
Naomi yang masih berada di pelukan Noah kini mulai lelah.
"Bisa tidak lepaskan dulu, capek ini badan." Mencubit pinggang Noah. Noah segera melonggarkan pelukannya saat rasa sakit terjadi di pinggangnya.
"Sakit tau," mengelus pinggangnya.
"Rasain tuh, makannya jangan suka peluk orang sembarangan." Naomi bergegas pergi.
Noah yang seperti biasa mengekori Naomi. Naomi membiarkannya karena semenjak di sini Noah berubah sikapnya menjadi lebih baik dari pada dahulu.
"Biarlah jika itu membuat mas Noah menjadi lebih baik, setidaknya dia tidak akan pergi sesuka hatinya jika aku berucap yang tidak menyenangkan menurut pikirannya." Sambil tersenyum saat memikirkan Noah.
"Mas berhenti disitu ada makhluk kecil melata," Naomi memberi kode.
Seekor ular kecil yang baru menetas masuk kedalam rumah lebih tepatnya di dapur, Naomi yang melihat makhluk sangat kecil mengambil kayu untuk mengusirnya. Noah yang sudah ketakutan hanya menggigit jari, setelah ular kecil itu berhasil di keluarkan Naomi tertawa.
"Aa... haa... haa..., kenapa itu muka," menujuk muka Noah yang basah karena keringat dingin. "Laki-laki ko ada yang seperti ini."
Noah yang masih ketakutan terus mengikuti Naomi bahkan memegang ujung baju Naomi. Naomi segera menepis tangan Noah yang terus saja memegang bajunya yang bagian belakang.
"Aaww... sakit Naomi." Noah segera duduk di atas kursi kayu dan kakinya di angkat ke atas.
Naomi menggelengkan kepala, rasannya tidak percaya seorang Noah Derryl takut dengan makhluk kecil tersebut.
__ADS_1
"Apa sudah aman?" Noah menurunkan kakinnya.
"Kamu bisa lihat sendirikan mas, kenapa masih bertanya!" Naomi segera pergi untuk melakukan pekerjaan rumah yang lainnya.
Noah yang binggung harus bagaimana kini lebih memilih bermain game online hitung-hitung membuang sedikit kuota, namun saat akan bermain game online tidak ada tanda-tanda signal yang muncul.
"Salah beli kartu sim card sepertinnya, saya pasang wifi saja besok dan parabola." Noah tersenyum lalu menemui salah satu body guardnya untuk mengurus semua.
Pagi hari.
Naomi yang merasa aneh dengan rumahnya kenapa banyak orang memasang ini itu.
"Eehhemmm..., mentang-mentang rumahnya sendiri sesuka hati pasang ini itu. Lebih baik saya segera berkemas dari pada kena pajak nantinnya." Naomi beranjak dari hadapan Noah.
Orang-orang yang sedang berkerja merasa malu sendiri melihat keromantisan Noah Naomi.
"Hey lepaskan, malu dilihat orang mas." Memberontak namun percuma Noah tenagannya lebih kuat. Naomi hanya pasrah dengan kelakuan Noah yang mencuri ciuman di pipi dan tengkuknya.
PPLLAAKK.
"Mesum," Naomi segera berlari setelah lepas dari pelukan Noah.
Semua orang terkejut melihat Naomi yang begitu berani dengan Noah Derryl sang pemilik perusahaan kertas terbesar di kota ini. Noah yang merasa di tatap oleh orang-orang yang sedang berkerja langsung melempar tatapan membunuh. Semua langsung menciut nyalinnya tidak ada yang berani berkata satu pun.
__ADS_1
Naomi menyiapkan teh dan kopi untuk minum para pekerja dadakan pagi ini. Setelah selesai Naomi segera keluar rumah untuk membeli gorengan yang ada di warung depan rumah.
"Suami sayang istri ya Naomi, selain tampan kaya pula pemiliki kebun di sini dan juga pemilik perusahaan besar di kota." Ledek salah satu ibu-ibu yang sedang membeli lauk.
"Iya, alhamdulillah," terpaksa tersenyum.
"Nih ibu-ibu biang gosip ternyata, apa tidak ada pekerjaan lain selain menggunjing orang. Memang ya kehidupan di desa dan kota beda 180 drajat, kalau di sini tetangga punya ini atau itu langsung di jadikan bahan gibah sana sini." Naomi membatin sambil tersenyum, walau sebenarnya berkobar-kobar hatinnya.
Setelah membeli gorengan Naomi kembali ke rumah dengan lesu, Noah yang melihat hanya bertanda tanya kenapa wajah Naomi tambah murung dari pada tadi sewaktu belum keluar rumah.
Pemasangan wifi dan parabola susah selesai kini orang-orang susah pergi dan sekarang tinggal Noah dan Naomi yang ada serta beberapa body guard yang berpakaian santai di tempat penjual gorengan.
"Mas kapan kembali ke kota?" Naomi meminum kopi hangatnya.
"Kenapa kamu bertanya seperti itu, saya baru kembali kenapa kamu mengusirku lagi." Noah bergeser dan duduk lebih dekat dengan Naomi.
"Tidak, siapa yang mengusirmu ini kan rumahmu terserah kamu mau di sini seumur hidupmu," Naomi meletakkan cangkir yang baru saja ia kenakan.
"Iya, saya bakalan seumur hidup di sini denganmu saja Naomiku." Rayunya pada Naomi. Naomi yang mendapat ucapan semanis itu menganggapnya hanya angin lewat saja, siapa yang akan percaya dengan bualan Noah.
Hari ini bilang cinta besok tidak kemudian lusa tidak mengakui, mencintai Noah sama saja bagaikan langit dan bumi bagian dalam.
***
__ADS_1