Poisoned Love, NOAH

Poisoned Love, NOAH
53. Cairnya bunga salju


__ADS_3

Naomi sedang bersenda gurau dengan sang putra yang sudah semakin aktif saja, sang putra berusaha tengkurap karena usianya sudah masuk 4 bulan.


Namun beberapa kali mencoba Aydin belum bisa mengakibatkan badannya yang setengah tengkurap berkali-kali di coba kemudian Aydin tetap berusaha.


Aydin anak yang pintar ia tidak menangis dan tidak menyerah ia terus berusaha untuk tengkurap dan pada akhirnya ia berhasil, ada senyum yang mengembang di wajah Aydin kecil.


"Kamu sungguh menggemaskan sayang." Mencium pipi Aydin dengan gemasnya.


Sambil memasukkan tangannya ke dalam mulut, Aydin sangat mengemaskan. Setelah berhasil tengkurap Aydin menggerakkan tangan dan kakinya bersama-sama, begitu sangat bahagia ia berhasil.


Naomi segera mengambil ponsel nya dan mengabadikan lewat potret dan vidio, jika sang putra berkembang sangat baik sesuai dengan usianya.


Noah yang baru saja mendapat vidio dan potret sang putra sangat terharu, beberapa kali Noah mengusap air mata di ujung matanya.


"Kamu tambah besar nak. Papa bangga semoga kelak jika kamu dewasa tidak seperti papamu ini ya nak, kasihan mama jika kamu seperti papa." Noah mencium potret sang putra dengan haru.


Adam yang baru saja masuk terkejut melihat sang putra seperti habis menangis, apa benar ini putranya yang dingin dan super cuek bisa menangis.

__ADS_1


"Kamu benar-benar berubah menjadi orang yang lebih baik ternyata, terimakasih Naomi yang sudah hadir untuk menerangi kehidupan Noah yang dingin seperti bunga di salju."


"Eehemm." Suara deheman Adam membuyarkan Noah yang sedang menghayati potret sang putra di ponselnya.


"Papa, kenapa main nerobos ruangan aku sih pa?" Noah sebal dengan kedatangan sang papa yang sangat mendadak ini.


"Kenapa, apa aku tidak boleh masuk kantor papa sendiri. Jika papa tidak menerobos masuk mungkin papa tidak bisa melihat momen dimana seorang Noah yang tahan banting dan dingin ternyata mellow di dalam." Ledek Adam tertawa.


Noah hanya menatap dingin sang papa yang masih menertawakan dirinya.


"Lucu ya pa, ya sudah aku berhenti saja berkerja jika masih jadi bahan tertawaan papa." Noah mengemasi barang-barangnya.


"Tuhh... sudah jamnya pulang, aku rindu Naomi dan jagoan kecilku, dadah Papa!" sambil melambaikan tangannya.


Adam yang mendapati tingkah konyol Noah hanya tertawa renyah, anaknya ini semakin ceria dan tidak waras rupanya. Ternyata cinta mengubah gaya hidupnya yang monoton itu.


"Syukurlah dengan kamu sekarang, papa berharap kamu bisa konsisten dengan dirimu yang sekarang, biar tidak kamu sesali nantinya." Adam tetap mendoakan yang terbaik untuk putranya.

__ADS_1


Noah yang berada di dalam mobil sangat bahagia, sebelum pulang ia membeli sesuatu untuk sang istri yaitu roti bakar rasa coklat keju kesukaannya.


Setelah menunggu antrian panjang, akhirnya pesannya jadi. Dengan hati gembira Noah segera mengemudikan mobilnya sambil bernyanyi gembira.


Kediaman Adam Derryl.


Noah masuk ke kediaman Adam Derryl dan langsung memarkirkan mobil di garasi kediaman ini. Sambil membawa buah tangan di tangan kanannya.


Naomi yang sudah hafal jam pulang kerja Noah setia menunggu meski hari ini pulang agak telat.


"Mas tumben baru pulang jam segini?" sambil mencium punggung tangan Noah.


"Iya, ini aku belikan roti bakar kesukaan kamu, masih ingat dan ingin memakannya seperti dulu." Menujukkan kantong kresek transparan yang berisikan satu bungkus roti bakar.


"Iya," Naomi langsung menerima bungkusan kantong kresek tersebut dan membawanya masuk ke dalam rumah sambil mendorong kereta bayi.


"Sayang ketaman samping ya, aku ingin kesana dengan putra kita juga." Langsung mengambil alih kereta dorong Aydin dari tangan Naomi.

__ADS_1


Naomi semakin bangga dengan Noah suaminya ini, ia masih tidak menyangka sang suami benar-benar berubah dari sosok yang dingin seperti bunga di salju kini sudah cair bahkan berubah jadi bunga musim semi.


Naomi mengikuti langkah sang suami menuju taman samping rumah ini dengan bahagia, keluarga kecil yang ia impikan terwujud sekarang, setidaknya sang putra Aydin tidak pernah mersakan apa yang ia rasakan dulu. Cukup dirinya saja yang terluka dan tidak di inginkan jangan putranya.


__ADS_2