
Naomi segera membuka pintu rumahnya betapa terkejut saat pintu tersebut sudah tidak di kunci lagi, siapa yang masuk ke dalam rumah pikirnya. DDEEGGHH.... Naomi mematung seketika saat melihat orang yang tengah tersenyum sambil melambaikan tangannya.
"Mas, kenapa mas bisa ada di sini?" Naomi begitu was-was dengan senyum yang terukir di bibir Noah.
Naomi tau senyum itu dalam artian apa, pasti Noah sedang mengiginkan dirinya. Naomi segera pergi dari hadapan Noah dan menuju dapur sederhanannya. Noah tidak tinggal diam ia mengikuti Naomi berjalan.
"Jangan menghindari saya lagi Naomi," mencegah Naomi saat Naomi hendak mengambil air dalam wadah untuk mencuci bekas wadah yang tadi ia gunakan makan siang tadi.
"Kenapa sih mas kamu?" melepas cengkraman tangan Noah, "mas lepasin, kamu menyakiti saya mas," keluhnya pada Noah dan membuat Noah seketika melepas gengaman tangan.
"Maaf Naomi," Noah kembali duduk sambil menunggu Naomi selesai dengan kegiatannya.
Naomi yang sedang sibuk dengan pekerjaan rumah sengaja melakukannya berlama-lama agar Noah tidak betah dan pergi dari rumahnya.
"Kenapa sih mas terus di situ, bikin orang eneg aja." Gerutu Naomi saat sedang menyapu.
"Sini saya bantu, biar cepat selesai Naomi." Meraih sapu yang di gunakan Naomi.
Naomi membiarkan Noah membantu hitung-hitung meringankan beban pekerjaanya sore ini. Tapi meski pun Noah membantu itu semua tidak bisa membuat Naomi dengan mudah memaafkan Noah, apalagi semenjak bayi yang ia kandung tiada membuat Naomi enggan melihat sosok Noah yang sangat ia cintai, saat ini Naomi sekuat tenaga mengikis habis rasa cintanya untuk Noah.
Naomi yang baru saja menyelesaikan masakannya kini mengistirahatan tubuh sambil menatap televisi. Acara hiburan sehabis berkerja hanya ini saja karena ponsel di daerah ini sulit signal, bahkan televisi saja hanya beberapa channel yang ada.
"Naomi, apa kamu marah denganku?" duduk di samping Naomi menonton televisi.
Naomi menatap sekilas, "untuk apa bertanya jika sudah tau jawabannya," Naomi beranjak pergi namun belum sempat pergi pergelangan tangan Naomi di cekal Noah dan membuat Naomi jatuh di pangkuannya. Naomi memberontak.
"Jangan bergerak lagi Naomi, sekuat tenaga saya, menahannya." Ucap Noah yang sedikit mendesah.
Naomi langsung diam tanpa bergerak sedikit pun, dari pada di terkam Noah saat ini juga. Meski bukan yang pertama kali Naomi duduk di pangkuannya namun rasa gerogi tetap ada.
"Kamu gerogi Naomi." Bisiknya tepat di telinga Naomi.
"Diam, aku mau pergi." Naomi beranjak dari pangkuan Noah.
__ADS_1
"Dasar sudah tau masih saja bertannya, apa dia tidak tau jantungku mau lepas." Gerutu Naomi segera menyiapkan makan malam.
Makan malam.
Naomi memasukkan makannya satu persatu ke dalam mulut sambil sesekali mencuri pandang ke wajah Noah yang seperti candu untuknya.
"Jangan terus menatapku, nanti aku kepedean di tatap terus oleh kecantikanmu." Gombalan Noah.
JJLLEEBBB....
"Narsis banget," Naomi melajutkan makannya.
Setelah selesai makan malam Noah seperti biasa memberikan banyak uang untuk Naomi gunakan.
"Saya tidak perlu uang kamu dan cepatlah pergi dari rumah ini. Saya tidak mau terjadi fitnah." Ucap dingin Naomi.
Noah berjalan mendekat, "ccuupp...," mencium singkat bibir Naomi. "Terimakasih saya kembali dulu," tetap meninggalkan uang di atas meja makan.
Noah yang sudah kembali ke tempat penginapan di daerah ini tersenyum, tidak pernah menyangka jika dirinya telah jatuh cinta dengan sosok Naomi wanita yang menemaninnya 5 tahun terakhir ini. Bahkan ia rela mengejar sang pujaan hati dengan berbagai cara, misalnya seperti ini. Noah rela datang ke tempat seperti ini meninggalkan kemewahan di kota untuk sementara waktu.
Pagi hari.
Suara kicauan burung saling bersahutan bahkan suara hewan lain juga. Noah segera merenggangkan otot-otot tubuhnya yang kaku. Kemudian ia membersihkan diri dan bersiap untuk menemui sang pujaan hati yang pastinya sudah berada di perkebunan pagi ini.
"Permisi mas Noah, saya menghantar makanan." Ucap pelayan di area penginapan ini.
"Iya sebentar," Noah membuka pintu dan menyuruh pelayan tersebut untuk meletakkannya di meja dekat kursi santai tersebut.
Perkebunan strawberry.
Noah mencari sosok Naomi namun tidak menemukan batang hidung Naomi pagi ini. Tio yang baru saja mengecek orang perkebunan langsung di panggil oleh Noah.
"Ada apa mas Noah."
__ADS_1
"Naomi tidak masuk hari ini?" pertanyaan Noah membuat Tio bertanya-tanya mengapa Noah menayai tentang Naomi.
"Tidak mas, dia izin katannya tidak enak badan pagi ini!" jawab Tio dengan sopan.
"Ya sudah, kembalilah berkerja." Noah segera menuju tempat ia memarkirkan sepeda motornya yang berada di area parkir perkebunan.
Sepeninggalan Noah dari perkebunan, "ada hubungan apa mas Noah dengan Naomi, sepertinya ada sesuatu." Tio segera melajutkan pekerjaannya.
Rumah sewa Naomi.
Naomi sedang membuat teh hangat untuk menghangatkan dirinya, rasanya dingin sekali cuaca saat ini, bahkan baju tebal melekat di tubuh Naomi.
"Naomi," memeluk erat tubuh Naomi bahkan hembusan nafas Noah terasa di leher Naomi.
"Mas lepaskan." Ucap lemah Naomi.
"Biar saya lanjutkan kamu duduklah dulu," Noah menarik tubuh Naomi dan menyuruhnya duduk di kursi meja makan.
Naomi yang melihat Noah yang semakin hari bertambah perhatian dan romantis, binggung harus berbuat apa untuk Noah.
"Kenapa apa ada yang aneh?" meletakkan segelas teh hangat di depan Naomi. Naomi menggelengkan kepalannya. "Minumlah biar hangat tubuh kamu," mengusap surai rambut Naomi.
"Iya," Naomi menikmati teh seduhan buatan Noah, rasanya sangat nikmat.
"Bagaimana rasannya apakah enak?" tanya Noah berbinar-binar.
"Iya, terimakasih tehnya." Naomi dengan malu-malu mengucapkan terimakasihnya pada Noah.
"Lucu sekali wajahnya yang malu-malu jadi teringat waktu aku pertama kali menyentuhnya sewaktu liburan di villa dulu." Dalam hati Noah sangat berbunga-bunga.
***
Slow update
__ADS_1