Poisoned Love, NOAH

Poisoned Love, NOAH
19. Mengungkap kebenaran.


__ADS_3

Siang hari.


Naomi yang baru saja keliling area perkebunan karet hanya menghembuskan nafas panjang saat bertanya apa ada pekerjaan untuk di kebun ini namun nihil hasilnya, Naomi hanya tersenyum saat mendapat tolakan mentah-mentah dari pemilik kebun ini.


Tetapi tidak cuma kebun karet juga kebun teh pun sama sedang tidak membutuh kan karyawan pemetik teh, setelah banyak bertanya kesana kemari Naomi akhirnya pulang dan melurus kan kakinya yang pegal karena naik turun perbukitan di desa terpencil ini.


Alim yang melihat Naomi sedang mengistirahat kan tubuhnya langsung menghampiri, "neng Naomi sudah dapat pekerjaan, tadi ibu bilang kamu mencari pekerjaan?"


"Belum pak Alim, semua tempat tidak membutuh kan orang saat ini karena musim penghujan," Naomi tersenyum.


"Oh ya neng Naomi, di tempat bapak berkerja di pabrik kertas ada lowongan bagian pengepakan saja, di tempat bapak hampir semua menggunakan tenaga manual untuk menyambung hidup desa ini." Jelas pak Alim.


"Saya mau pak,"

__ADS_1


Dan semenjak saat itu Naomi bekerja di pabrik tersebut, Naomi sangat bahagia dan senang dengan pekerjaan barunya tersebut, tetapi beberapa hari ini badanya terasa tidak nyaman untuk berkerja namun Naomi tetap berkerja, ia tidak enak hati karyawan baru sudah ambil cuti.


Saat berada di rumah ia teringat jika bulan ini ia belum mendalati tamu bulanan. Naomi memukul-mukul kepalanya kenapa ia bisa lupa jika sebelum merantau kesini dirinya baru saja di sentuh oleh Noah.


Dea yang merasa curiga dengan Naomi langsung berterus terang bertanya pada Naomi, betapa terkejutnya Dea mendengar semua kisah pilu sedari kecil Naomi dan yang terakhir Naomi bercerita jika dirinya pernah keguguran dan saat ini sepertinya dirinya berbadan dua lagi karena bulan ini ia tidak mendapati tamu bulanan.


"Bu, saya pergi saja dari rumah bapak dan ibu. Saya aib di rumah ini, saya tidak mau melibat kan bapak dan ibu kedalam masalah saya ini," mengusap air matanya yang jatuh berderai.


"Tidak Naomi, kami berdua sudah menganggapmu anak sendiri Naomi, biar orang berkata apa, kamu tetap di sini dan rawat anak ini, dia tiak bersalah Naomi." Bu Dea memeluk erat tubuh Naomi yang bergetar hebat sambil sesenggukan.


Pak Alim yang menyaksikan kejadian ini lidah nya begitu kelu, tidak bisa berkata apa-apa begitu berat cobaan yang di hadapi Naomi sedari kecil, bahkan ketika dewasa pun Naomi masih saja merasa kan kepahitan hidup di usir bahkan ia harus menanggung malu mengandung anak seorang diri, pantas saja jika Naomi merantau ia tidak ingin nanti kedepan nya terjadi hal yang lebih buruk lagi kehidupan nya.


Sore hari.

__ADS_1


Naomi yang merasa kan perutnya yang kram dan sering buang air kecil, Naomi hanya mengelus perut nya berharap rasa sakit di perutnya mereda agar aktivitasnya tidak terganggu.


"Akhir nya selesai juga pekerjaan nya." Menyeka keringat yang mentes sampai lehernya.


Setelah selesai menyapu Naomi masuk ke dalam rumah dan membersihkan diri terlebih dahulu, Naomi menatap jam dinding yang ada di dalam kamar sambil menunggu waktu. Naomi hanya berharap waktu segera berganti, rasanya tidak sanggup hidup seperti ini menderita terus menerus.


Ttookk


Ttookk...


Bu Dea masuk sambil membawakan susu coklat di dalam gelas kecil transparan.


"Minum dulu, meski pun ini bukan susu ibu hamil. Tetapi badan kamu juga butuh gizi apalagi si dia." Menyentuh perut rata Naomi.

__ADS_1


Sebenarnya Naomi sangat tidak nyaman bu Dea menyentuh perut nya meski pun ia sama-sama wanitanya bagi Naomi ini hal pertama ia di sentuh oleh seorang wanita yang tak lain adalah orang yang menolongnya sampai detik ini, bahkan mau menerima wanita seperti ini, mengandung tanpa suami.


Malu pasti ia, tapi bagaimana lagi jika takdir mengaris kan seperti ini. Bahkan anak yang di kandung saat ini tidak salah dan tidak berdosa.


__ADS_2