Poisoned Love, NOAH

Poisoned Love, NOAH
14. Rindu


__ADS_3

Setelah selesai menanda tangani kertas kosong tersebut Noah mencari alasan ini itu agar Naomi bisa bersamanya namun sia-sia saja dan yang terakhir juga padahal sudah menyeret perkebunan strawberry namun tidak mempan sama sekali.


"Grandma saya mohon ya, Naomi juga masih harus berkerja di perkebunan," sambil memelas.


"Grandma baru saja mengurusnya dan salah satu body guard kepercayaanmu yang mengerjakannya jadi kamu tenang ya." Shandra tersenyum licik pada Noah.


"Grandma...," rengek Noah pada neneknya.


"Tidak mempan, sesekali anak nakal sepertimu di hukum enak saja mau menang sendiri dan Naomi terluka karena kamu, seharusnya kamu juga bersikap baik seperti Edwin yang tidak pernah macam-macam." Shandra membanggakan cucu satunya yang lain dan berlalu pergi.


"Cihh... grandma tidak tau jika cucu nakal grandma yang satunya lebih parah, bahkan sering suka dengan istri orang." Noah berjalan lesu masuk ke dalam kamar.


Adam yang melihat sang putra bersedih ingin sekali menertawakannya, rasanya ada bahagia tersendiri melihat anaknya yang keras kepala tidak berdaya dengan seorang wanita yang lebih kuat darinya apalagi sang pujaan di tahan. Tawa Adam pecah saat Noah pergi dengan langkah gontai ke kamar.


"Haduh... perutku sampai saakit menertawa kan bocah nakal itu, rasa nya kembali seperti waktu muda dulu." Adam bersender di kursi pijat.


Noah yang berada di kamar berpikir keras untuk bisa menemui Naomi. Sambil memukul-mukul kepala nya agar ide-ide briliantnya muncul namun bukannya muncul pikirannya malah tambah kacau balau.

__ADS_1


"Sial...," Noah menghela nafas panjang.


Naomi yang sedang menonton drama China dengan grandma tertawa saat melihat pemeran laki-lakinya tersungkur ke tanah. Sekelebat ingatan Naomi dan membayangkan jika Noah mengalami nya betapa lucu ekspresi wajah Noah.


"Hey Naomi, apa anak nakal itu selalu menyakitimu setiap hari?" tanya Shandra dengan antusias.


"Tidak grandma, semakin baik saja mas Noah. Bahkan romantis," dengan malu-malu Naomi berucap.


"Ohh... benarkah seperti itu. Kalau begitu grandma kurangi saja hukumannya satu hari." Masih tersenyum.


Tengah malam.


Kebiasaan buruk Noah selalu menyelinap tengah malam melalu jendela kamar, Noah yang sudah mengintai kamar yang Naomi gunakan sesuai pilihan grandma.


"Rindu memang berat, aku bahkan tidak bisa menahannya lagi." Noah mengendap-endap setelah merasa aman Noah masuk.


Mata Noah membulat saat melihat Naomi yang sedang melepas semua pakaiannya, Noah yang melihat ingin sekali menerkamnya.

__ADS_1


"Jangan Noah jangan, jika kamu melakukan nya lagi Naomi pasti akan memusuhi mu bukannya kamu sedang mengambil hatinya lagi." Keluh Noah dalam hati sambil menahan sesuatu yang keras di bawah.


"Naomi," menyapa setelah Naomi selesai berganti pakaian tidur.


"Mas...," dengan terkejut. "Sejak kapan kamu disitu mas," Naomi menujuk tempat Noah berdiri di tengah-tengah jendela.


"Sejak kamu mengganti pakaian," jawab polos Noah. Naomi malu bukan main meski mereka sudah pernah melihat satu sama lain tetap saja ada rasa malu di tubuh Naomi.


"Mesum, keluar gak kalau kamu tidak keluar mas saya bakalan teriak malam-malam seperti ini," sambil membawa kemoceng dan siap memukul badan Noah.


Noah melambaikan tangan nya. "Oke... oke... saya akan keluar tapi satu, beri saya ciuman selamat malam dulu."


"Tidak akan, kalau mas berani menciumku saya lapor kan ke grandma untuk menambah hukuman kamu mas dan saya akan meminta grandma untuk memindah kan saya ketempat yang tidak ada jendelanya." Ancam Naomi bersungguh-sungguh.


"Baiklah saya tidak akan memintanya tapi saya meminta yang lain," Noah langsung mendekat ke arah Naomi dan memberikan ciuman di punggung tangan Naomi. "Bye... bye... saya pergi dulu jangan lupa tidur nanti memimpikan saya." Melambaikan tangan dan keluar melalui jendela lagi.


Setelah kepergian Noah dari kamar, Naomi berpikir dan menerawang apa yang akan terjadi besok, apakah seperti di drama dan beberapa Novel yang pernah ia baca mendadak menikah besok pagi. Naomi segera menghancur kan bayangan yang menari-nari di dalam pikiran saat ini. Setelah banyak berpikir Naomi tertidur karena jam sudah menujuk kan pukul satu dini hari.

__ADS_1


__ADS_2