembali ke rumah untuk beristirahat.


Ruang rawat Naomi.


Naomi yang menatap Maxim gelisah langsung bertanya.


"Maxim ada apa?" tanya Naomi sambil memainkan ponsel baru yang di belikan Maxim 1 minggu yang lalu.


Naomi yang melihat ekspresi Maxim aneh dan menyembunyi kan sesuatu segera menepisnya, mungkin ada masalah dengan bisnisnya yang ada di sini.


"Saya mau ke kamar mandi dulu," pamitnya pada Maxim. Dengan sigap Maxim membantu Naomi sampai kamar mandi.

__ADS_1


1 minggu kemudian.


Naomi yang sudah pulang 3 hari yang lalu kini menjalan kan aktivitasnya seperti biasa sebelum ia terkena tusukan di pasar malam itu. Sebenar nya jika mengingat kejadian itu ada rasa trauma mendalam ke tempat itu, tempat favoritnya kini menjadi tempat menakutkan untuk kehidupannya.


"Naomi, sebenarnya sewaktu kamu kecelakaan itu saya ingin memberi tau jika Noah juga kecelakaan malam itu dan sampai detik ini Noah terbaring koma di rumah sakit," Maxim memberi tau Naomi dengan sedikit ragu-ragu.


Naomi yang mendengar ucapan Maxim yang tiba-tiba seperti itu langsung membulat kan matanya.


"Tolong hantar saya kesana Maxim, saya mohon," menatap Maxim penuh dengan permohonan.


"Saya akan hantar Naomi, dan satu lagi mengenai surat perjanjian itu saya sudah batal kan dan mama papa juga sudah saya beritau sebenarnya, dan tetap menganggap kamu seperti putrinya sendiri saat ini. Jadi kamu jangan hawatir jika mereka marah itu tidak akan terjadi." Mengacak-acak rambut Naomi.


Naomi yang mendengar berita mengejut kan saat ini hanya terharu. Hatinya serasa sangat lega tanpa beban sedikit pun. Maxim yang melihat Naomi sebahagia itu ia turut bahagia.

__ADS_1


"Andai aku mengenalmu lebih dulu pasti aku akan menjadi laki-laki yang paling bahagia di dunia ini, sayangnya si bodo* Noah yang menemukan mu dulu." Maxim menggerutu sambil menatap wajahnya di spion.


__ADS_2